Kenapa Gontai

Gontai langkahnya, jatuh bahunya. Mengamatinya beberapa langkah dari seberang, dengan leluasa.

Menjadi kegiatan rutin hampir setiap hari, enam dalam tujuh. Dia datang di awal waktu. Seperti biasa, menaruh tas di kelas dan segera keluar entah kemana. Aku berdiri dekat papan tulis, melihatnya keluar dari arah lorong. Langkahnya gontai, bahunya jatuh. Biasanya, tiap mengamati aku hanya akan mendapatkan hal yang menguatkan rasa tak suka padanya. Entah lagaknya, entah kata meremehkannya pada yang lain. Kali ini, pandangannya tertunduk, lambat sekali langkahnya. “Dia kenapa?”. Hanya ingin tahu. Lain sekali ia hari ini. Sejak awal hingga jam terakhir pelajaran, tak banyak bicara dengan teman-temannya. Ya mesti tetap menggabungkan diri kongkow bersama, tapi dia tak di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s