Maaf Menyesal

Menyesal, menjadi satu hal utama titik balik untuk kembali. Kurasa dapat ku pahami. Berkaitan dengan permintaan maaf yang kadang bagi sebagian orang dapat terucap walau dengan bersusah payah, dan sebagian lagi tak bisa mengucapkannya walau telah diujung lidah untuk waktu yang lama. Berbeda dengan kembali (taubat) dalam hal urusan hamba dengan Rabbnya. Bagaimanapun, walau tak terucapkan maka pasti Sang Rabb Yang Maha Mengetahui tahu, apakah itu menyesal sebenar-benar menyesal dan bertekad tak akan mengulangi, menyesal tapi tak bertekad tak akan mengulangi, menyesal sesaat atau menyesal main-main. Sang Rabb Maha Mengetahui. Pun Sang Raab tak butuh entah hambanya menyesal atau tidak sama sekali. Tentu saja sangat berbeda dengan manusia yang tidak dapat membaca hati dan apa yang dipikirkan manusia lain. Butuh sesuatu yang dinampakkan wujudnya. Entah menyesal dalam bentuk mengakui bersalah, permintaan maaf, atau mengkompensasinya dengan banyak berbuat baik pada orang yang seharusnya dimintai maaf tersebut.

Mungkin memang belum dapat tergolong pemaaf, rasa-rasanya masih tak lapang saat orang yang pernah berbuat salah tak sedikit jua mengerti bahwa ia pernah menyakiti atau merugikan. Sebelumnya juga pernah ku singgung perihal maaf memaafkan ini pada postingan lalu (maaf). “Urang ko amuah (mudah) mamaafkan kok kabuik lakek di bajunyo. Tapi kok lah jatuah, kanai lanyah sudah tu taimpik lo yo agak payah stek”.

Coba resapi ya. Bertahun-tahun yang lalu ada sebuah kejadian yang sungguh membuat nanar pikiranmu. Kamu tak berperan sebagai pelaku hanya saja sebagai terdampak. Bertahun-tahun dampaknya masih sangat terasa bahkan mungkin tak satu malampun di tahun-tahun pertama yang tidak terlewati dengan tangisan hening. Tidak ada ruang untuk protes sebab kamu tahu mungkin memang seharusnya demikian. Kamu terima dan coba memaafkan. Namun jauh bertahun-tahun pula setelah kejadian itu kamu bertemu dengan pelaku yang berulang-ulang kali dengan angkuhnya berujar bahwa dia lah korban bukan pelaku, menempik sama sekali dampak yang kamu rasakan. Hanya dia yang menderita dan kamu karena bukan sebagai pelaku apapun di sana waktu itu, dianggap tidak tahu apa-apa dan tidak merasakan apa-apa. Sekali dua kali, mungkin dia khilaf. Namun berlanjut dan sontak membuat gudang yang telah berusaha ditata rapi menghamburkan diri. Mengambang lagi memori tentang kejadian itu. Apa yang terjadi, apa yang kamu rasakan, apa yang kamu pikirkan dan bagaimana kamu melihat dunia di luar dirimu. Teringat jelas rasa seperti melihat film yang diputar, bagaimana menjadi kamu di tahun-tahun pertama setelah kejadian. Dengan kata lain mempertanyakan kembali, “Apakah benar aku sudah memaafkan? Jika sudah, lalu kenapa saat dia demikian sekarang terasa sangat menyakitkan?” atau “Apakah aku sebenarnya orang yang pendendam?” atau “Apakah selama ini aku membohongi diri sendiri bahwa aku sudah memaafkan?”. Sakit sekali rasanya, bahkan hingga terpikir, “Apakah orang yang seperti ini pantas dimaafkan?”.

Lama kelamaan tak peduli lagi, tak bersitungkin lagi hendak menyusun gudang yang telah membongkar dirinya kembali. Aku biarkan tergetak, tak dipaksakan untuk rapi kembali. Marah sekali padanya karena tak mengakui kesalahan tapi terlebih lagi karena ia memporak-porandakan lagi hati dan pikiran yang telah berdarah-darah rasanya berupaya damai. Tak hendak lagi bicara terkait itu dengannya, jika ia ingin silahkan saja menceracau, aku tak peduli lagi. Hanya saja, sakit sekali rasanya sakit sekali.

Merasakan ini, aku rasanya mengerti bahwa untuk kembali (taubat) memang yang utama adalah menyesal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s