Diam Bercerita

Seluruhnya mengabur, hanya terpaku pada matanya. Beku. Bertubi-tubi perintah untuk mengalihkan pandang tak terhiraukan sebab matanya memegang erat. Tak terasa perlahan jatuh setetes dari mata kiriku. Entah mengapa. Rasa-rasanya ia menyampaikan cerita teramat sangat sedih lewat matanya dan aku seolah mengerti. Dia sama sekali tak bergeming dari posisi duduk di depanku. Hingga aku menangispun wajahnya tak bergeming.

Seketika, goyangan pada kursi menyentakkannku. Sadar dan baru terpikir untuk memberinya minum. Semoga tersampaikan turut duka ku dengan itu, yang entah apa. Pergi ke dapur dan membawakannya segelas air. Beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka.    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s