Hujan

Hujan. Terlalu anggun untuk dibenci. Walaupun harus pontang panting mengangkat jemuran. Walaupun harus menunggu lama berteduh hingga reda, walaupun genangan air sana sini. 

Menyenangi hujan bukan karena saat ia turun turut serta membawa kenangan. Oh tentu bukan. Menyenangi hujan karena dia turun turut serta dengan alunan nada yang syahdu. Tenang menenangkan. Ia mengudarakan aroma tanah, rumput, jalanan dan kawan-kawannya. Aroma yang menenangkan. Aku menyukainya bukan karena kenangan, tapi karena dia menjadi salah satu waktu sabab diijabahnya do’a. Mataku senang melihatnya karena ia begitu memukau. Aku menyenanginya karena ia adalah hujan.

Tapi hujan acapkali membuatku galau. Mempertengkarkan antara ingin menikmatinya dan harus dewasa. Aku tahu berjalan di bawah hujan tanpa payung itu sangat menyenangkan, tapi ku juga tahu akan basah. Aku tahu menjentikkan kaki di genangan hujan itu seru, tapi ku juga tahu akan kotor. Aku paham saat berjalan di bawah hujan itu terasa seakan dunia milikmu, tapi ku juga tahu orang lain akan melihat. Tahu saat menikmati hujan itu aku akan merasa jadi yang paling bahagia tapi juga tahu aku bukan anak-anak lagi. Pada akhirnya pun acapkali ssesuatu dalam kepalaku berteriak, “Behave Sa!”. “Ok, fine!”, menggerutu.

D I B O H O N G I

Bohong, salah satu dari sekian banyak kata yang tak disukai. Namun semakin ke sini rasa-rasanya ada jalan lain untuk melihatnya. Tak serta merta tak suka, bisa juga kecewa, sedih, tapi setidaknya bisa jadi antisipasi diri serta gambaran bagaimana berlaku diperlakukan. 

Kamu pernah berbohong? Dibohongi? Jawablah 😁 Kalau aku, dibohongi pernah disamping pernah berbohong (entah mungkin lebih banyak). Eh tapi terkadang bohong dan tak menyampaikan yang sebenarnya sudah saling bergelinca saja. Padahal ada bedanya, yaaaa barang sedikit. Bohong ~ menyampaikan yang tak sebenarnya. Tak menyampaikan yang sebenarnya ~ menyampaikan sesuatu tapi tak sampai-sampai pada yang sebenarnya. Hmm, misal: *sebenarnya: tadi pagi ke pasar, bertemu kawan, singgah ke toko buku, membeli beberapa alat tulis, minum aia tawa lalu pulang. *bohong: tadi siang ke Rumah Sakit menjenguk teman, sebelum pulang ke pasar dulu beli buku. *tak menyampaikan yang sebenarnya: tadi pagi ke pasar membeli alat tulis, minum aia tawa lalu pulang. 

Ada perbedaanya walau selayang. Kadang karena pernah berbohong dan saat tau dibohongi, aku menerka-nerka penyebabnya kenapa. Sebab saat kuberbohong juga ada alasannya. Apakah ia berbohong karena sedang ingin berbohong atau karena aku yang menyebabkan ia bohong?

Aku kecil sering berbohong dan atau bergelinca dengan tak menyampaikan yang sebenarnya pada beberapa orang dewasa. Bagi aku kecil, berbohong bukanlah perkara mudah. Bohong butuh pertimbangan, ingatn yang kuat, kerjasama dengan berbagai emosi (pernah nonton Lie To Me?). Lalu apa?

Hm, untuk kita yang dibohongi kadang boleh juga sesekali diresapi bayang diri. Apa terlalu banyak menuntut, jarang mau mendengarkan apalagi mau mengerti. Apa kerap membuat orang lain merasa terintimidasi? Nan ka lamak di awak saja? Kalau benar demikian, bisa jadi dia berbohong dipicu karena kita sendiri. Ya di samping ada juga orang yang tanpa dipicu dia akan tetap berbohong sebab telah bergelimang terbiasa.

Trust, mau mendengarkan dan mau mengerti. Ini sedikit dari sekian yang penting. Dalam hubungan yang bagaimanapun. Orang tua anakkah, teman temankah, pasangankah, kakak adikkah, aradan bawahankah dan sebagainya.

Aku tak mengatakan kita jadi penyebab untuk setiap kebohongan. Bukan. Tapi bisa jadi ada yang berbohong karena dipicu kita. Tahu dibohongi itu tak enak rasanya. Lain kalau tak tahu. Jadi kalau bisa diperbaiki, baguslah.

Untuk yang akan berbohong dan dibohongi. Boleh jadi sekarang berbohong, tapi nanti akan juga merasakan bagaimana itu dibohongi.

  

Hanya (boleh) dengan Jujur

Jika kau datang hanya saat kau bisa, tak sama sekali bermasalah untukku. Jika kau bicara hanya saat kau ingin, itu juga tak masalah. Walaupun ini dan walaupun itu. Jika kau menatapku hanya saat kau mau, tak apa-apa. Bagiku, tidak akan masalah selama engkau melakukan apa yang ingin kau lakukan. Bagiku tak akan masalah sejauh kau tak apa-apa. Aku tak ingin menuntut, tak ingin memaksa, tak ingin membebanimu, maka jadilah dirimu sendiri. Hanya saja aku ingin kita melangkah ke yang lebih baik setiap waktunya, sambil tetap saling menggenggam. Kau takkan tahu betapa berharganya kamu bagiku. Aku sendiripun tak menemukan kata untuk membahasakan. Jangan menderita karenaku, jangan terluka karenaku, jangan. Kau boleh mencintaiku dan hanya boleh mencintaiku dengan jujur.  

Kepingan Puzzle

Tak ada satupun orang di rumah ini yang memberitahu kami, setidaknya aku sebagai sulung tentang apa sebenarnya yang terjadi. Mereka hanya menjawab, “semua akan baik-baik saja” atau “tidak ada apa-apa” untuk setiap pertanyaan. Berusaha menutupi ataukah berusaha membuat kami tak khawatir, namun nyatanya dengan sikap yang demikian aku semakin tahu dan semakin khawatir. Orang dewasa kadang memang sok tahu dan itu menyebalkan. Aku curiga, sebenarnya mereka khawatir akan kami atau justru hanya khawatir pada diri mereka sendiri? Khawatir kami akan terluka atau khawatir kami hanya akan membebani mereka? Orang dewasa memang seperti itu, bisa membolak balik yang sederhana menjadi rumit, yang rumit tambah rumit. Mereka pintar merumitkan segala sesuatu.

Tidak banyak bicara menurutku adalah satu-satunya cara agar bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tidak bertanya lagi, karena ku tahu mereka takkan pernah menjawab jujur atau bahkan mengerti apa yang kutanyakan. Tak bersuara lagi, entah itu komentar, pendapat, saran, kritik, apapun karena ku tahu mereka takkan pernah memandang itu sebagai suatu yang bernilai keberanian, kepedulian dan tanggung jawab. Secara tidak sadar mereka membuatku bisu, muak dan benci bicara. Mereka juga membuatku lumpuh karena mencoba mengontrol (mengendalikan) segala sesuatunya. Tak membiarkanku tumbuh menjadi manusia normal, utuh. Mengizinkanku berpikir dan memutuskan, mengizinkanku bertindak dan bertanggung jawab, mengizinkanku bereksperimen dan menanggung risiko. Mereka tak mengizinkanku bebas, sesungguhnya. Lama, sangat lama. Hingga ku lupa bagaimana rasa dan caranya bebas.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Sampai sekarang aku tak tahu pasti apa yang telah terjadi. Semuanya bagai puzzle, setiap informasinya menjadi kepingan-kepingan puzzle. Hingga detik ini puzzlenya belum utuh, namun aku telah tahu ia akan membentuk, menunjukkan suatu rangkaian yang seperti apa. Tak lagi terobsesi untuk menjadikannya utuh, sebab aku tahu aku tak punya hak untuk memaksakendalikan sesuatu. Di samping itu semua, sesungguhnya aku takut, akan terbongkar, terlihat bagaimana sesungguhnya atau hanya kekhilafan orang-orang yang harusnya ku hormati, cintai, sayangi dan jadikan nyawa hidup. Aku takut yang seharusnya itu menjadi semu belaka. Takut, bahwa aku akan membenci mereka. Ya, mungkin itulah sebab puzzle itu kubiarkan tergeletak tak diselesaikan. Aku takut akan menemukan alasan kuat untuk membenci mereka, sungguh-sungguh membenci mereka. Pengecut!

Sesungguhnya ada satu hal yang mereka lupa atau bahkan tak tahu tentang diriku. Aku sendiripun belakangan mulai menyadari. Sikap dan apa yang mereka lakukan padaku menciptakan sesosok monster dalam diriku. Monster yang terkadang membesar dan mengecil, yang terkadang tak terkendali dan terkendali, yang kadang menguasai dan dikuasai. Aku yang sekarang telah tumbuh seperti ini, tak bisa dan tak juga boleh menyesali yang sudah terjadi. Benarlah jika ada yang mengatakan bahwa manusia itu mempunyai kecenderungan untuk baik dan buruk. Aku percaya itu, sebab aku sendiripun demikian. Namun di atas semua itu, aku jadi lebih mengenal diriku, mengenal Tuhanku. Dan kupikir, itu adalah harga yang setimpal, atau jika boleh kusebut itu pengorbanan, itu pengorbanan yang setimpal. Aku yang sekarang, aku yang hidup dengan monster dalam diriku namun bagaimanapun itu, aku mempunyai Tuhan yang aku yakin takkan pernah tinggalkan aku sendiri, takkan pernah menzalimi, takkan pernah menyia-nyiakan. Aku telah kehilangan segala yang dulu sangat kubanggakan, yang bahagia dan sedihku terletak padanya, yang rasa hidup dan matiku tergantung padanya, yang keinginan berjuang dan menyerahku ada pada wajahnya. Aku kehilangan itu semua walaupun mereka tak hilang. Aku kehilangan mereka yang dulu kurasakan saat ada mereka sebagaimana di atas. Atau jika mereka dikenyataannya tidaklah hilang, aku memilih untuk menghilangkan mereka sebagai tempat ketergantungan. Aku memaafkan (dan semoga juga dimaafkan), karena begitu damai dengan memaafkan, begitu lapang serta begitu kuat. Namun bukan berarti dengan telah memaafkan akan kugantungkan lagi apa-apa yang telah kugantungkan. Aku tak ingin kecewa lagi, karena kutahu jika ada keinginan sedikit saja untuk kembali tergantung, aku akan kecewa, terkecewakan, dikecewakan. Telah pernah merasakannya, membuatku enggan untuk lagi mencoba. Telah pernah merasakannya, membuatku paham teramat sangat sakit lukanya, lama sembuhnya hingga semampunya takkan demikian pada orang lain. Sekarang, aku yang seperti ini (semoga) hanya mengantungkan segala sesuatunya pada satu tempat. Aku yang seperti ini, sekarang tak mempunyai dan membutuhkan apa-apa lagi selain satu hal. Sekarang, aku yang seperti ini jika terlihat terpengaruh, bergantung pada sesuatu ataupun melakukan sesuatu karena sesuatu, itu (semoga) hanyalah karena yang satu itu. Aku mempercayakan langkahku padanya, mempercayakan segala yang kupunya padanya, mempercayakan segalanya padanya. Sebab aku tahu, takkan pernah kecewa. Dia yang satu itu mencintai dan menjagaku dengan sebaik-baik cinta dan sebaik-baik penjagaan.

Aku kecil yang membesar

Imaji yang (me) Nyata

Pernahkah kamu mempunyai sesosok tokoh imajiner? Me-imaji sesosok tokoh? 🙂

Kali ini biarkan aku bercerita tentang dia ya, sesosok tokoh imajinerku. Actually, 2 sosok.

Dulu, dulu sekali sewaktu SD sebagaimana beberapa teman lain, juga ingin rasanya menjadi adik dari seorang abang. Ya, walaupun memang tidak mungkin tapi tetap direalisasikan dengan tokoh imajiner yang tersimpan rapi. Saat bisa me imajikannya, sungguh sangat ku syukuri karuniaNya satu itu. Amat membantu untuk tidak dengki dengan yang orang lain punya. Setiap waktunya aku tumbuh, bertumbuh pula setiap detail ‘si abang’. Dan itu membuat dia mendekati nyata. (Ingin) Dia melindungi, maksudnya ada saat aku terancam, penampilan luarnya santai, dalaman perhatian, pintar, taat, sopan dan pandai bergaul, tak sungkan berbagi denganku tentang hal-hal yang beraroma maskulin, menegur saat aku salah dan lain sebagainya. Memang dalam perjalanan waktunya aku dapati satu atau dua setail melekat pada beberapa orang. Hanya tetap saja tak terasa ter-nyata-kan. Terkadang, aku berupaya agar sosok itu ada dengan cara melekatkan detail pada diri sendiri. Hingga sekarang, mungkin telah berbelas tahun sejak pertama mengimajinya hingga terlupa (kadang) pernah membuat sosok itu ada. Beberapa tahun lalu, aku bertemu seseorang yang nyaris serupa dengan detailku. Tak ada lain selain syukur dan bahagia menemukan sosok demikian yang tak hanya sekedar bisa diimajikan, namun juga nyata.

Sekali waktu aku bertemu sesosok ayah dengan detail ‘si abang’ miliki. Aku hanya sekali lagi bersyukur sebab ia yang nyata ini ternyata ‘lebih sempurna’ dari abang imajiner. Barangkali itulah sebabnya saat pertama kali bertemu ‘mereka’ yang di dunia nyata ini, aku serasa telah mengenal lama. Biati dengan segala sesuatu tentang mereka.

image

Aku yang sebelumnya tak pernah berharap akan bertemu sosok nyata dari imajiku, Dia pertemukan. Membuatku tersentak malu sekaligus syukur. Malu sebab meragukan benarkah ada seseorang yang ideal di kehidupan nyata? Syukur sebab ternyata banyak orang-orang ideal (baik, keren) yang sangkaku hanya imajiner, tersuruk di luasnya kenyataan.

Belajar (men) Cinta (i)

Aku selalu bertanya-tanya perihal cinta dari dulu hingga sekarang bahkan mungkin nanti. Bagaimana ia bisa tercipta, hubungan sebab akibat yang bagaimana, apa makna sebenarnya, bagaimana wujudnya, pada apa-apa saja ia akan datang? Lain sebagainya dan lain sebagainya.

Banyak tempat untuk mempelajarinya. Bermula dari ayah dan ibu serta keluarga, tingkah laku hewan, guru dan murid, teman dan teman, alam dan alam serta Pencipta dan ciptaanNya. Sampai pada ujungnya teramatilah semua berhulu-muara ke mana. Di samping itu aku sebagai manusiapun tentu juga mencinta dengan beragam wujudku. Mencinta sebagai seorang anak, kakak, teman, murid, cucu, perempuan dan seorang hamba. Dari beragamnya wujudku mencintai, beragam pula rasanya. Berkaca pada itu, ternyata aku bisa memiliki rasa cinta yang berbeda-beda tekanannya dan tergambar jugalah di sana kemampuanku mencinta. Sebagai apapun wujudku, masih harus selalu ditingkatkan, diasah lagi yang demikian.

Dia berhulu-muara pada sesuatu. Yakni Pencipta dan ciptaanNya, bukan sebaliknya. Jika ingin mempelajari cinta, pelajari pada sesuatu itu. Akan terlihat, terasalah bagaimana cinta yang tulus yang tanpa pamrih, cinta yang dengan sangat murah hati, cinta yang . . . kehabisan kata-kata. Cinta yang tak hiperbola dengan syair, cinta yang jujur, nyata.

image

Bersalah, tak lantas saat itu juga Ia balasi hukuman. Ia (selalu) beri kesempatan untuk memperbaiki. Bersalah lagi, minta maaf lagi, bersalah lagi, minta maaf lagi. Bagaimanapun Ia akan selalu memaafkan jika dimintai maaf.

Lupakan Dia tak lantas membuatnya membalas setimpal. Dia tetap perintahkan matahari terbit untukmu, alam bekerja untukmu, jantung berdetak untukmu, lain sebagainya dan lain sebagainya.

Tak meminta (berdoa) pun Ia selalu memberi. Bahkan jika meminta, akan diberi melebihi yang dipinta. Bolehkah dirunut, apakah pernah meminta agar esok hari Dia terbitkan matahari lagi? Esok hari Dia detakan jantung lagi? Esok hari Dia izinkan organ-organ tubuh bekerja lagi? Pernahkah? Lalu bagaimana bisa terucap kalimat, “Dia tak adil, tak sayang, tak cinta?”. Sementara jikalau Ia hanya memberi apa yang hanya diminta, tamatlah. Hanya meminta rezeki melimpah tapi lupa meminta agar jantung kembali didetakan. Masihkan berpikir Dia tak baik, tak adil, tak menyayangi?

Lalu bandingkan cinta-cinta yang lain dengan cinta Pencipta dan ciptaanNya. Adakah yang menandingi, adakah yang melebihi?

Aku Menyayangimu Itu Saja

Rasanya ingin sekali menampar kata-katamu
Apa daya
Hanya sengau angin sebab ia tak dalam wujud yang bisa kulihat
Ia masuk ke telinga dan menggerogoti seluruh tubuhku

image

Sungguh benci pada diri sendiri yang dengan lalainya mengizinkan kata-katamu mempengaruhi
Aku memaki dan bertanya-tanya
“Kenapa tak bisa kuabaikan kata-kata darimu sementara bisa kulakukan pada kata-kata dari banyak orang lain?”
Benci
Aku butuh waktu untuk merunut jawabnya
Ketika berujung pada kenyataan bahwa “Aku menyayangimu”
Itu saja
Namun tetap saja sakit rasanya
Melihat dan mendengar dengan mata dan telinga sendiri sisi lain dari orang yang disayangi yang selama ini tak kunjung nyata terbukti
Walau untuk waktu yang lama ku rasa aku telah mengetahuinya