Hanya (boleh) dengan Jujur

Jika kau datang hanya saat kau bisa, tak sama sekali bermasalah untukku. Jika kau bicara hanya saat kau ingin, itu juga tak masalah. Walaupun ini dan walaupun itu. Jika kau menatapku hanya saat kau mau, tak apa-apa. Bagiku, tidak akan masalah selama engkau melakukan apa yang ingin kau lakukan. Bagiku tak akan masalah sejauh kau tak apa-apa. Aku tak ingin menuntut, tak ingin memaksa, tak ingin membebanimu, maka jadilah dirimu sendiri. Hanya saja aku ingin kita melangkah ke yang lebih baik setiap waktunya, sambil tetap saling menggenggam. Kau takkan tahu betapa berharganya kamu bagiku. Aku sendiripun tak menemukan kata untuk membahasakan. Jangan menderita karenaku, jangan terluka karenaku, jangan. Kau boleh mencintaiku dan hanya boleh mencintaiku dengan jujur.  

Imaji yang (me) Nyata

Pernahkah kamu mempunyai sesosok tokoh imajiner? Me-imaji sesosok tokoh? 🙂

Kali ini biarkan aku bercerita tentang dia ya, sesosok tokoh imajinerku. Actually, 2 sosok.

Dulu, dulu sekali sewaktu SD sebagaimana beberapa teman lain, juga ingin rasanya menjadi adik dari seorang abang. Ya, walaupun memang tidak mungkin tapi tetap direalisasikan dengan tokoh imajiner yang tersimpan rapi. Saat bisa me imajikannya, sungguh sangat ku syukuri karuniaNya satu itu. Amat membantu untuk tidak dengki dengan yang orang lain punya. Setiap waktunya aku tumbuh, bertumbuh pula setiap detail ‘si abang’. Dan itu membuat dia mendekati nyata. (Ingin) Dia melindungi, maksudnya ada saat aku terancam, penampilan luarnya santai, dalaman perhatian, pintar, taat, sopan dan pandai bergaul, tak sungkan berbagi denganku tentang hal-hal yang beraroma maskulin, menegur saat aku salah dan lain sebagainya. Memang dalam perjalanan waktunya aku dapati satu atau dua setail melekat pada beberapa orang. Hanya tetap saja tak terasa ter-nyata-kan. Terkadang, aku berupaya agar sosok itu ada dengan cara melekatkan detail pada diri sendiri. Hingga sekarang, mungkin telah berbelas tahun sejak pertama mengimajinya hingga terlupa (kadang) pernah membuat sosok itu ada. Beberapa tahun lalu, aku bertemu seseorang yang nyaris serupa dengan detailku. Tak ada lain selain syukur dan bahagia menemukan sosok demikian yang tak hanya sekedar bisa diimajikan, namun juga nyata.

Sekali waktu aku bertemu sesosok ayah dengan detail ‘si abang’ miliki. Aku hanya sekali lagi bersyukur sebab ia yang nyata ini ternyata ‘lebih sempurna’ dari abang imajiner. Barangkali itulah sebabnya saat pertama kali bertemu ‘mereka’ yang di dunia nyata ini, aku serasa telah mengenal lama. Biati dengan segala sesuatu tentang mereka.

image

Aku yang sebelumnya tak pernah berharap akan bertemu sosok nyata dari imajiku, Dia pertemukan. Membuatku tersentak malu sekaligus syukur. Malu sebab meragukan benarkah ada seseorang yang ideal di kehidupan nyata? Syukur sebab ternyata banyak orang-orang ideal (baik, keren) yang sangkaku hanya imajiner, tersuruk di luasnya kenyataan.

Belajar (men) Cinta (i)

Aku selalu bertanya-tanya perihal cinta dari dulu hingga sekarang bahkan mungkin nanti. Bagaimana ia bisa tercipta, hubungan sebab akibat yang bagaimana, apa makna sebenarnya, bagaimana wujudnya, pada apa-apa saja ia akan datang? Lain sebagainya dan lain sebagainya.

Banyak tempat untuk mempelajarinya. Bermula dari ayah dan ibu serta keluarga, tingkah laku hewan, guru dan murid, teman dan teman, alam dan alam serta Pencipta dan ciptaanNya. Sampai pada ujungnya teramatilah semua berhulu-muara ke mana. Di samping itu aku sebagai manusiapun tentu juga mencinta dengan beragam wujudku. Mencinta sebagai seorang anak, kakak, teman, murid, cucu, perempuan dan seorang hamba. Dari beragamnya wujudku mencintai, beragam pula rasanya. Berkaca pada itu, ternyata aku bisa memiliki rasa cinta yang berbeda-beda tekanannya dan tergambar jugalah di sana kemampuanku mencinta. Sebagai apapun wujudku, masih harus selalu ditingkatkan, diasah lagi yang demikian.

Dia berhulu-muara pada sesuatu. Yakni Pencipta dan ciptaanNya, bukan sebaliknya. Jika ingin mempelajari cinta, pelajari pada sesuatu itu. Akan terlihat, terasalah bagaimana cinta yang tulus yang tanpa pamrih, cinta yang dengan sangat murah hati, cinta yang . . . kehabisan kata-kata. Cinta yang tak hiperbola dengan syair, cinta yang jujur, nyata.

image

Bersalah, tak lantas saat itu juga Ia balasi hukuman. Ia (selalu) beri kesempatan untuk memperbaiki. Bersalah lagi, minta maaf lagi, bersalah lagi, minta maaf lagi. Bagaimanapun Ia akan selalu memaafkan jika dimintai maaf.

Lupakan Dia tak lantas membuatnya membalas setimpal. Dia tetap perintahkan matahari terbit untukmu, alam bekerja untukmu, jantung berdetak untukmu, lain sebagainya dan lain sebagainya.

Tak meminta (berdoa) pun Ia selalu memberi. Bahkan jika meminta, akan diberi melebihi yang dipinta. Bolehkah dirunut, apakah pernah meminta agar esok hari Dia terbitkan matahari lagi? Esok hari Dia detakan jantung lagi? Esok hari Dia izinkan organ-organ tubuh bekerja lagi? Pernahkah? Lalu bagaimana bisa terucap kalimat, “Dia tak adil, tak sayang, tak cinta?”. Sementara jikalau Ia hanya memberi apa yang hanya diminta, tamatlah. Hanya meminta rezeki melimpah tapi lupa meminta agar jantung kembali didetakan. Masihkan berpikir Dia tak baik, tak adil, tak menyayangi?

Lalu bandingkan cinta-cinta yang lain dengan cinta Pencipta dan ciptaanNya. Adakah yang menandingi, adakah yang melebihi?

Aku Menyayangimu Itu Saja

Rasanya ingin sekali menampar kata-katamu
Apa daya
Hanya sengau angin sebab ia tak dalam wujud yang bisa kulihat
Ia masuk ke telinga dan menggerogoti seluruh tubuhku

image

Sungguh benci pada diri sendiri yang dengan lalainya mengizinkan kata-katamu mempengaruhi
Aku memaki dan bertanya-tanya
“Kenapa tak bisa kuabaikan kata-kata darimu sementara bisa kulakukan pada kata-kata dari banyak orang lain?”
Benci
Aku butuh waktu untuk merunut jawabnya
Ketika berujung pada kenyataan bahwa “Aku menyayangimu”
Itu saja
Namun tetap saja sakit rasanya
Melihat dan mendengar dengan mata dan telinga sendiri sisi lain dari orang yang disayangi yang selama ini tak kunjung nyata terbukti
Walau untuk waktu yang lama ku rasa aku telah mengetahuinya

Si Muncung yang Berkomentar Menilai dan Menghakimi

Hatiku bergidik ngeri saat mendengar ujung sebuah percakapan beberapa orang tua yang seangkot denganku. “Ka bakarik jo sianyo?”. “Jo keluarga si Ano tu a, si @##%**# paja pamaneh pamain tangan tu a”. “Onde garik lo wak nyo mandanga tu. Kok samo men anak jo apak beko baa ka aka du. Nan padusi ko lunak nampak di wak”. Hadeuh, harusnya memang tak di dengar, tapi baalah bukannya di- tapi ter-.

Ada yang menggelegak di dalamku. Ketidaksukaan? Ya, ketidaksukaan. Aku merasakan ada pergerakan di wajah. Ah, ini memang kelemahan! Tak bisa mengontrol ekspresi wajah di detik-detik awal. Coba ya, apa yang salah dengan anak bujang si paja? Dia dihakimi atas sesuatu yang bukan kesalahannya? Op sudah, kesal sangat. Terlepas dari kemungkinan si bujang berperangai sama dengan si paja ada, tapi kan juga ada kemungkinan untuk tidak sama. Ah, ibu-ibu ini memang asal melantong saja.

Asal melantong jugakah jika ada yang bilang, “Apaknyo lai Aji, pi anaknyo. . .”, atau “Adiak Aji, akak bulubaji”. Ataupun asal melantong-melantong lain. Memang ya, semua orang yang punya muncung bisa berkomentar, bisa menilai. Tapi mereka kadang lupa, orang lain juga punya muncung.

Apakah adil menisbahkan keburukan seseorang pada seorang lain? Sekalipun itu keluarga? Kita tak tahu seberapa bakuhampeh, basitojeh, kerasnya usaha seseorang agar keluarga atau orang terdekatnya menjadi baik. Sebab terkadang, betapapun seseorang ingin dan berusaha agar salah satu anggota keluarganya menjadi baik, saulah, hasil akhirnya ada pada Sang Pemilik Hati. Ia yang tahu siapa yang berhak menerima hidayah dan Ia pulalah yang berhak memberiNya. Itu sesuatu yang mutlak.

Bagi yang dengan ringannya berkomentar menilai, belum tentu pula jika ia diamanahi anggota keluarga yang tangka, mada, katimbalang atau apalah istilahnya, bisa memperbaiki bisa mengontrolnya. Sebagaimana kata orang tua-tua, “Sadonyo lah sudah lo dek Tuhan”.

Jangankan kita manusia biasa, apa yang terjadi pada manusia pilihanpun semisal Nabi Lut~istrinya, Nabi Nuh~anaknya, Nabi Ibrahim~ayahnya, Nabi Muhammad~pamannya, bisa dijadikan pelajaran bahwa seseorang tak punya kemampuan untuk memastikan orang lain menjadi baik. Itu hak mutlak Allah. Sebagaimana manusia-manusia pilihan tadi, apakah ia buruk sebab tak bisa mengajak menjadikan anggota keluarganya baik? Tidak tentunya. Jadi jangan mudah menghakimi.

image

Sungguh, bisakah terlihat hikmah dari ini? Jikalau baik saja seluruh anggota keluarga dari suatu garis keturunan, atau jikalau tangka saja seluruh anggota keluarga dari suatu garis keturunan, maka baik dan buruk akan mengeksklusif dengan sendirinya. Bisa jadi ada orang yang seumur hidup tak tahu mana yang buruk, juga bisa jadi ada orang yang seumur hidup tak tahu mana yang baik. Jikalau demikian, tak adalah sarana menyebarluaskan yang baik, sarana berdakwah, ujian dalam wujud keluarga. Bukankah dari disajikannya yang buruk, tahulah yang baik itu bagaimana? Sementara belum tentu jika disajikan yang baik diketahui itu bagaimana yang buruk.

Selain itu, selalu terbukalah kemungkinan berubah seorang yang tangka menjadi saulah, bulubaji menjadi baik, keras hati menjadi lembut hatinya, yang hatinya belum tersentuh petunjuk menjadi ditunjuki hatinya, ataupun sebaliknya.

Allah itu Maha Adil, hanya dalam pandangan manusia saja segala sesuatu terlihat timpang-timpang. Sekali lagi, jangan terlalu ringan untuk berkomentar, menilai atau menghakimi wahai muncung(ku).

Tetaplah Menjadi Kenangan Sesuai Porsinya

Bagaimana bisa aku melupakan sementara aku tahu, aku tak mau kau hilang. Barangkali itulah yang menjadi sumber penyakit tak terdeteksi selama ini. Selalu ingin mengenangmu. Ada yang berbeda di setiap waktu ku mengenang. Untuk saat ini aku bisa melihat caraku mengenangmu sebagai sesuatu yang harus kusyukuri. Bersyukur telah dipertemukan dengan orang sepertimu. Bersyukur mengetahui bahwa orang sepertimu memang benar-benar ada. Bersyukur karena telah bisa melihatmu nyata, bukan sebagai seorang yang benar-benar asing, walaupun masih asing.

image

Terima kasih telah menyapa, berbicara, melihat dan menatap. Terima kasih telah perbolehkanku mendengar, izinkanku melihat dalam mata(mu). Sekarang mungkin aku akan lebih damai dengan cara pandang seperti ini. Sedikit demi sedikit kau rela ku lepas agar bisa membayangi siapapun dan kapanpun. Benar, aku masih tak ingin melupakan, tapi juga takkan memaksa untuk selalu mengenangmu.

Jika kau akan hilang, maka hilanglah dengan tidak menyakitkan. Jika kau akan terlupakan, maka lupalah tanpa aku harus melupakan. Tetaplah menjadi kenangan, sesuai porsinya.

Imaji Sebuah Anugerah

Salah satu dari tak terhingganya anugerah menurutku, adalah kebolehan berkhayal. Dengannya kita bisa mengadakan yang tak ada. Dengannya kita bisa memperkirakan berbagai kemungkinan sebab akibat. Dengannya kita bisa melakukan apa yang tak bisa, belum, dan akan kita lakukan. Dengannya kita bisa memanipulasi emosi. Serta ada satu hal dari berkhayal yang sangat menakjubkan, yaitu kerahasiaan dan keindependenannya.

image

Tidakkah menakjubkan jika kita bisa tersenyum di saat marah? Tidakkah menakjubkan jika kita bisa melihat mendengarkan suara seseorang saat tak seorangpun bisa mendengarnya? Tidakkah menakjubkan jika kita bisa berada di suatu tempat yang tidak pernah kita kunjungi sama sekali? Tidakkah menakjubkan saat kenyataannya tak seorangpun bisa diajak berbicara, lalu tiba-tiba hadir seseorang yang mau mendengar dan menemani dengan sabar. Tidakkah menakjubkan saat kita takut berada di kegelapan malam lalu entah dari mana ada cahaya disertai keramaian yang juga entah apa.

Anugerah yang satu ini sungguh akan bermanfaat jika dimanfaatkan, akan mudharat jika salah dimanfaatkan