Taragak (kan iko ;))

Assalamu’alaikum, pagiiiii. . . Lama tak bersua ya. Rasa-rasanya belum ada sesuatu bermanfaat yang bisa kubagi. Tapi, tapi. . . Taragak! Ka dipangakan (lai). Kan iko. 😉
Sehatkah kamu? Semoga baik, membaik dan lebih baik. Apapun kegiatan urusanmu (yang baik) semoga dilancarkan saja serta dipermudah. 

Beberapa waktu belakangan aku sering membuka Wattpad, membaca beberapa tulisan. Bedanya tulisan-tulisan di sini (yang telah dibaca) lebih ringan dibanding buku dan terkesan dramatis juga sepertinya. Tapi bagaimanapun itu, selalu bisa diketemukan sesuatu yang priceless. 
Ada beberapa ‘sesuatu’ ingin kubagikan. Saat membacanya, mengimajikannya, sesuatu itu terasa sangat menyentuh bagiku. Berbekas hingga berhari-hari lalu berubah wujud hingga tersimpan di memori. Aziiiiii 😱 Entahlah jangka panjang atau tidak, yang jelas bukan jangka pendek. Harapanku adalah agar kamu mendapatkan yang sama sebagaimana aku.

★ Tiap-tiap orang punya sejarahnya sendiri hingga ia bisa berwujud, berperilaku, bersikap, berkepribadian sebagaimana ia sekarang. 

Sebagaimana juga kita bukan? Sah-sah saja bagi kita untuk menilai orang lain. Timbal baliknya sah-sah saja juga bagi kita untuk dinilai orang lain. Bagi kita yang menilai terbedalah secara sadar atau tidak bagaimana kita dari cara kita menilai orang lain. Menilai dari yang terdengar(saja)kah, dari yang tampak(saja)kah, menilai dari mendengar melihat mengamati. Menilai dengan matakah, menilai dengan telingakah, menilai dengan hati dan otakkah. Menilai dengan ‘karek kayu’kah, menilai dengan mencoba mengertikah. Menilai dengan tujuan asal ada yang ‘ka dipakecekan’kah, menilai dengan tujuan ingin membantukah, menilai dengan tujuan ingin memahamikah, menilai dengan tujuan ingin bergaulkah. Semua itu berbalik ke diri kita masing-masing juga.

★ Hati sekeras apapun, pintu yang tertutup serapat apapun, luka separah apapun akan luluh juga dengan kasih sayang yang istiqamah. Namun bagaimanapun itu, tentu dengan izinNya jua.
Dua di atas adalah yang paling berbekas dari sekian banyak. Semoga harimu menyenangkan dan diberkahi. Untukmu yang sedang dihadapkan pada pilihan, moga Allah beri petunjuk serta dimantapkan hatinya. Untukmu yang sedang berbahagia, bersyukurlah terus dengan cara yang sesuai dan akupun turut berbahagia. Untukmu yang sedang dalam susah, moga Allah tebalkan yakinmu menghadapinya hingga mudah saja bagimu melaluinya. Untukmu yang sedang berjuang dalam sesuatu, moga niatmu diluruskan dan keyakinanmu dimantapkan. Aamiiiin ❤

Advertisements

D I B O H O N G I

Bohong, salah satu dari sekian banyak kata yang tak disukai. Namun semakin ke sini rasa-rasanya ada jalan lain untuk melihatnya. Tak serta merta tak suka, bisa juga kecewa, sedih, tapi setidaknya bisa jadi antisipasi diri serta gambaran bagaimana berlaku diperlakukan. 

Kamu pernah berbohong? Dibohongi? Jawablah 😁 Kalau aku, dibohongi pernah disamping pernah berbohong (entah mungkin lebih banyak). Eh tapi terkadang bohong dan tak menyampaikan yang sebenarnya sudah saling bergelinca saja. Padahal ada bedanya, yaaaa barang sedikit. Bohong ~ menyampaikan yang tak sebenarnya. Tak menyampaikan yang sebenarnya ~ menyampaikan sesuatu tapi tak sampai-sampai pada yang sebenarnya. Hmm, misal: *sebenarnya: tadi pagi ke pasar, bertemu kawan, singgah ke toko buku, membeli beberapa alat tulis, minum aia tawa lalu pulang. *bohong: tadi siang ke Rumah Sakit menjenguk teman, sebelum pulang ke pasar dulu beli buku. *tak menyampaikan yang sebenarnya: tadi pagi ke pasar membeli alat tulis, minum aia tawa lalu pulang. 

Ada perbedaanya walau selayang. Kadang karena pernah berbohong dan saat tau dibohongi, aku menerka-nerka penyebabnya kenapa. Sebab saat kuberbohong juga ada alasannya. Apakah ia berbohong karena sedang ingin berbohong atau karena aku yang menyebabkan ia bohong?

Aku kecil sering berbohong dan atau bergelinca dengan tak menyampaikan yang sebenarnya pada beberapa orang dewasa. Bagi aku kecil, berbohong bukanlah perkara mudah. Bohong butuh pertimbangan, ingatn yang kuat, kerjasama dengan berbagai emosi (pernah nonton Lie To Me?). Lalu apa?

Hm, untuk kita yang dibohongi kadang boleh juga sesekali diresapi bayang diri. Apa terlalu banyak menuntut, jarang mau mendengarkan apalagi mau mengerti. Apa kerap membuat orang lain merasa terintimidasi? Nan ka lamak di awak saja? Kalau benar demikian, bisa jadi dia berbohong dipicu karena kita sendiri. Ya di samping ada juga orang yang tanpa dipicu dia akan tetap berbohong sebab telah bergelimang terbiasa.

Trust, mau mendengarkan dan mau mengerti. Ini sedikit dari sekian yang penting. Dalam hubungan yang bagaimanapun. Orang tua anakkah, teman temankah, pasangankah, kakak adikkah, aradan bawahankah dan sebagainya.

Aku tak mengatakan kita jadi penyebab untuk setiap kebohongan. Bukan. Tapi bisa jadi ada yang berbohong karena dipicu kita. Tahu dibohongi itu tak enak rasanya. Lain kalau tak tahu. Jadi kalau bisa diperbaiki, baguslah.

Untuk yang akan berbohong dan dibohongi. Boleh jadi sekarang berbohong, tapi nanti akan juga merasakan bagaimana itu dibohongi.

  

Belajar (men) Cinta (i)

Aku selalu bertanya-tanya perihal cinta dari dulu hingga sekarang bahkan mungkin nanti. Bagaimana ia bisa tercipta, hubungan sebab akibat yang bagaimana, apa makna sebenarnya, bagaimana wujudnya, pada apa-apa saja ia akan datang? Lain sebagainya dan lain sebagainya.

Banyak tempat untuk mempelajarinya. Bermula dari ayah dan ibu serta keluarga, tingkah laku hewan, guru dan murid, teman dan teman, alam dan alam serta Pencipta dan ciptaanNya. Sampai pada ujungnya teramatilah semua berhulu-muara ke mana. Di samping itu aku sebagai manusiapun tentu juga mencinta dengan beragam wujudku. Mencinta sebagai seorang anak, kakak, teman, murid, cucu, perempuan dan seorang hamba. Dari beragamnya wujudku mencintai, beragam pula rasanya. Berkaca pada itu, ternyata aku bisa memiliki rasa cinta yang berbeda-beda tekanannya dan tergambar jugalah di sana kemampuanku mencinta. Sebagai apapun wujudku, masih harus selalu ditingkatkan, diasah lagi yang demikian.

Dia berhulu-muara pada sesuatu. Yakni Pencipta dan ciptaanNya, bukan sebaliknya. Jika ingin mempelajari cinta, pelajari pada sesuatu itu. Akan terlihat, terasalah bagaimana cinta yang tulus yang tanpa pamrih, cinta yang dengan sangat murah hati, cinta yang . . . kehabisan kata-kata. Cinta yang tak hiperbola dengan syair, cinta yang jujur, nyata.

image

Bersalah, tak lantas saat itu juga Ia balasi hukuman. Ia (selalu) beri kesempatan untuk memperbaiki. Bersalah lagi, minta maaf lagi, bersalah lagi, minta maaf lagi. Bagaimanapun Ia akan selalu memaafkan jika dimintai maaf.

Lupakan Dia tak lantas membuatnya membalas setimpal. Dia tetap perintahkan matahari terbit untukmu, alam bekerja untukmu, jantung berdetak untukmu, lain sebagainya dan lain sebagainya.

Tak meminta (berdoa) pun Ia selalu memberi. Bahkan jika meminta, akan diberi melebihi yang dipinta. Bolehkah dirunut, apakah pernah meminta agar esok hari Dia terbitkan matahari lagi? Esok hari Dia detakan jantung lagi? Esok hari Dia izinkan organ-organ tubuh bekerja lagi? Pernahkah? Lalu bagaimana bisa terucap kalimat, “Dia tak adil, tak sayang, tak cinta?”. Sementara jikalau Ia hanya memberi apa yang hanya diminta, tamatlah. Hanya meminta rezeki melimpah tapi lupa meminta agar jantung kembali didetakan. Masihkan berpikir Dia tak baik, tak adil, tak menyayangi?

Lalu bandingkan cinta-cinta yang lain dengan cinta Pencipta dan ciptaanNya. Adakah yang menandingi, adakah yang melebihi?

Si Muncung yang Berkomentar Menilai dan Menghakimi

Hatiku bergidik ngeri saat mendengar ujung sebuah percakapan beberapa orang tua yang seangkot denganku. “Ka bakarik jo sianyo?”. “Jo keluarga si Ano tu a, si @##%**# paja pamaneh pamain tangan tu a”. “Onde garik lo wak nyo mandanga tu. Kok samo men anak jo apak beko baa ka aka du. Nan padusi ko lunak nampak di wak”. Hadeuh, harusnya memang tak di dengar, tapi baalah bukannya di- tapi ter-.

Ada yang menggelegak di dalamku. Ketidaksukaan? Ya, ketidaksukaan. Aku merasakan ada pergerakan di wajah. Ah, ini memang kelemahan! Tak bisa mengontrol ekspresi wajah di detik-detik awal. Coba ya, apa yang salah dengan anak bujang si paja? Dia dihakimi atas sesuatu yang bukan kesalahannya? Op sudah, kesal sangat. Terlepas dari kemungkinan si bujang berperangai sama dengan si paja ada, tapi kan juga ada kemungkinan untuk tidak sama. Ah, ibu-ibu ini memang asal melantong saja.

Asal melantong jugakah jika ada yang bilang, “Apaknyo lai Aji, pi anaknyo. . .”, atau “Adiak Aji, akak bulubaji”. Ataupun asal melantong-melantong lain. Memang ya, semua orang yang punya muncung bisa berkomentar, bisa menilai. Tapi mereka kadang lupa, orang lain juga punya muncung.

Apakah adil menisbahkan keburukan seseorang pada seorang lain? Sekalipun itu keluarga? Kita tak tahu seberapa bakuhampeh, basitojeh, kerasnya usaha seseorang agar keluarga atau orang terdekatnya menjadi baik. Sebab terkadang, betapapun seseorang ingin dan berusaha agar salah satu anggota keluarganya menjadi baik, saulah, hasil akhirnya ada pada Sang Pemilik Hati. Ia yang tahu siapa yang berhak menerima hidayah dan Ia pulalah yang berhak memberiNya. Itu sesuatu yang mutlak.

Bagi yang dengan ringannya berkomentar menilai, belum tentu pula jika ia diamanahi anggota keluarga yang tangka, mada, katimbalang atau apalah istilahnya, bisa memperbaiki bisa mengontrolnya. Sebagaimana kata orang tua-tua, “Sadonyo lah sudah lo dek Tuhan”.

Jangankan kita manusia biasa, apa yang terjadi pada manusia pilihanpun semisal Nabi Lut~istrinya, Nabi Nuh~anaknya, Nabi Ibrahim~ayahnya, Nabi Muhammad~pamannya, bisa dijadikan pelajaran bahwa seseorang tak punya kemampuan untuk memastikan orang lain menjadi baik. Itu hak mutlak Allah. Sebagaimana manusia-manusia pilihan tadi, apakah ia buruk sebab tak bisa mengajak menjadikan anggota keluarganya baik? Tidak tentunya. Jadi jangan mudah menghakimi.

image

Sungguh, bisakah terlihat hikmah dari ini? Jikalau baik saja seluruh anggota keluarga dari suatu garis keturunan, atau jikalau tangka saja seluruh anggota keluarga dari suatu garis keturunan, maka baik dan buruk akan mengeksklusif dengan sendirinya. Bisa jadi ada orang yang seumur hidup tak tahu mana yang buruk, juga bisa jadi ada orang yang seumur hidup tak tahu mana yang baik. Jikalau demikian, tak adalah sarana menyebarluaskan yang baik, sarana berdakwah, ujian dalam wujud keluarga. Bukankah dari disajikannya yang buruk, tahulah yang baik itu bagaimana? Sementara belum tentu jika disajikan yang baik diketahui itu bagaimana yang buruk.

Selain itu, selalu terbukalah kemungkinan berubah seorang yang tangka menjadi saulah, bulubaji menjadi baik, keras hati menjadi lembut hatinya, yang hatinya belum tersentuh petunjuk menjadi ditunjuki hatinya, ataupun sebaliknya.

Allah itu Maha Adil, hanya dalam pandangan manusia saja segala sesuatu terlihat timpang-timpang. Sekali lagi, jangan terlalu ringan untuk berkomentar, menilai atau menghakimi wahai muncung(ku).

Niaik: Di Nan Saketek Tu Lah Acok Wak Kanai

Di suatu siang, bertemulah 2 sekawan yg telah berpisah lama (9 bulan 😐).
1: “Woi Udin, kama si gau?”
2: “Eh, Assalamu’alaikum kawan lah lamo wak dak batamu nak. Lai sihaik si kawan Ji?”.
1: “Alaikumsalam. Yo baa nan nampak dek gau kini ko nyo ko, awak sihaik alhamdulillah. Hmm, hantah awak nan salah hantah apo pi agak babeda aura gau taraso a”.
2: “A wak nan babeda taraso dek kawan Ji?”.
1: “Ntik sacah. Hmm, agak segeh gau nampaknyo kini. Dari ma gau cako go?”
2: “Halah sagan mangecekan wak gagah si kawan nak? Tu segeh se bakecekan. Hahaha. Wak dari surau cako”
1: “Surau ma go? Kadai gau kecekan surau pulo”
2: “Ndak eh, wak sabana dari surau kawan. Baa, ka ikuik kawan Sabtu bisuak jo wak?”.
1: “Tasapo gau? Pi syukurlah kok takah itu. Ncak jo tu, Sabtu bisuak sabanalah a. Eh mintak nomor gau lah, baganti pi dak maagiah tau” [Tarago mangetik] “Takana di wak, dek a gau barubah go? Ndeh sagan lo wak ba gau2 lai”.
2: “Awalnyo dek mambaco quote dek kawan. “Pasangan tu cerminan diri wak”, tu jano. Tasintak wak, baransua2lah sajak tu”.
1: [Angguak2] “Tu?”
2: “Yo itu. Baransua2lah wak melokan sumbayang dulu tu pai2 ka surau li”.
1: [Manyimak]
2: “Anok me kawan Ji?”
1: ” Hmm, dak eh tapikia lo di wak eh”
2: “A du?”
1: “Pi jan malantiang lo kawan dak”
2: “Ndak eh”
1: “Ko manuruik pemahaman wak kawan a. Kok awak barubah karano nio dapek pasangan nan elok, salah niaik wak tu ndak? Bisa2 masuak siriak juo tu dek niaiknyo untuak selain Allah”
[Haniang]
2: “Tu?”
1: “Awak barubah ka nan elok tu rancak nyo kawan. Cuma amalan ko kan tagantuang niaik. Niaikanlah wak barubah ko sabagai bantuak taat wak ka Allah bukan nan lain2. Nyo saketeknyo kawan tapi di nan saketek tu lah acok wak kanai. Kok masalah pasangan tu nyo manuruik si beko tu nyo. Mantun a”.
2: “Masuak kawan. Tu baa wak kini lai go?”
1: “Jalan jolah di jalan nan samo cuma niaiknyo babeda. Parbarui niaik wak kawan”
[Haniang]
1: “Baa tu aniang me kawan?”
2: “Dalam kecek kawan Ji. Aturannyo awak nan kawan bawo dak awak nan mambawo kawan do”
1: “Halah, apo lo tu kawan a. Awak samo awak jo no eh”.

Kau Tampan dengan Demikian

Pagi ini (25082016) anginnya berhembus cukup kencang hingga menimbulkan suara yang agak menakutkan, dan cukup sering. Jikalau dia berubah wujud menjadi sesuatu yang bisa kulihat, entahlah seperti apa wujudnya. Menakutkankah? Lucukah? Tampan? Cantik? Entahlah ya. Yang pasti aku hanya merasa takut kala dia seakan mengamuk dan meninggalkan jejak pada padi-padi yang sekarang tampak miring. Aku tahu angin tak bermaksud jahat, setiap gerak dan keberadaannya adalah dalam rangka kepatuhan pada Penciptanya. Iya aku tahu, dia (sangat teramat) jauh lebih taat.

Menyoal wujud atau katakanlah rupa, beberapa waktu lalu aku kembali tersadar akan sesuatu tentangnya. Kembali tersadar maksudku adalah ya telah berkali-kali aku sadar dan paham tentangnya namun juga berkali-kali hal itu terlupakan atau hanya kadang tak kuacuhkan, terkesampingkan.

Sekali waktu aku bertemu dengan seorang pemuda seusiaku. Aku lupa namanya, entah Wahyu, Bayu, ya semacam itulah. Itu beberapa tahun yang lalu. Mengapa dia? Karena dia seorang pemuda yang istimewa. Entahlah, setidaknya menurutku. Dia tinggal berdua dengan adik perempuannya yang kala itu masih bersekolah di MTSN. Orang tuanya telah lama meninggal. Dia (Wahyu/Bayu/yang semacam itu) cukup tampan bahkan jika kamu hanya melihat sekilas. Akan lebih tampan jika kamu melihat matanya, hitam bersih. Wajahnya? Putih bersih. Rambutnya? Sepertinya agak ikal dan tebal. Dia lumpuh (layu), bermula dari obat yang dia konsumsi saat demam waktu kecil yang sebenarnya itu hanyalah ka sabab. Ibunya juga demikian. Katanya kulit beliau terasa seperti terbakar setelah minum obat kampung yang sebenarnya itu juga hanyalah ka sabab. Seingatku dia bercerita begitu. Semakin lama lumpuhnya semakin parah, hingga waktu itu dia hanya beraktifitas di rumah. Sungguh aku tak ingat detailnya, tapi seingatku ketampanannya bertambah setelah dia bercerita. Dia sama sekali tidak terlihat bersedih, menyesal, marah dengan apa yang menimpanya. Sama sekali. Dia kuat atau terlihat kuat. Kamu tahu hobinya apa? Hobinya membaca dan satu lagi yang membuatku nyaris berair mata, dia (berusaha) menghafal Al-Qur’an. Entah telah berapa juz, aku lupa. Dia, sungguh tampan. Tepat setahun setelah itu, sungguh terkejut mendapati kabar dia meninggal.

Orang seperti dia dan yang melekat padanya mengajarkanku definisi tampan yang (sebenarnya) lain.

Lagi, masih tampan. Pemuda (?) kali ini lebih tua dariku, mungkin awal 30an. Tinggi, tidak kurus tidak gemuk, rambutnya ikal dan tebal, kulitnya sawo matang, yang sedikit tacelak adalah bulu matanya lentik. Kenapa dia? Dia sakit. Terlihat kedinginan dan sangat kesakitan, mungkin perutnya. Dia bersandar pada ibunya sembari mengenggam tangan istrinya yang sedang hamil mungkin 4 atau 3 bulan. Istrinya, berlinang, cemas. Ya, semua orang di sana terlihat cemas. Saat itu aku terbayang banyak hal. Terbayang bagaimana dia di keseharian, bagaimana saat dia tertawa, saat ketakutan, bagaimana saat dia seusiaku, lebih kecil dan lebih kecil lagi. Lalu apa yang dia pikirkan saat ini? Aku juga terbayang dia berwujud adikku. Apa yang dia rasakan? Ketakutankah dia? Apa yang dia pikirkan? Kemungkinan terburukkah atau apa? Dia terlihat kacau dan sangat lemah.

Sekali lagi, tidak tampan tapi cantik. Dari kacamataku sebagai perempuanpun, dia terlihat cantik. Apa yang istimewa darinya? Selain kecantikan, dia juga pintar dan katakanlah berkecukupan. Tapi, satu lagi kelebihannya yaitu memiliki lidah yang tajam. Bermulut tajam. Uh, tajam sangat. Bahkan dari sudut pandangku sebagai anak kecil ataupun yang sudah tidak kecil lagi. Orang-orang di lingkungannya (sebagian kecil/besar) berusaha sedapat mungkin untuk tidak berurusan dengannya, dan ada jug yang menggunjingnya.

Kamu tahu? Ketampanan, kecantikan, kepintaran, kekayaan dan hal-hal semacam itu ada saatnya tidak akan berguna sama sekali. Kapan itu? Saat sakit, terdampar jauh dari peradaban, menginjakan kaki di tempat yang sama sekali asing, kemalingan, sakratul maut, misalnya.  Seperti pemuda pertama. Dia tidak sekolah tinggi, katakanlah hingga S3 namun ilmunya telah teruji. Ilmu yang katanya paling sulit, ikhlas dan ridha. Tidak hanya menerima ketentuan Allah terhadapnya, namun menerima segala ketetapan Allah padanya dengan senang hati. Lantas apa guna ketampanan wajahnya? Apakah menyebabkan ia dikecualikan dari ujian? Tidak. Namun ada ketampanan lain yang sangat perlu dipandang darinya. Ketampanan hati. Karena dengan tampan yang demikianlah sesungguhnya seseorang menjadi tampan. Sebaliknya juga dengan tidak baiknya perangai ataupun hati, seseorang yang sangat tampan sekalipun akan menjadi biasa-biasa saja bahkan buru(a)k. Kemudian pemuda kedua, ketampanan atau jika tampan itu memang relatif lalu katakanlah keelokan rupa. Dimana keelokan rupa tidak menjadi pengecualian untuk ia bisa terlihat lemah, mengiba. Tidak mengecualikan dia dari kebutuhan akan orang lain dan dari kebutuhan akan Penyembuhnya. Pada kondisi-kondisi tertentu, semisal saat seseorang berada pada titik terbawah hingga ia tersadar bahwa tak bisa berbuat apa-apa, bahwa ia tak memiliki daya apapun untuk merubah sesuatu, di saat seperti itulah keelokan rupa tak ada gunanya, tak akan di(ter)pandang sama sekali. Dalam kondisi yang demikian, seseorang hanya akan kembali pada Yang Satu. Terakhir, si perempuan yang dengan keelokan rupanya tak lantas menjadikannya disukai disenangi. Lalu apakah benar seseorang disukai karena fisiknya? Ya, mungkin hanya sepersekian persen benarnya.

21072013-to-lawang-21

Keelokan rupa bukanlah suatu hal yang mendefinisikan seseorang menjadi tampan, jelek, biasa, cantik, anggun, manis, apapun. Kalaupun itu dapat mendefinisikan, itu hanya definisi yang dangkal. Teringat celetukan seorang tua, “Mau parasnya cantik atau gagah, apa yang bisa dibanggakan? Toh itu semua Allah yang beri, Allah yang ciptakan”. Lalu apa yang bisa menjadi indikator seseorang itu elok? “Akhlak adalah faktor penyebab laki-laki tampak gagah dan perempuan tampak cantik. Akhlaklah yang menyebabkan manusia menjadi manusia (Abdurahman As Sa’di)”.

Niat Sebelum Belajar

Sebelum belajar, haruslah ada niat dari rumah benar hendak menambah pengetahuan dan pengetahuan yang akan membawa kepada iman. Jangan semata-mata karena hendak tahu atau hendak menguji kepandaian guru dalam dangkal ilmunya. Kalau ada dasar niat yang demikian dari rumah, maka walaupun ilmu tentang agama bertambah-tambah, belum tentu perasaan agama akan masuk meresap ke dalam jiwa.

[ Hamka ]