Belajar (men) Cinta (i)

Aku selalu bertanya-tanya perihal cinta dari dulu hingga sekarang bahkan mungkin nanti. Bagaimana ia bisa tercipta, hubungan sebab akibat yang bagaimana, apa makna sebenarnya, bagaimana wujudnya, pada apa-apa saja ia akan datang? Lain sebagainya dan lain sebagainya.

Banyak tempat untuk mempelajarinya. Bermula dari ayah dan ibu serta keluarga, tingkah laku hewan, guru dan murid, teman dan teman, alam dan alam serta Pencipta dan ciptaanNya. Sampai pada ujungnya teramatilah semua berhulu-muara ke mana. Di samping itu aku sebagai manusiapun tentu juga mencinta dengan beragam wujudku. Mencinta sebagai seorang anak, kakak, teman, murid, cucu, perempuan dan seorang hamba. Dari beragamnya wujudku mencintai, beragam pula rasanya. Berkaca pada itu, ternyata aku bisa memiliki rasa cinta yang berbeda-beda tekanannya dan tergambar jugalah di sana kemampuanku mencinta. Sebagai apapun wujudku, masih harus selalu ditingkatkan, diasah lagi yang demikian.

Dia berhulu-muara pada sesuatu. Yakni Pencipta dan ciptaanNya, bukan sebaliknya. Jika ingin mempelajari cinta, pelajari pada sesuatu itu. Akan terlihat, terasalah bagaimana cinta yang tulus yang tanpa pamrih, cinta yang dengan sangat murah hati, cinta yang . . . kehabisan kata-kata. Cinta yang tak hiperbola dengan syair, cinta yang jujur, nyata.

image

Bersalah, tak lantas saat itu juga Ia balasi hukuman. Ia (selalu) beri kesempatan untuk memperbaiki. Bersalah lagi, minta maaf lagi, bersalah lagi, minta maaf lagi. Bagaimanapun Ia akan selalu memaafkan jika dimintai maaf.

Lupakan Dia tak lantas membuatnya membalas setimpal. Dia tetap perintahkan matahari terbit untukmu, alam bekerja untukmu, jantung berdetak untukmu, lain sebagainya dan lain sebagainya.

Tak meminta (berdoa) pun Ia selalu memberi. Bahkan jika meminta, akan diberi melebihi yang dipinta. Bolehkah dirunut, apakah pernah meminta agar esok hari Dia terbitkan matahari lagi? Esok hari Dia detakan jantung lagi? Esok hari Dia izinkan organ-organ tubuh bekerja lagi? Pernahkah? Lalu bagaimana bisa terucap kalimat, “Dia tak adil, tak sayang, tak cinta?”. Sementara jikalau Ia hanya memberi apa yang hanya diminta, tamatlah. Hanya meminta rezeki melimpah tapi lupa meminta agar jantung kembali didetakan. Masihkan berpikir Dia tak baik, tak adil, tak menyayangi?

Lalu bandingkan cinta-cinta yang lain dengan cinta Pencipta dan ciptaanNya. Adakah yang menandingi, adakah yang melebihi?

Si Muncung yang Berkomentar Menilai dan Menghakimi

Hatiku bergidik ngeri saat mendengar ujung sebuah percakapan beberapa orang tua yang seangkot denganku. “Ka bakarik jo sianyo?”. “Jo keluarga si Ano tu a, si @##%**# paja pamaneh pamain tangan tu a”. “Onde garik lo wak nyo mandanga tu. Kok samo men anak jo apak beko baa ka aka du. Nan padusi ko lunak nampak di wak”. Hadeuh, harusnya memang tak di dengar, tapi baalah bukannya di- tapi ter-.

Ada yang menggelegak di dalamku. Ketidaksukaan? Ya, ketidaksukaan. Aku merasakan ada pergerakan di wajah. Ah, ini memang kelemahan! Tak bisa mengontrol ekspresi wajah di detik-detik awal. Coba ya, apa yang salah dengan anak bujang si paja? Dia dihakimi atas sesuatu yang bukan kesalahannya? Op sudah, kesal sangat. Terlepas dari kemungkinan si bujang berperangai sama dengan si paja ada, tapi kan juga ada kemungkinan untuk tidak sama. Ah, ibu-ibu ini memang asal melantong saja.

Asal melantong jugakah jika ada yang bilang, “Apaknyo lai Aji, pi anaknyo. . .”, atau “Adiak Aji, akak bulubaji”. Ataupun asal melantong-melantong lain. Memang ya, semua orang yang punya muncung bisa berkomentar, bisa menilai. Tapi mereka kadang lupa, orang lain juga punya muncung.

Apakah adil menisbahkan keburukan seseorang pada seorang lain? Sekalipun itu keluarga? Kita tak tahu seberapa bakuhampeh, basitojeh, kerasnya usaha seseorang agar keluarga atau orang terdekatnya menjadi baik. Sebab terkadang, betapapun seseorang ingin dan berusaha agar salah satu anggota keluarganya menjadi baik, saulah, hasil akhirnya ada pada Sang Pemilik Hati. Ia yang tahu siapa yang berhak menerima hidayah dan Ia pulalah yang berhak memberiNya. Itu sesuatu yang mutlak.

Bagi yang dengan ringannya berkomentar menilai, belum tentu pula jika ia diamanahi anggota keluarga yang tangka, mada, katimbalang atau apalah istilahnya, bisa memperbaiki bisa mengontrolnya. Sebagaimana kata orang tua-tua, “Sadonyo lah sudah lo dek Tuhan”.

Jangankan kita manusia biasa, apa yang terjadi pada manusia pilihanpun semisal Nabi Lut~istrinya, Nabi Nuh~anaknya, Nabi Ibrahim~ayahnya, Nabi Muhammad~pamannya, bisa dijadikan pelajaran bahwa seseorang tak punya kemampuan untuk memastikan orang lain menjadi baik. Itu hak mutlak Allah. Sebagaimana manusia-manusia pilihan tadi, apakah ia buruk sebab tak bisa mengajak menjadikan anggota keluarganya baik? Tidak tentunya. Jadi jangan mudah menghakimi.

image

Sungguh, bisakah terlihat hikmah dari ini? Jikalau baik saja seluruh anggota keluarga dari suatu garis keturunan, atau jikalau tangka saja seluruh anggota keluarga dari suatu garis keturunan, maka baik dan buruk akan mengeksklusif dengan sendirinya. Bisa jadi ada orang yang seumur hidup tak tahu mana yang buruk, juga bisa jadi ada orang yang seumur hidup tak tahu mana yang baik. Jikalau demikian, tak adalah sarana menyebarluaskan yang baik, sarana berdakwah, ujian dalam wujud keluarga. Bukankah dari disajikannya yang buruk, tahulah yang baik itu bagaimana? Sementara belum tentu jika disajikan yang baik diketahui itu bagaimana yang buruk.

Selain itu, selalu terbukalah kemungkinan berubah seorang yang tangka menjadi saulah, bulubaji menjadi baik, keras hati menjadi lembut hatinya, yang hatinya belum tersentuh petunjuk menjadi ditunjuki hatinya, ataupun sebaliknya.

Allah itu Maha Adil, hanya dalam pandangan manusia saja segala sesuatu terlihat timpang-timpang. Sekali lagi, jangan terlalu ringan untuk berkomentar, menilai atau menghakimi wahai muncung(ku).

Niaik: Di Nan Saketek Tu Lah Acok Wak Kanai

Di suatu siang, bertemulah 2 sekawan yg telah berpisah lama (9 bulan 😐).
1: “Woi Udin, kama si gau?”
2: “Eh, Assalamu’alaikum kawan lah lamo wak dak batamu nak. Lai sihaik si kawan Ji?”.
1: “Alaikumsalam. Yo baa nan nampak dek gau kini ko nyo ko, awak sihaik alhamdulillah. Hmm, hantah awak nan salah hantah apo pi agak babeda aura gau taraso a”.
2: “A wak nan babeda taraso dek kawan Ji?”.
1: “Ntik sacah. Hmm, agak segeh gau nampaknyo kini. Dari ma gau cako go?”
2: “Halah sagan mangecekan wak gagah si kawan nak? Tu segeh se bakecekan. Hahaha. Wak dari surau cako”
1: “Surau ma go? Kadai gau kecekan surau pulo”
2: “Ndak eh, wak sabana dari surau kawan. Baa, ka ikuik kawan Sabtu bisuak jo wak?”.
1: “Tasapo gau? Pi syukurlah kok takah itu. Ncak jo tu, Sabtu bisuak sabanalah a. Eh mintak nomor gau lah, baganti pi dak maagiah tau” [Tarago mangetik] “Takana di wak, dek a gau barubah go? Ndeh sagan lo wak ba gau2 lai”.
2: “Awalnyo dek mambaco quote dek kawan. “Pasangan tu cerminan diri wak”, tu jano. Tasintak wak, baransua2lah sajak tu”.
1: [Angguak2] “Tu?”
2: “Yo itu. Baransua2lah wak melokan sumbayang dulu tu pai2 ka surau li”.
1: [Manyimak]
2: “Anok me kawan Ji?”
1: ” Hmm, dak eh tapikia lo di wak eh”
2: “A du?”
1: “Pi jan malantiang lo kawan dak”
2: “Ndak eh”
1: “Ko manuruik pemahaman wak kawan a. Kok awak barubah karano nio dapek pasangan nan elok, salah niaik wak tu ndak? Bisa2 masuak siriak juo tu dek niaiknyo untuak selain Allah”
[Haniang]
2: “Tu?”
1: “Awak barubah ka nan elok tu rancak nyo kawan. Cuma amalan ko kan tagantuang niaik. Niaikanlah wak barubah ko sabagai bantuak taat wak ka Allah bukan nan lain2. Nyo saketeknyo kawan tapi di nan saketek tu lah acok wak kanai. Kok masalah pasangan tu nyo manuruik si beko tu nyo. Mantun a”.
2: “Masuak kawan. Tu baa wak kini lai go?”
1: “Jalan jolah di jalan nan samo cuma niaiknyo babeda. Parbarui niaik wak kawan”
[Haniang]
1: “Baa tu aniang me kawan?”
2: “Dalam kecek kawan Ji. Aturannyo awak nan kawan bawo dak awak nan mambawo kawan do”
1: “Halah, apo lo tu kawan a. Awak samo awak jo no eh”.

Kau Tampan dengan Demikian

Pagi ini (25082016) anginnya berhembus cukup kencang hingga menimbulkan suara yang agak menakutkan, dan cukup sering. Jikalau dia berubah wujud menjadi sesuatu yang bisa kulihat, entahlah seperti apa wujudnya. Menakutkankah? Lucukah? Tampan? Cantik? Entahlah ya. Yang pasti aku hanya merasa takut kala dia seakan mengamuk dan meninggalkan jejak pada padi-padi yang sekarang tampak miring. Aku tahu angin tak bermaksud jahat, setiap gerak dan keberadaannya adalah dalam rangka kepatuhan pada Penciptanya. Iya aku tahu, dia (sangat teramat) jauh lebih taat.

Menyoal wujud atau katakanlah rupa, beberapa waktu lalu aku kembali tersadar akan sesuatu tentangnya. Kembali tersadar maksudku adalah ya telah berkali-kali aku sadar dan paham tentangnya namun juga berkali-kali hal itu terlupakan atau hanya kadang tak kuacuhkan, terkesampingkan.

Sekali waktu aku bertemu dengan seorang pemuda seusiaku. Aku lupa namanya, entah Wahyu, Bayu, ya semacam itulah. Itu beberapa tahun yang lalu. Mengapa dia? Karena dia seorang pemuda yang istimewa. Entahlah, setidaknya menurutku. Dia tinggal berdua dengan adik perempuannya yang kala itu masih bersekolah di MTSN. Orang tuanya telah lama meninggal. Dia (Wahyu/Bayu/yang semacam itu) cukup tampan bahkan jika kamu hanya melihat sekilas. Akan lebih tampan jika kamu melihat matanya, hitam bersih. Wajahnya? Putih bersih. Rambutnya? Sepertinya agak ikal dan tebal. Dia lumpuh (layu), bermula dari obat yang dia konsumsi saat demam waktu kecil yang sebenarnya itu hanyalah ka sabab. Ibunya juga demikian. Katanya kulit beliau terasa seperti terbakar setelah minum obat kampung yang sebenarnya itu juga hanyalah ka sabab. Seingatku dia bercerita begitu. Semakin lama lumpuhnya semakin parah, hingga waktu itu dia hanya beraktifitas di rumah. Sungguh aku tak ingat detailnya, tapi seingatku ketampanannya bertambah setelah dia bercerita. Dia sama sekali tidak terlihat bersedih, menyesal, marah dengan apa yang menimpanya. Sama sekali. Dia kuat atau terlihat kuat. Kamu tahu hobinya apa? Hobinya membaca dan satu lagi yang membuatku nyaris berair mata, dia (berusaha) menghafal Al-Qur’an. Entah telah berapa juz, aku lupa. Dia, sungguh tampan. Tepat setahun setelah itu, sungguh terkejut mendapati kabar dia meninggal.

Orang seperti dia dan yang melekat padanya mengajarkanku definisi tampan yang (sebenarnya) lain.

Lagi, masih tampan. Pemuda (?) kali ini lebih tua dariku, mungkin awal 30an. Tinggi, tidak kurus tidak gemuk, rambutnya ikal dan tebal, kulitnya sawo matang, yang sedikit tacelak adalah bulu matanya lentik. Kenapa dia? Dia sakit. Terlihat kedinginan dan sangat kesakitan, mungkin perutnya. Dia bersandar pada ibunya sembari mengenggam tangan istrinya yang sedang hamil mungkin 4 atau 3 bulan. Istrinya, berlinang, cemas. Ya, semua orang di sana terlihat cemas. Saat itu aku terbayang banyak hal. Terbayang bagaimana dia di keseharian, bagaimana saat dia tertawa, saat ketakutan, bagaimana saat dia seusiaku, lebih kecil dan lebih kecil lagi. Lalu apa yang dia pikirkan saat ini? Aku juga terbayang dia berwujud adikku. Apa yang dia rasakan? Ketakutankah dia? Apa yang dia pikirkan? Kemungkinan terburukkah atau apa? Dia terlihat kacau dan sangat lemah.

Sekali lagi, tidak tampan tapi cantik. Dari kacamataku sebagai perempuanpun, dia terlihat cantik. Apa yang istimewa darinya? Selain kecantikan, dia juga pintar dan katakanlah berkecukupan. Tapi, satu lagi kelebihannya yaitu memiliki lidah yang tajam. Bermulut tajam. Uh, tajam sangat. Bahkan dari sudut pandangku sebagai anak kecil ataupun yang sudah tidak kecil lagi. Orang-orang di lingkungannya (sebagian kecil/besar) berusaha sedapat mungkin untuk tidak berurusan dengannya, dan ada jug yang menggunjingnya.

Kamu tahu? Ketampanan, kecantikan, kepintaran, kekayaan dan hal-hal semacam itu ada saatnya tidak akan berguna sama sekali. Kapan itu? Saat sakit, terdampar jauh dari peradaban, menginjakan kaki di tempat yang sama sekali asing, kemalingan, sakratul maut, misalnya.  Seperti pemuda pertama. Dia tidak sekolah tinggi, katakanlah hingga S3 namun ilmunya telah teruji. Ilmu yang katanya paling sulit, ikhlas dan ridha. Tidak hanya menerima ketentuan Allah terhadapnya, namun menerima segala ketetapan Allah padanya dengan senang hati. Lantas apa guna ketampanan wajahnya? Apakah menyebabkan ia dikecualikan dari ujian? Tidak. Namun ada ketampanan lain yang sangat perlu dipandang darinya. Ketampanan hati. Karena dengan tampan yang demikianlah sesungguhnya seseorang menjadi tampan. Sebaliknya juga dengan tidak baiknya perangai ataupun hati, seseorang yang sangat tampan sekalipun akan menjadi biasa-biasa saja bahkan buru(a)k. Kemudian pemuda kedua, ketampanan atau jika tampan itu memang relatif lalu katakanlah keelokan rupa. Dimana keelokan rupa tidak menjadi pengecualian untuk ia bisa terlihat lemah, mengiba. Tidak mengecualikan dia dari kebutuhan akan orang lain dan dari kebutuhan akan Penyembuhnya. Pada kondisi-kondisi tertentu, semisal saat seseorang berada pada titik terbawah hingga ia tersadar bahwa tak bisa berbuat apa-apa, bahwa ia tak memiliki daya apapun untuk merubah sesuatu, di saat seperti itulah keelokan rupa tak ada gunanya, tak akan di(ter)pandang sama sekali. Dalam kondisi yang demikian, seseorang hanya akan kembali pada Yang Satu. Terakhir, si perempuan yang dengan keelokan rupanya tak lantas menjadikannya disukai disenangi. Lalu apakah benar seseorang disukai karena fisiknya? Ya, mungkin hanya sepersekian persen benarnya.

21072013-to-lawang-21

Keelokan rupa bukanlah suatu hal yang mendefinisikan seseorang menjadi tampan, jelek, biasa, cantik, anggun, manis, apapun. Kalaupun itu dapat mendefinisikan, itu hanya definisi yang dangkal. Teringat celetukan seorang tua, “Mau parasnya cantik atau gagah, apa yang bisa dibanggakan? Toh itu semua Allah yang beri, Allah yang ciptakan”. Lalu apa yang bisa menjadi indikator seseorang itu elok? “Akhlak adalah faktor penyebab laki-laki tampak gagah dan perempuan tampak cantik. Akhlaklah yang menyebabkan manusia menjadi manusia (Abdurahman As Sa’di)”.

Niat Sebelum Belajar

Sebelum belajar, haruslah ada niat dari rumah benar hendak menambah pengetahuan dan pengetahuan yang akan membawa kepada iman. Jangan semata-mata karena hendak tahu atau hendak menguji kepandaian guru dalam dangkal ilmunya. Kalau ada dasar niat yang demikian dari rumah, maka walaupun ilmu tentang agama bertambah-tambah, belum tentu perasaan agama akan masuk meresap ke dalam jiwa.

[ Hamka ]

Sebagai Ungkapan Terima Kasih

Ada orang yang hanya dengan mendengar nama bisa membuatmu merasakan sesuatu. Ada juga orang yang karena melihat walau tak mengenalnya, membuatmu merasa demikian. Ada yang karena benda-benda orang itu, jejak-jejaknya, orang yang berada di lingkungannya. Ringkasnya, apapun yang berhubungan dengannya atau sebenanrnya apapun yang kamu hubung-hubungkan dengannya. Jika yang dirasakan itu adalah hal tidak baik yang menyebabkan hal yang juga tidak baik, maka tentu ada yang tidak baik di sana. boleh jadi di kamu atau sesuatu pada orang itu. Periksalah, lalu jika bisa kamu boleh membuang dan menjauhinya.

Namun jika yang dirasakan itu adalah hal tidak baik yang menyebabkan hal baik ataupun hal baik yang juga menyebabkan hal baik, maka tentu ada yang baik di sana. juga boleh jadi di kamu atau sesuatu pada orang itu. Periksalah, renungi lalu jika bisa kamu boleh menyimpan, mempertahankan dan mendekatinya.

Sebenarnya keduanya adalah sarana belajar untukmu. Namun bagaimana jika hanya pada keadaan kedua kamu baru mengalami proses belajar? Sebagai seorang manusia yang harus dan sudah semestinya mengambil, melakukan apa-apa yang bermanfaat bagi dirinya dan membuang menjauhi apa-apa yang tak bermanfaat bagi dirinya, keadaan pertama tentu akan kamu jauhi.

Jika itu keadaan yang kedua, sudah sepatutnya kita bersyukur bukan? Tidak semua hal baik berasal dari hasil usaha diri sendiri, melainkan banyak juga hal baik yang dirasakan lewat perantara orang lain. jadi jika ada orang yang bisa membuatmu (selalu) belajar, menyebabkan hal-hal baik padamu yang entah itu dalam kaca matamu dia orang baik atau tidak, teruslah belajar darinya dan mendoakan kebaikan untuknya sebagai ungkapan terima kasih atas apa yang diperoleh dengan perantara dia.

Untukmu, Wahai Putri Kecilku

Wahai putri kecilku, jika seandainya bernasihat itu boleh ditinggalkan supaya orang bisa berbuat baik, tentu aku tidak lakukan (bernasihat itu). Tapi wasiat dan nasihat itu merupakan peringatan bagi orang yang lalai dan bantuan bagi orang yang cerdas untuk bisa merenung. Jika seandainya wanita bisa tidak membutuhkan suami karena cukup dengan orang tuanya saja dia hidup padahal dia butuh pernikahan, maka akulah yang pertama akan melakukannya dibanding engkau, anakku. Namun, wanita tercipta untuk pria dan untuk wanita pulalah pria diciptakan. Wahai putri kecilku, sesungguhnya engkau akan berpisah dari rumah tempat engkau lahir serta tumbuh dan akan pindah ke rumah lain. Dan akan engkau tinggalkan seperti burung meninggalkan sarangnya. Engkau akan pergi bersama seorang pria yang belum engkau kenal hakikat sebenarnya dan engkau akan berteman dengan kawan yang belum engkau akrabi. Jadilah engkau bagai bumi untuknya dan dia akan menjadi langit untukmu. Jadilah engkau bagaikan hamparan hingga ia bagaikan tongkat untuk menguatkanmu. Jadilah engkau seperti ibu baginya hingga dia akan menjadi abdi bagimu.

Peliharalah 10 macam ini, niscaya engkau akan mendapati kebahagiaan:

  1. Khusyuklah padanya dengan qanaah (ridha atas pemberian Allah).

Terimalah apa adanya dia dan jangan menuntut yang tak ada padanya.

  1. Taat dan patuhlah dengan sebaik-baiknya.

Jangan patuh karena terpaksa.

  1. Awasi dimana matanya akan tertuju padamu dan
  2. Dimana hidungnya akan menciummu (tampil cantik dan bersih).

Jangan sampai terlihat padamu apa yang tak ia senangi.

  1. Hendaklah menjaga waktu tidur dan
  2. Makannya

Karena lapar itu menggelora dan membuat orang gelisah. Dan terganggunya tidur membuat orang mudah marah.

  1. Jangan engkau durhakai perintahnya.
  2. Jangan engkau sebarkan rahasianya.

Jika engkau buat dadanya bergejolak, bila engkau sebarkan rahasianya, engkau tidak akan aman dari pengkhianatannya.

  1. Engkau jagalah hartanya.
  2. Senantiasa memperhatikan keluarga serta orang-orang yang dekat dengannya.

Aku peringatkan pada engkau agar jangan berbesar hati saat ia sedang susah dan sebaliknya. Jadilah engkau bagai orang yang bisa mengagungkannya. Jika itu bisa dilakukan, ia akan sangat memuliakanmu. Jadilah orang yang bisa sepakat dengannya, maka ia akan sangat harap untuk kamu temani. Dan ketahuilah wahai putriku, engkau tak akan sampai pada semua itu yang engkau senangi (darinya) sebelum engkau mendahulukan yang ia senangi, ridhanya dibanding ridhamu. Begitu juga dengan kesenangannya dibanding kesenanganmu. Suka atau tidak suka, cobalah begitu maka engkau akan mendapat yang engkau senangi.

 

[Nasihat Asma binti Kharijah (istri Auf bin Asy Syaibani) pada putrinya setelah akad sebelum baralek]

Untuk seorang ibu dan seorang putri, kita bisa belajar dari nasihat di atas. Bekal apa yang seorang ibu harus berikan pada putrinya dan bagaimana si putri membekali diri.