Sumpitan Pertama

Sore itu, di luar hujan berangin. Ada parak batuang (bambu) di belakang rumah, jadi hembusan angin juga membuat mereka bersuara yang semakin membuat mata mengantuk. Tepat di hari Minggu. Hanya ada ibu, aku dan adik di rumah. Ibu, lalu memasak mi goreng dari dua bungkus mi favorit kami, mi Atom Bulan. Entah benar itu merk nya atau tidak, kami menyebutnya begitu. Dibandingkan dengan mi instan seperti Indomie, Gaga, atau Supermie benar mi Atom Bulan ini tidak lebih praktis. Hanya ibu saja, sekali lagi, hanya ibu saja yang bisa memasak mi jenis ini di rumah. Mi tak berbumbu, dari pabriknya memang hanya tok mi kering saja. Manalah tahu dan manalah mau repot aku dan adik yang merebus air dan menjarang nasi saja adalah prestasi terhebat dan hanya itu yang bisa kala itu. Jadi, akhirnya sore hujan berangin itu ibu masak mi. Aroma dan rasanya selalu sama, entah bagaimana. Hanya satu yang tak ku suka dari ibu jika masak mi. Perbandingan mi dan sayurnya, satu banding setengah. Untuk seorang yang tak terlalu suka, dan kalau bisa tidak makan sayur, memilahnya sebuah perjuangan sendiri. Terlebih, siapa cepat dia nambah. Agak sedikit menyakitkan. Hahahay.

sumpit_persegi

“Coba kali ini makan pakai sumpit”. “Gak bisa Bu”, kami serentak jawab. “Diajari”. Hmm, padahal nyaris mendarat di mulut. Ibu mencontohkan cara memegang sumpit. Di rumah ada dua pasang sumpit. Aku masih ingat, sumpit kayu hitam panjang yang tidak lagi mengkilat. Baru pertama kali, di usia segitu (8 tahun) aku melihat ibu lihainya memakai sumpit. Perempuan satu ini, memang tak pernah bisa kehilangan cara membuat ku kagum, walau dia tak menyadari. Tengah kami berdua berkali mencoba, kadang hanya dua untai yang masuk, ibu memindahkan mi beliau ke piring dan makan dengan garpu. Sesekali memberi arahan.

Hari itu, hari pertamaku dan adik makan dengan sumpit. Walau lama, tapi akhirnya bisa dan bahagia sekali rasanya. Tetap saja, kami makan lebih banyak dari ibu. Masih beliau sisakan banyak di kuali. “Latihan sampai bisa”, begitu kata beliau. Sekarang, saat aku makan mi ayam, mi rebus, atau apapun jika menggunakan sumpit, kenangan itu selalu terlintas. Aku masih ingat betul penampakan mi Atom Bulan saat ibu bilang, “lah masak”. Adukan terakhirnya ibu angkat dengan sanduak, dari mi goreng warna orange kemerahan itu mengepul asapnya ke langit-langit dapur. Aromanyapun aku masih ingat jelas. Sumpit hitam panjang itu, walau sudah dibuang dan sekarang entah dimana menjadi apa, masih ada di kenangan.

Sekarang, saat aku belajar tentang anak usia dini, memakai sumpit adalah salah satu cara untuk melatih keterampilan motorik halus. Sekali lagi, aku hanya kagum saja dengan ibu yang natural sekali caranya. Ibu. Bukankah menakjubkan saat masih diberi kesempatan memanggil seseorang, Ibu?

 

 

 

 

 

Gambar diambil dari rumahkerajinan.com

(Karena) Kenaikan Tiket Pesawat

Cukup lama lalai, assalamu’alaikum 🙂 semoga yang membaca dalam keadaan ‘afiyat. Bagaimana hari-harimu yang telah dilalui di tahun ini? Moga selalu ada suatu kebaikan yang engkau dapat.

Amat berkesan sekali rasanya perjalanan beberapa waktu lalu. Aku pribadi sangat menyukai sebuah perjalanan menuju suatu tujuan. Dari yang sederhana, berjalan kaki, naik angkot, naik motor, perjalanan dengan pesawat ya walau baru menyeberang pulau saja. Dan kemarin perjalanan dengan bus pertama yang benar-benar sendiri. Dalam tiap-tiap perjalanan yang kunantikan adalah hal apa yang diperlihatkan, diperdengarkan dan dirasakan padaku. Pelajaran yang ku dapat pada tiap-tiap perjalanan biasanya lebih meresap ke dalam dibanding yang penutur bahasa-bahasa langit sampaikan. Dan kemarin, sekali lagi sangat berkesan. Selain pengalaman pertama, aku berkali-kali dibuat haru akan KeMahaHalusan Allah dalam segala sesuatunya. Terasa alaykah jika menceritakannya? Biarlah ya, aku hanya tidak ingin melupakannya. Dan jika lupapun nanti, ini setidaknya bisa mengingatkan.

Beberapa menit sebelum berangkat masih protes dalam hati sebab kenaikan harga tiket pesawat. Bus stand by di Taluak. Datang terlambat beberapa menit karena biasanya kalau, “Bisuak barangkek jam 09.15 yo. Lah tibo di siko jam satangah 9”, biasanya berangkat paling tidak jam 10. Jam sembilan kurang ditelpon lah, “Lah dima kini?”, “Di jalan pak”, “Eh, baa kok talaik? Bus lah stand by yo”, “Maap pak, sakik paruik (beneran)”. Sesampai di sana memang sudah ramai hampir tak ada tempat untuk parkir. Malu jadinya sekaligus senang akan tepat waktunya. Rasa-rasanya lebih emosional dari pada naik pesawat. Bolak balik peluk ibu, sampai akhirnya duduk di bus saja dari pada ibu lihat ada yang menggenang. Bus dinyalakan, ibu naik ke atas, pelukan lagi. Syukur matanya masih bisa kompromi. Di depan ku duduk ibu dengan anak gadisnya serta di depannya sepasang suami istri dengan gadis kecilnya, dua apak-apak di belakang, laki-laki seusia di sebelah, ante-ante dan suaminya di seberang yang di depannya seorang ibu dengan anaknya dan di belakangnya duduk seorang ibu dan uda-uda. Beberapa menit sebelum berangkat beberapa orang di luar melambai-lambai ke arahku. Oh bukan, ternyata teruntuk yang di sebelahku. Dan dia juga melambai-lambai (mandadah-dadah). Pemandangan langka dan aku sangat menikmati.

Pemberhentian pertama tidak pada tempat biasa berhenti. Kali ini di masjid pinggir jalan. “Baa kok baranti pak?”, ada yang bertanya. “Mambasuah anak dulu”. Sekalian shalat. Perjalanan berlanjut dengan pemberhentian berikut di Gunuang Medan sorenya. Tidak ada persiapan selain minum yang kubawa, di sana aku beli masker dan tisu. Dari pagi sampai sore diam-diam saja dengan teman sebangku rasanya kurang nyaman. Ingin memulai sedari tadi sebenarnya saat scene lambai melambai, tapi banyak tapi. Tak lama setelah jalan lagi dia memulai (akhirnya). Orangnya cukup terbuka hingga banyak yang ia otakan (atau aku yang banyak tanya?). Lewat ota aku dibuatnya tertarik kedua kalinya setelah scene lambai melambai. Merasa tak ada apa-apanya aku. Saat tahu tujuanku ia menimpali, “wuiiih”, “Ado niaik dak untuak lanjuik sakola?”, “sananyo wak nio bana lanjuik sakola”, “Iyo lanjuiklah, kan ado paket. Mentri se ambiak paket a”. Dia marantau setamat SMP ke kota B sendiri (baru sampai situ saja aku sudah waw), sudah merintis usaha sendiri (waw lagi), dia juga menekuni photography dan programmer (waw lagi), hasil kerjanya disisihkan untuk memperbaiki rumah (waw lagi), selama beberapa bulan di kampung ia juga maolah gamis (waw lagi) dan satu waw lagi, dia tidak terlihat tidak percaya diri melainkan juga optimis. Semoga Allah berikan yang terbaik untuknya. Sebenarnya banyak hal yang ingin ku tanyakan, terlalu banyak malah hingga takut akan membuatnya tidak nyaman. Akhirnya mulut di rem dan bertanya-tanya sendiri lalu menjawab kemungkinan-kemungkinan saja sendiri.

Ante-ante dan suaminya yang di seberang, terlihat sangat manis berdua. Si om menyelimuti, mereka melakukan hal-hal biasa saja sebetulnya hanya caranya terlihat manis bagiku. Berbagi makanan, mengobrol, turun bus bersama, menunggu ante yang ke kamar mandi dan lainnya. Sekitar jam sebelas malam berhenti selanjutnya. Kami shalat, aku akhirnya makan bekal tadi pagi. Ada yang berubah memang aromanya, tapi tak apa. Telur dadar ibu masih terasa enaknya. Ibu dan anak gadis di depan ku manis sekali sedari Gunuang Medan, mereka makan bekal berdua. “Pai liburan”, terang beliau. Pemberhentian selanjutnya subuh di Lahat. Karena tidak membawa perlengkapan bersih-bersih jadilah beli di tempat. Selesai shalat aku beli teh manis hangat. Kembali ke bus, si teman sebangku tiap kali naik setelah berhenti selalu terlihat segar lagi (waw lagi). Lah aku, peduli penampilan saja tidak, turun hanya untuk yang wajib-wajib saja.

Sumatera Selatan memang cukup panjang. Siang sebelum Jumat berhenti dulu. Aku lapar tapi tak berani makan, takut-takut perut tak bisa diajak kompromi. Jadilah membeli susu dan sari kacang hijau (maha!) saja. Berhenti cukup lama, lebih sejam ditambah lagi ganti ban. Mengobrol di rumah makan dengan ante dan suami serta ibu di belakangnya. Tak banyak yang bisa diotakan dengan ante sebab ada suaminya, segan aku. Banyak mengobrol dengan ibu. Ternyata urang mangaleh. Sepanjang maota, beliau hanya menyinggung tentang anak dan bagaimana ia manggaleh. “Apak baa buk?”, gatel. “Apak dak ado lai, lah pisah”, aku tak berani timpali lagi, beliau yang banyak cerita. Beliau terlihat tenang dengan cerita hidup yang tak kalah berat menurutku. Seorang ibu itu memang teramat luar biasa. Banyak pelajaran yang kudapat dari beliau. Di antaranya bahwa tiap-tiap orang berhak atas kebahagiaannya. Benar ada kewajiban yang harus dilakukan, namun juga ada hak yang harus diterima. Allah Maha Adil dalam segala sesuatunya, Maha Halus dalam mengatur segala sesuatu hingga segala sesuatu itu berhubungan langsung tidak langsung dengan hidup kita. Ada satu lagi gadis yang sedari tadi sendiri dan tak tampak mengobrol dengan siapapun. “Surang se? “ Angguk. “Ka pai kama?”. “B”. “Manga tu?”. “Kuliah”. “Akak?”. “D”. “Lah bara kali naiak Bus?”. “Lah duo kali kak”. Dari bahasa tubuhnya bisa dikatakan dia masih was-was tapi berusaha yakin berani. Satu lagi yang aku baru tahu, tenyata jika makan di sini, mengisi baterai hpnya tidak bayar.

Perjalanan selanjutnya cukup melelahkan untukku. Selain cukup jauh jarak pemberhentiannya, entahlah kenapa mood juga tidak begitu baik. Lampung ternyata cukup panjang. Aku menyandarkan kepala ke jendela untuk beristirahat. Banyak mengeluh saja sepanjang jalan, walau memang dalam hati tetap saja mengeluh. Leher yang sakit karena keseringan miring ke kanan, tulang pipi dan pelipis mata kanan sering terantuk saat tertidur yang akumulasinya cukup sakit juga. Mau miring ke kiri takut yang di sebelah kena kalau ketiduran. Dan lagi epanjang jalan pemandangannya tercemar foto-foto caleg, cahayanya cukup silau. Entah kenapa moodnya bertambah tidak baik saat orang sebelah telponan dengan ibunya. Terdengar sangat akur dan manis, mungkin sebenarnya aku iri. Ingin sekali juga bercakap dengan ibu hanya aku takut akan badarai dan dilihat orang. Pemandangan penghiburnya adalah saat melihat ke luar, ada hamparan laut dan siluet kapal-kapal yang tersusun tambah menawan dengan warna langit saat matahari berangsur-angsur tenggelam. MasyaaAllah. Hingga akhirnya sekitar delapan malam, berhenti di rumah makan sebelum naik kapal. Sebelumnya shalat, lalu makan. Hmm, aku masih ingat nasi badatuihnya yang terkesampingkan karena saking litak. Ditambah teh manis hangat, Alhamdulillah akhirnya merasa lengkap kembali. Ibu menelpon dan tak bisa tidak, badarai juga akhirnya. Tak tertimbang lagi ada ibuk-ibuk dan bapak-bapak yang melihat. “Manangih ca? Jan manangih lo”. “Lain lo sadiahnyo pai naiak bus ko Bu. Mungkin dek lamo di jalan. Patang tu mungkin dek pulang jadi bisa jo galak”. “A bisuak pai jo pesawat se lah kalo gitu”. “Ee, dak gitu lo do Bu, dek pertamo mah”. “Yo lah, jan manangih jo lai. Apuih aia mato tu. Ati-ati di kapa yo”.

Setelah makan moodnya lebih baik, bisa senyum dan maota lagi. Masih Lampung Selatan, sisa perjalanan menuju pelabuhan banyak berlubang, terlebih malam dengan penerangan yang cukup minim goncangannya lebih “sering”. Tiba di pelabuhan sekitar jam sepuluh malam. Di awali pemeriksaan bagasi lalu antri. Karena merasa waktu berpisah semakin dekat, akhirnya memberanikan diri bertanya hal yang sebenarnya tidak penting ditanyakan. “Bara lamo wak di kapa A (anggap inisialnya)?”. “Bisa duo jam atau duo satangah jam kalaunyo baranti di tangah beko”. “Manganyo baranti? (seriously)”. “Yo antri untuak manapi, kalau ado beko kapa yang alum kamanapi tu ditunggu dulu, bongka muatan lo nyo dulu”. “Oo iyo-iyo (pertanyaan bodoh)”. “Sakali ko sa naiak kapa baru?”. “Lah duo kali tapi dulu kapa yang duo tingkeknyo”. “A kini tigo tingkek. Bla blab la”. Berakhirlah dengan penjelasannya tentang kapal tingkat tiga ini dan nasihat-nasihat agar nanti aman di kapal. Rasanya seperti anak yang dinasihati bapak-bapak. Jauh di dalam aku ucapkan terima kasih. Turun dari kapal aku pegangan dengan ibu dan adik gadis yang ku lupa namanya (tapi lah taujuang). Tak seperti kapal dua tingkat yang hanya naik satu tingkat, di kapal ini naik dua tingkat agar bisa istirahat di tempat yang sudah disediakan. Ada TV nya pula, toiletnya bersih, ya bersih dan bersih. Kami nonton di dalam, dua film.

Beberapa lama, aku ijin keluar melihat laut. Pemandangan pertama yang ku lihat adalaaaaaah ante dan suaminya sedang maota uh dan itu membuatku senyum-senyum kagum. Moga Allah berkahi keluarga mereka. “Jak tadi ante siko?”. “Iyo, mancaliak lauik”. Hilang, kami sama-sama menikmati lampu berkelip-kelip di tepian sana, menikmati riak air laut yang terlihat berwarna keemasaan terkena cahaya lampu dek kapal. Angin laut malam yang cukup sejuk walau masih terasa hangatnya tapi tak seberat siang atau sore hari. Sejenak aku lupa perpisahan, lupa bahwa tadi menangis, lupa masih ada perjalanan lagi hingga ante sentakan dengan pertanyaan, “Jak tadi lai jalan wak goh?”. Senyum. “Lai nte, kan tingga kapa sabalah nampak dek ante tu a. Caliak aia lauik ko nte, taraso wak jalan mah”. “Yo bana lah”. Senyum. Suaminya menimpali, “Cubo tanang Ta santa, taraso kapa bajalan tu”. Mengganggu rasanya. Ingin segera meninggalkan mereka, ku keluarkan hp dan mulai mengambil beberapa gambar. “Elok-eloklah, jatuah hp tu dak bisa diambiak lai. Sakik paruik om mancaliak a”. “Aman InsyaaAllah om, pacik kuek-kuek”. “Ntah iyo sakik paruik nte mancaliak a”. Karena tak ada yang terlihat selain lampu-lampu kecil, akhirnya aku hanya merekam air laut yang terkena sinar lampu kapal.

Tak beberapa lama oom yang sakik paruik keceknyo tu pun mengeluarkan hp dan mengambil gambar laut, “Tagak lah ta sinan a, bapoto ciek tando naiak kapa”. “Dak dek uda tu do”. Senyum diam saja kita. “Om, nte sa kaliliang dulu dih.”. “Dih”. Memang agak canggung berjalan sendiri sebab kebanyakan yang memenuhi jalan adalah laki-laki. Mereka ada yang tidur di lantai, ada yang merokok sembari menatap laut. Tak berani lama-lama, menghampiri ante lagi untuk pamit masuk ke dalam. Di dalam ternyata tak kalah seru, hampir sebagian besar lantai dipenuhi orang-orang tidur. Raso ka lamak lo. Maota dengan ibuk dan pak (ku lupa namanya, hanya ingat beliau tinggal di Inkorba). Tujuan kami sama, D. “Urang mangaleh apak?”. “Ndak. Baa tu? Bantuak urang mangaleh gaya apak yo?”. Seterusnya aku lanjutkan menonton, meninggalkan tetua untuk mengobrol yang mulai terdengar berat. Jam setengah tiga pagi akhirnya kapal menepi dan kami kembali ke bus. Tidak tidur di kapal, berniat harus tidur di bus. Berusaha tidur namun was-was waktu Subuh masuk.

Tiba-tiba terbangun saat hujan dan beberapa orang naik ke bus. Ternyata hanya berhenti makan, masih jam 4 pagi. Tidak melanjutkan tidur lagi. Jalanannya cukup sepi, semakin dekat dengan perpisahan. Sedikit sedih. Dua malam tiga hari menurutku adalah waktu yang cukup untuk tidak menjadi asing lagi. Jikalau nanti bertemu lagi walaupun lupa nama, namun mereka bukan orang asing lagi bagiku. Terminal pertama, Kali Deres. Banyak yang turun di sini. Ante dan om, apak-apak dengan tiga anaknya, banyak lagi. Seketika menjadi sepi. Teman sebelah pindah bangku agar bisa duduk dengan nyaman. Dia melanjutkan tidur, banyak juga yang demikian. Tidak ada berhenti shalat subuh, jadi shalat di bus saja. Sesampainya di Pulo Gebang, mataharinya sudah cukup naik. Tujuan kota B pindah ke bus satu lagi, sementara bus ini tujuan D. Akhirnya berpisahlah dengan ibuk, adik gadih, teman sebangku, ibu dan anak gadih dan ante-om dengan bayi mungilnya. Cukup sedih, sebab telah banyak cerita dengan ibuk. Semoga dan InsyaaAllah Allah pelihara mereka dimanapun berada. D, perjalanan selanjutnya. Pak Inkorba yang kulupa nama beliau, turun pertama. “Apak turun siko yo sa. Doakan lancar se urusan apak. Sa pun elok-elok yo”, disertai senyum kebapakannya. Pemberhentian terakhir, dan perjalanan dengan bus selesai dengan, “Makasi banyak yo pak”. Karena cukup banyak barang, selanjutnya dilanjutkan dengan Grab. Jam setengah delapan mendarat di kosan. Akhirnya, Alhamdulillah walau cukup penat dan kaki bengkak namun menyenangkan.

Tidak semua yang terjadi dapat kuceritakan. Namun pada akhirnya, kenaikan harga tiket pesawat ketika itu aku syukuri. Sebab diperantarai itulah aku bisa naik bus, bertemu beliau-beliau yang ku temui, melihat hal-hal yang kulihat, mendengar hal-hal yang kudengar dan merasakan yang kurasa. Bajelo kok dirantang. Dak dirantangpun lah bajelo-jelo. Hahaha XD Naik bus yang semula menjadi momok bagiku, setelah dijalani ternyata tidak seperti itu. Seorang guru pernah berkata, “Allah itu Maha Halus (Al Latif), Mengetahui yang Tersembunyi. Kita terkadang tidak sadar bahwa sedang diarahkan kepada sesuatu. Coba tilik lagi ke belakang, bagaimana perjalanan hidup kita. Apakah banyak yang sesuai dengan yang direncanakan?”. Kalimat ini kudengar tepat seminggu setelah perjalanan. Dan kesemrautan berpikirku terwakilkan dengan kalimat beliau.

Dak Bisa

Banyak hal yang sebelumnya tidak bisa kita lakukan. Entah karena memang belum pernah mencoba, baru melihat, tidak mau mencoba, sebagainya dan lain sebagainya. Saat lahirpun belum bisa apa-apa selain menangis, makan, buang air dan hal dasar lain. Bisa duduk dan berjalanpun ada prosesnya. Aku (SD-SMA) dan ibu dulu seringkali sedikit batangka jika jawabku akan suatu hal “dak bisa”. Sejadi-jadinya ibu menceramahi hingga aku hafal narasi tersebut. “Yang paliang mudah di dunia ko yo ngecek dak bisa tu. Mudah se nyo ngecek dak bisa. Dicubo dulu, diusahokan. Pasti bisa. Dak ado awak ko nan bisa langsuang se do”. “Yo tapi kan bu………..”. “Dak ba tapi lai do”. Akibat respon (handeeh respon :’0) tersebut, jadilah mencoba banyak hal pun belajar banyak ya walaupun awalnya dengan rentetan rutok-rutok tak berbunyi. Saat-saat sekarang, saat-saat ibu tidak lagi sering menceramahi panjang, narasi yang terhafalkan itu acapkali membantu menguatkan entah di hal-hal yang sederhana ataupun sangat tidak sederhana. Saat ingin memulai sesuatu pun saat terasa ingin menyerah akan sesuatu.

Seorang ibu itu memang (amat) luar biasa ya. Menurutku, salah satu orang yang paling tegaan pada kita sebenarnya adalah ibu. Tegaan dalam arti untuk mendidik. Sebagian ayah mungkin juga demikian, namun tidak denganku. Jadi ingat pepatah Minang, “sayang anak dilacuik i…….”. Bukan karena ibu kejam, tentu bukan. Mana mungkin (!). Beliau yang melahirkan, beliau juga yang paling heboh saat kita terluka ya sebenarnya hanya luka kecil di lutut. Beliau juga yang memperjuangkan kita, saat tak seorangpun berani memperjuangkan. Beliau juga yang punya firasat kuat terkait anaknya. Cerewet, karek kayu, bangih, dan segala macam tegaan itu adalah salah satu bentuk sayang ibu.

A 2017

Assalamu’alaikum, long time no see. Moga kamu yang membaca dalam ‘afiyat. 

Selayaknyalah pada tiap kesempatan, harapan baru, awal baru yang diberi kita bersyukur. Kesempatan untuk memperbaiki diri, memohon ampun dan kesempatan untuk menjadi sesuatu. Tahun 2018, betapa tak menyangkanya bisa sampai di tahun ini. Mengingat banyaknya kesalahan di 2017. Tak berarti di tahun-tahun lain kesalahanku tak banyak, hanya di 2017 hal itu makin menjadi-jadi. Ba galemak peak. Banyak hal yang terjadi. 

Namun di 2017 jugalah banyak hal yang ku dapat. Salah satunya, diberi kesempatan melihat sisi lain dari dua terkasih yang selama ini tak kunjung terlihat. Jadilah lebih mengenal, lebih memahami serta lebih mencinta mensyukuri. 

Salah dua, dipertemukan dengan orang-orang tua baru yang tak segan menasihati, memarahi dan nyinyir. Di antaranya ada guru yang bisa menyentil bagian terdalamku, mengajari untuk melihat sesuatu secara lebih dalam dengan sudut pandang yang beda. Betapa bersyukurnya dipertemukan dengan beliau-beliau. Menyadari betapa menakjubkannya Rabb-ku dan dengan Segala KemahaanNya, betapa menakjubkannya juga diri ini sebagai ciptaanNya, betapa menakjubkannya segala keterkaitan di alam semesta ini. Seluruhnya!

Salah tiganya, melihat, mendengar dan membaca kisah-kisah nyata tentang cinta sejati, seseorang yang mencintai dengan tulus serta kisah nyata tentang cinta lainnya yang membuatku haru. “Jikalau kamu tak mendapati sesuatu yang ideal, bukan berarti sesuatu yang ideal itu tak ada”.

Jadilah di 2017 lebih mengenal diri sendiri. Dengan sudut pandang berbeda, melihat posisi diri berada dimana di antara mereka, beliau-beliau. Sungguh, sebenar-benar sungguh tak ada apa-apanya. 

Tak ada selain syukur atas kesempatan yang telah diberi. Moga bisa lebih baik dari diri yang lalu, moga bisa mensyukuri tiap kesempatan yang diberi baik dalam wujud syukur hati, lisan dan perbuatan. Amiin ❤😇 Begitu jugalah hendaknya denganmu. 

Bacakak

Dulu kami sangat sering bertengkar. Bukannya sekarang tidak. Hanya sering tidak atau pertengkaran dalam bentuk yang beda. “Irak Iran”, atau “Guguk meong”, gaek (kakek) sering berkomentar demikian. Waktu itu, kesal sekali rasanya dengan komentar yang seakan menyepelekan.. It’s a big deal for me. Ya, walaupun ujung-ujungnya lebih sering mengalah atau dipaksa mengalah. Okay, itu ujian khusus anak sulung.

But what?

Jika diingat dari aku yang sekarang, semua pertengkaran itu lucu, sweet, cute, memorable. Ada satu pertengkaran yang sangat berkesan, waktu itu aku masih kelas 4 SD dan Rehan kelas 2 SD. Loveable in the sametime hateable. Seperti pemanasan, pertengkaran pun demikian. Dan saat mulai panas…

“Halah anok lah a. Alah salah banyak kecek lo”.

“Indak urang. Awak yang anok”.

“Malawan wak?”.

“Iyo tu baa? Dak takuik ge han jo un do”.

“Caliak lah a, bantuak gau lai”.

“Agau iyo lo tu nyo”.

“Bacakak jo kalian dari tadi lai, dak juo salasai. Manga tu lai?”.

“Ko bu, si Rehan ko diambiak-ambiak nyo se barang ca”.

“Halah, urang minjam nyo eh”.

“Ado gau ngecek?”.

“Lai, agau nan pakak”.

“Ha, alah tu mah a. A tu barangnyo?”.

“Rol ca dek ibu. Patah lo dek nyo”.

“Halah, rol nyo”.

“Rol nyo pulo. Tau mah pi minjam lo. Sok. Ndeh alah, raso ka digarumeh”.

“Eh, kalian bacakak di lua ko dak malu? Awak kalau barunsanak ko bacakak dak ado urang (lain) nan ka malarai do. Galak urang nan lainyo. Salasaian di dalam nak”. [Kalau kita yang bersaudara bertengkar, tidak ada orang lain yang akan melerai. Yang ada, mereka tertawa].

Seingatku kalimat ibu saat itu terdengar sangat berat tapi bisa ku pahami, meresap. Ya, dibuatnya berpikir waktu itu. Dan yang penting, aku punya penggaris baru. 😀

Sekarang kalimat ibu itu senyap-senyap terdengar. Dan dibuatnya berpikir lagi untuk dipakaikan pada situasi kondisi sekarang. Melihat keluarga yang anggotanya bertengkar lalu mengumbar sana sini. It hurts. Mendengar seseorang mengunjing seseorang yang ia sebut teman pada orang lain. Like a knife. Menyaksikan anggota sebuah organisasi mengumbar konflik internalnya ke luar. Ndeh. Menyaksikan kita yang sekarang seperti ini. Padiah. I can’t control. Ingin memeluk tapi tak bisa dan kamu pun tak mau. You know, it cut me like a knife.

Terima Kasih

Kenapa lebih memilih pergi dan datang lebih awal? Karena masih bisa bersentuhan dengan udara yang benar-benar sejuk berembun, bisa duduk leluasa di angkot, lebih santai tidak tergesa-gesa khawatir tiba di sekolah terlambat, bisa awal sampai di kelas hingga bisa melihat satu persatu teman yang datang. Bagaimana wajah mereka pagi ini, ceria, sedih, suntuk, semangat atau bagaimana? Hanya ingin melihat. Daaaan agar bisa melihat kamu, si pemalu berkaca mata.

Beberapa hari yang lalu pertama kali kita berpapasan dan aku penasaran. Telah empat hari berselang dan setiap harinya berpapasan. Aku suka polanya. Kamu tahu? Bahkan agar selaras dengan polanya, aku memperlambat dan mengecilkan langkah. Tentu ada yang berbeda dengan langkah-langkahku yang lalu. Penasaran, harap dan senang. Itu saja. Kadang juga kecewa karena mendapati realita tak sesuai harap. Ah, rasa ingin tahu ini kadang-kadang juga keterlaluan. Kamu siapa? Sekolah dimana? Tinggal dimana hingga bisa berpapasan dekat sekolahku? Apa yang kamu bawa? Kamu berjalan dengan siapa saja (ini)?

Kamu si pemalu berkaca mata, berjalan beriring berempat. Ada ibu, kamu, dan dua adikmu. Setidaknya demikian menurutku. Kalian hampir setiap berpapasan membawa sesuatu yang dibungkus kresek, terkadang juga kain. Adakalanya membawa satu, kadang dua. Ingin sekali rasanya menyapa, aku hanya takut gagal. Hahaha. Kalian acapkali menghindari tatapanku. Tatapan itu bukan tatapan mengintai, kamu tahu? Tatapan itu hanya tatapan kala aku kecil mengumpulkan keberanian menyapa. Syukurlah keberanian itu bertambah setiap paginya. Dan akhirnya aku bisa menyapa beliau. Wajahnya yang terlihat dingin berbeban jika diam, sungguh manis dan hangat saat tersenyum. Aku ketagihan melihatnya. Dari cara berpakaiannya, aku menduga beliau jugalah seorang guru. Guru apa? Dimana? Sedangkan kalian (kamu dan dua adikmu)? Entahlah, kalian hanya pemalu. Walau dari jauh telah melihat, saat akan berpapasan kalian mengalihkan pandangan. Itu lucu. Hanya kadang kamu melihat lebih lama dari mereka. Mungkin seumuran.

Setahun di kelas lima ini sungguh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Hanya dengan berpapasan dan bisa mengamati orang baru ini, ada perubahan di hariku. Kamu tidak tahu itu. Rasa penasaranku terjawab, aku puas dengan itu. Wajah kalian tersimpan di memori. Hanya, aku merasa mengenal walaupun tak pernah benar-benar mengenal. Kalian menghilang setelah membiarkanku mencari jawab rasa ingin tahuku. Bagi aku kecil, pertemuan dan perpisahan seperti itu agak menyedihkan namun meninggalkan rindu.

Apalagi yang kalian tinggalkan untukku selain rindu dan jawaban rasa penasaran itu? Kalian meninggalkanku sebuah pelajaran. Kamu tahu? Tahun itu aku membuka tabungan di bank dekat sekolah, tabungan pelajar. Sedikit banyaknya itu karena kalian. Bawaan yang kalian tenteng itu menurutku adalah sesuatu untuk diletakan di kantin sekolahmu. Kamu dan dua adikmu membuatku malu. Anak sekecil itu yang (mungkin) seusiaku ini, membantu orang tuanya sebelum berangkat sekolah yang mungkin dengan mengantongi sesuatu dalam tentengan itu, memasak mungkin, itu hanya imajiku. Kalian bangun lebih pagi dari anak-anak yang lain, itu yang mungkin lebih pasti. Jikalau sudah demikian, kemungkinan besar juga kalian lebih berhemat dalam jajan bukan? Aku malu. Makanya untuk mengurangi rasa malu itu, aku menabung. Ya setidaknya itu. “Terima kasih”. Itu yang ingin kusampaikan.

Akhirnya Terlaksana

Akhirnya terlaksana juga rencana yang sudah cukup lama tertahan. Berkunjung kembali ke sana, ke Masjid Babburahman di Luak Anyia. Tempat yang dulu, selama lebih kurang setahun rutin ku datangi tiap siang hingga sore hari. Mangaji. Sangat suka dengan kata itu, hingga hari ini dan semoga sampai kapanpun. Rutinitas yang rasanya dulu cukup melelahkan, namun menyenangkan. Pulang sekolah, makan siang, sekolah lagi (mangaji).

Ternyata memang sudah lama sekali tidak ke sini, canggung saat berada di luar pagar karena bisa dikatakan cukup banyak (atau hanya beberapa?) yang berubah. Tepat sekali saat jam istirahat. Pagar masjid tidak pernah ditutup, hingga anak-anak saat jam istirahat bisa main ke luar. Jajanan favorit pensi dan karupuak kuah. Rasanya dulu seperti itu. Sekarang, pagar masjid ditutup rapat. “masuknya lewat pagar yang satu lagi dek”, kata abang-abang yang jualan. “O iya, makasi da”. Ada satu lagi pagar kecil dekat bangunan MDA. Sangat berasa asingnya. Anak-anak terlihat fokus sekali lari-larian. Dan lagi yang lebih asing, ukuran badan mereka rata-rata hampir sama. Pada kecil-kecil. Dulu rasanya cukup bisa membedakan mana siswa kelas 1 dan kelas 4. Lah ini kok (badan) kelas 1 semua? Hahaha

Meja tempat Ante jual karupuak kuah sudah lenyap. Lonceng besi yang dulu digantung, masih tergantung bedanya yang sekarang warnanya lebih gelap. “Assalamu’alaykum”. “Wa’alaykumusalam”. Ruangan gurunya masih seperti dulu. Aku rindu sekali dengan kepala sekolah yang juga sekaligus ustadzah kelas 4. Perkenalan diri yang cukup panjang. Bisa dimengerti, sudah lama sekali aku lulus dari sini. Butuh banyak petunjuk untuk para guru bisa mengingat. Setelah lebih kurang dua belas menitan, barulah beliau-beliau ingat. Walau bukan tentang bagaimana aku di sini, ya, paling tidak beliau-beliau ingat siapa teman-teman seangkatanku, orang tua, dan tempat tinggal. Itu sudah cukup mengharukan.

Hanya 2 orang guru yang aku kenal. Ustadzah Ta, Ustadz Zul. Sudah banyak yang diganti. Buk Wil, ustadzah kelas 4 sekarang mengajar di SD. Sedikit sedih, padahal sangat rindu dan ingin meminta maaf karena beberapa tahun yang lalu aku ragu (dan akhirnya tidak jadi) untuk menegur beliau saat seangkot. Tidak banyak yang bisa kuperbincangkan, naskah yang tadi telah disusun mendadak buyar. Hanya saja aku tersadar bahwa waktu memang benar-benar berjalan, membuat kita, lingkungan berubah. Ustadz Zul yang dulu masih memiliki wajah paling bersinar (baca: muda) di antara guru-guru yang lain, sekarang tidak lagi demikian. Walau masih ada yang tidak berubah dari beliau, kopiah haji masih setia di tempatnya, mata yang masih bulat, intonasi yang tetap tegas dan senyum kecil beliau. Sementara Ustadzah Ta, lebih kurus dan gelap. Tapi masih tetap cool!

Walau hanya setahun bersekolah di sini, tapi rasanya ingatanku akan tempat ini tidak kalah banyak dibandingkan selama tiga tahun di SMP. Tempat ini sungguh memberi pelajaran tentang keberanian, keikhlasan, tekad, jujur, memaafkan, kebijaksanaan, pertemanan dan juga tempat bagiku menyaksikan, bahkan untuk pertama dan terakhir kalinya (setidaknya hingga hari ini) mengalami sendiri apa itu bullying.