Terima Kasih Ibu

Harusnya kau bertanya apakah aku baik-baik saja. Namun kau hanya duduk menggenggam tanganku dengan tatapan mata berempati yang terasa meneduhkan. Sembari berbagai kalimat, pertanyaan, kemarahan, kesedihan dan kalimat tak berujung lainnya bergentayangan di kepalaku, kau masih tetap menatapku. Masih menatapku dan itu perlahan mengusir sesuatu yang bergentayangan. Rasanya sejuk. Sejuk sekali membiarkan tatapan itu menyiramiku. Teruslah begitu sebentar lagi saja. Teruslah menatapku dengan mata hitammu yang teduh. Teduh, setidaknya untuk kali ini mengecualikan matamu yang bertatapan tajam hingga selalu membuatku gugup.

Kali ini kau berhasil merubah emosiku. Dari gelegak marah, amukan galau menjadi haru yang memuncak. Ah, mataku memanas. Menyebalkan berlinang-linang di hadapanmu. Namun masih dengan tatapan itu aku sama sekali tak khawatir apa pendapatmu tentang air mata ini. Sebab matamu menyiratkan kepercayaan dan keapaadaannya. Terima kasih. Sangat bersyukur bisa memilikimu di sampingku, sangat bersyukur atas karunia Allah yang sangat berharga ini. Untuk saat ini aku hanya ingin memelukmu. Terasa sangat tenang bisa memelukmu dengan perasaan seperti ini. Biarlah tetap seperti ini untuk beberapa lama. Baiklah, terima kasih telah percaya padaku. Aku berjanji akan menceritakannya padamu setelah ini. Aku percaya kau akan mempercayai dan menerimaku apa adanya.

Oh, terima kasih telah bersedia menjadi tumpuan sandaranku. Aku ingin mandi, agar bisa berpikir lebih jernih. Dan kau, memelukku semakin erat. Ada apa? Oh, kumohon jangan menangis. Aku akan kehilangan akal melihatmu menangis, apalagi karena ulahku. Maafkan aku. Kian erat. Baiklah, biarlah seperti ini. Pelukanmu membuatku merasa berharga, terima kasih.

Sumpitan Pertama

Sore itu, di luar hujan berangin. Ada parak batuang (bambu) di belakang rumah, jadi hembusan angin juga membuat mereka bersuara yang semakin membuat mata mengantuk. Tepat di hari Minggu. Hanya ada ibu, aku dan adik di rumah. Ibu, lalu memasak mi goreng dari dua bungkus mi favorit kami, mi Atom Bulan. Entah benar itu merk nya atau tidak, kami menyebutnya begitu. Dibandingkan dengan mi instan seperti Indomie, Gaga, atau Supermie benar mi Atom Bulan ini tidak lebih praktis. Hanya ibu saja, sekali lagi, hanya ibu saja yang bisa memasak mi jenis ini di rumah. Mi tak berbumbu, dari pabriknya memang hanya tok mi kering saja. Manalah tahu dan manalah mau repot aku dan adik yang merebus air dan menjarang nasi saja adalah prestasi terhebat dan hanya itu yang bisa kala itu. Jadi, akhirnya sore hujan berangin itu ibu masak mi. Aroma dan rasanya selalu sama, entah bagaimana. Hanya satu yang tak ku suka dari ibu jika masak mi. Perbandingan mi dan sayurnya, satu banding setengah. Untuk seorang yang tak terlalu suka, dan kalau bisa tidak makan sayur, memilahnya sebuah perjuangan sendiri. Terlebih, siapa cepat dia nambah. Agak sedikit menyakitkan. Hahahay.

sumpit_persegi

“Coba kali ini makan pakai sumpit”. “Gak bisa Bu”, kami serentak jawab. “Diajari”. Hmm, padahal nyaris mendarat di mulut. Ibu mencontohkan cara memegang sumpit. Di rumah ada dua pasang sumpit. Aku masih ingat, sumpit kayu hitam panjang yang tidak lagi mengkilat. Baru pertama kali, di usia segitu (8 tahun) aku melihat ibu lihainya memakai sumpit. Perempuan satu ini, memang tak pernah bisa kehilangan cara membuat ku kagum, walau dia tak menyadari. Tengah kami berdua berkali mencoba, kadang hanya dua untai yang masuk, ibu memindahkan mi beliau ke piring dan makan dengan garpu. Sesekali memberi arahan.

Hari itu, hari pertamaku dan adik makan dengan sumpit. Walau lama, tapi akhirnya bisa dan bahagia sekali rasanya. Tetap saja, kami makan lebih banyak dari ibu. Masih beliau sisakan banyak di kuali. “Latihan sampai bisa”, begitu kata beliau. Sekarang, saat aku makan mi ayam, mi rebus, atau apapun jika menggunakan sumpit, kenangan itu selalu terlintas. Aku masih ingat betul penampakan mi Atom Bulan saat ibu bilang, “lah masak”. Adukan terakhirnya ibu angkat dengan sanduak, dari mi goreng warna orange kemerahan itu mengepul asapnya ke langit-langit dapur. Aromanyapun aku masih ingat jelas. Sumpit hitam panjang itu, walau sudah dibuang dan sekarang entah dimana menjadi apa, masih ada di kenangan.

Sekarang, saat aku belajar tentang anak usia dini, memakai sumpit adalah salah satu cara untuk melatih keterampilan motorik halus. Sekali lagi, aku hanya kagum saja dengan ibu yang natural sekali caranya. Ibu. Bukankah menakjubkan saat masih diberi kesempatan memanggil seseorang, Ibu?

 

 

 

 

 

Gambar diambil dari rumahkerajinan.com

Hanya Memberi Tahu

“Aturan macam apa itu yang kamu buat? Tidak memperbolehkan orang lain jatuh cinta? Memangnya kamu siapa bisa mengatur apa yang dirasakan orang?”, masih terngiang-ngiang ucapan dan ekspresinya. Dia tidak marah, dia tahu itu. Dia hanya kesal. Mengapa dia tidak bisa atau setidaknya sedikit saja mau mengerti. Dia pun sering berpikir mengapa dia tak bisa membiarkan dirinya mengerti. Tidak akan serumit itu jika, sedikit saja dia mau menerima apa yang yang dilihat dan dirasa selama ini. Sadar sesadar-sadarnya, dia memang begitu. Meski berkali-kali dia memberitahukannya, namun memang tak pernah sekalipun dia meminta dicintai, dia hanya memberi tahu bahwa dia mencintai. Terlalu egoiskah dia tidak membiarkannya dengan perasaannya? Terlalu egoiskah dia menutup mata atas apa yang benar-benar dia lihat? Sehatkah jika dia membohongi diri sendiri sekali lagi?

Dia Sayang Keduanya

Masih berdiri mematung di sana, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Tak mungkin bisa rasanya ia melupakan, walau sangat ingin. Dia, orang yang selama ini sangat ia hormati, sangat ia sanjung, ia jadikan pedoman kala memilih seseorang nanti menampar ibunya, di ruang tamu. “Apa salah ibu hingga pantas di tampar?”. “Apakah ini sering terjadi?”. “Apa hanya dia seorang yang baru menyadari ini?”. “Apakah…..”. Masih banyak pertanyaan lain yang membuatnya takut melanjutnya karena takut pada jawabannya. “Apakah ayahnya seorang yang demikian?”. Bukan seorang lelaki yang selama ini ada dalam bayangannya? Mereka berdua tidak menyadari kehadirannya, sebab jauh di belakang pintu dari perantara selanya. Mereka terlalu asik dalam dunianya, hingga kehadiran dia tak sempat tersadari.

Dia berjalan lambat ke kamar dan duduk lantai dekat jendela. Terlalu shock untuk menangis, dan belum cukup bijak untuk mengerti. Gadis dua belas tahun itu memandang jauh ke langit, entah apa yang ia amati. Apakah langit dapat menjadi kanvas untuk menayangkan adegan-adegan masa lalu, tadi dan masa yang akan datang? Beberapa lama setelahnya, mulai jatuh setetes dari mata kanannya. Ia usap, lalu kerlip-kerlip kan mata. Di atas meja, ada sebuah album dengan sambul biru dongker berukuran 30 x 50 cm. Diambilnya dan dibuka perlahan. Halaman pertama terdapat enam foto. Ayah dan ibu ketika masing-masing masih muda, gadis dan bujang di waktu dan tempat berbeda. Empat foto lainnya adalah foto saat resepsi pernikahan mereka. Penuh dengan nuansa merah. Berulang-ulang ia amati, berusaha melihat apa yang selama ini, setiap kali ia membuka halaman pertama album, tidak ia lihat. Deg. Terlalu bodoh atau butakah ia selama ini tidak memperhatikan bagaimana ekspresi wajah ketika melihat beragam foto? Ekspresi wajah! Ibu dan ayahnya. Mereka memiliki ekspresi yang berbeda. Ya, barangkali memang ada ekspresi wajah orang berbeda-beda untuk menunjukan hal yang sama. Tapi ia serasa sangat yakin bahwa apa yang dilihatnya kali ini benar. Dan bukan sesuatu yang bisa ia tangani. Apakah orang dewasa demikian? Apakah selalu demikian?

Di empat foto di halaman pertama itu, ibunya menunjukan ekspresi datar. Atau lebih tepatnya berusaha mendatarkan ekspresi? Dan bisa dibayangkan apa yang dia rasakan saat itu. Yang jelas bukan bahagia. Deg. “Itukah?”, suara kecilnya bertanya. Pandangannya beralih pada sang ayah. Dia tersenyum bahagia, dia yakin, dia tahu senyum ayahnya. Memandang ke langit lagi, ia coba berbincang dengan diri sendiri. “Apa yang harus ia lakukan?”. “Haruskah ia berpihak? Pada siapa?”. Pertanyaan tak berujung dan tak terjawab hingga akhirnya ia tertidur dalam posisi duduk menyandar pada dinding. Dia sayang keduanya.

Rimah #3

Sepiring melanjung nasi putih dengan asap mengepul mulai diaduk bersama merahnya samba lado oleh tangan tebalnya. Tidak ada satu tiupan pun yang dikeluarkan untuk sekedar meliukan asap yang mengepul. Tangan tebalnya tampaknya semakin kuat setelah menerima banyak pujian. Bagaimana tidak, sepanas apapun nasi ia akan tetap mengaduk. Si tangan semakin kuat melakukan hal yang hanya ia seorang yang bisa lakukan di rumah (itu). Dia memang memiliki kebiasaan untuk mengaduk nasi dengan lauk, ya paling tidak dengan yang berkuah.  Hanya jika makan di rumah, tidak di luar. Aroma nasi berwarna kemerahan itu kini membuatnya menitikan air liur. Sepotong telur dadar dengan aroma bersaing ditumpuknya di atas nasi kemerahan. Secuil dadar dan sesuap nasi telah berada di genggamannya. “Lah, baca doa makan”. Kedua orang yang sedari tadi memperhatikan adegan menggugah selera tersebut langsung patuh dan “Aamiin”. Segera yang berada di genggaman tadi berpindah ke mulut salah seorang dari dua. Reda namanya. Bibir tipisnya menganga besar mengimbangi suapan sang ayah. Dikatupkan setelah terisi penuh, lalu mengunyah. Nikmat. Berikutnya giliran Anda. Anak sulung ayah ini menikmati suapan dengan mata terpejam, malas merasakan bibirnya yang menganga lebar. Bergantian hingga nasi di piring habis, di tambah lalu di aduk lagi dan habis. Keduanya sangat berterima kasih dan kemudian berpaling ke arah televisi. Sang ayah, Arya menyendokan nasi untuk ketiga kalinya dengan porsi sama melanjung, samba lado, mangalincoan, dadar dan makan. Kepedasan, kecepatan, kenikmatan, keringat, eksotis. Satu lagi ritual saat makan yang tidak terlupa, menjilati jari jemari. Nikmat hingga tak boleh tersisa barang sebutir nasi pun. Ia mencuci tangan kemudian berselojor di dekat Reda. Anda dan Sani, sang ibu membereskan seperangkat hidangan tadi. Meja makan dan lemari es selalu menjadi hal menarik untuk didekati. Hanya sekedar memeriksa apa yang bersembunyi. Membahagiakan, yang berhubungan dengan lambung. Bahkan jika pada keduanya tidak ada apa-apa, kebiasaan memeriksa ini harus diapakan selain hanya dilakukan? “Tidak ada apa-apa”, Anda menutup lemari es, menuju dapur. “Ibu, nanti kita bikin lauk apa Bu? Hmm, taragak baluik lado ijau Anda Bu”. “Baluik? Kalau gitu, setelah ini kita ke pasar. Membayangkan lado ijau dan nasi yang baru masak sepertinya pasangan serasi. Sayurnya Mau apa?”. “Ndeh, sayurnya terserah ibu aja. Anda ndak suka sayur Bu”. “Walau ndak suka, harus dimakan biar sedikit. Lihat, kulit Anda mulai kering”. “Jadih lah Bu”.