Si Muncung yang Berkomentar Menilai dan Menghakimi

Hatiku bergidik ngeri saat mendengar ujung sebuah percakapan beberapa orang tua yang seangkot denganku. “Ka bakarik jo sianyo?”. “Jo keluarga si Ano tu a, si @##%**# paja pamaneh pamain tangan tu a”. “Onde garik lo wak nyo mandanga tu. Kok samo men anak jo apak beko baa ka aka du. Nan padusi ko lunak nampak di wak”. Hadeuh, harusnya memang tak di dengar, tapi baalah bukannya di- tapi ter-.

Ada yang menggelegak di dalamku. Ketidaksukaan? Ya, ketidaksukaan. Aku merasakan ada pergerakan di wajah. Ah, ini memang kelemahan! Tak bisa mengontrol ekspresi wajah di detik-detik awal. Coba ya, apa yang salah dengan anak bujang si paja? Dia dihakimi atas sesuatu yang bukan kesalahannya? Op sudah, kesal sangat. Terlepas dari kemungkinan si bujang berperangai sama dengan si paja ada, tapi kan juga ada kemungkinan untuk tidak sama. Ah, ibu-ibu ini memang asal melantong saja.

Asal melantong jugakah jika ada yang bilang, “Apaknyo lai Aji, pi anaknyo. . .”, atau “Adiak Aji, akak bulubaji”. Ataupun asal melantong-melantong lain. Memang ya, semua orang yang punya muncung bisa berkomentar, bisa menilai. Tapi mereka kadang lupa, orang lain juga punya muncung.

Apakah adil menisbahkan keburukan seseorang pada seorang lain? Sekalipun itu keluarga? Kita tak tahu seberapa bakuhampeh, basitojeh, kerasnya usaha seseorang agar keluarga atau orang terdekatnya menjadi baik. Sebab terkadang, betapapun seseorang ingin dan berusaha agar salah satu anggota keluarganya menjadi baik, saulah, hasil akhirnya ada pada Sang Pemilik Hati. Ia yang tahu siapa yang berhak menerima hidayah dan Ia pulalah yang berhak memberiNya. Itu sesuatu yang mutlak.

Bagi yang dengan ringannya berkomentar menilai, belum tentu pula jika ia diamanahi anggota keluarga yang tangka, mada, katimbalang atau apalah istilahnya, bisa memperbaiki bisa mengontrolnya. Sebagaimana kata orang tua-tua, “Sadonyo lah sudah lo dek Tuhan”.

Jangankan kita manusia biasa, apa yang terjadi pada manusia pilihanpun semisal Nabi Lut~istrinya, Nabi Nuh~anaknya, Nabi Ibrahim~ayahnya, Nabi Muhammad~pamannya, bisa dijadikan pelajaran bahwa seseorang tak punya kemampuan untuk memastikan orang lain menjadi baik. Itu hak mutlak Allah. Sebagaimana manusia-manusia pilihan tadi, apakah ia buruk sebab tak bisa mengajak menjadikan anggota keluarganya baik? Tidak tentunya. Jadi jangan mudah menghakimi.

image

Sungguh, bisakah terlihat hikmah dari ini? Jikalau baik saja seluruh anggota keluarga dari suatu garis keturunan, atau jikalau tangka saja seluruh anggota keluarga dari suatu garis keturunan, maka baik dan buruk akan mengeksklusif dengan sendirinya. Bisa jadi ada orang yang seumur hidup tak tahu mana yang buruk, juga bisa jadi ada orang yang seumur hidup tak tahu mana yang baik. Jikalau demikian, tak adalah sarana menyebarluaskan yang baik, sarana berdakwah, ujian dalam wujud keluarga. Bukankah dari disajikannya yang buruk, tahulah yang baik itu bagaimana? Sementara belum tentu jika disajikan yang baik diketahui itu bagaimana yang buruk.

Selain itu, selalu terbukalah kemungkinan berubah seorang yang tangka menjadi saulah, bulubaji menjadi baik, keras hati menjadi lembut hatinya, yang hatinya belum tersentuh petunjuk menjadi ditunjuki hatinya, ataupun sebaliknya.

Allah itu Maha Adil, hanya dalam pandangan manusia saja segala sesuatu terlihat timpang-timpang. Sekali lagi, jangan terlalu ringan untuk berkomentar, menilai atau menghakimi wahai muncung(ku).

Tetaplah Menjadi Kenangan Sesuai Porsinya

Bagaimana bisa aku melupakan sementara aku tahu, aku tak mau kau hilang. Barangkali itulah yang menjadi sumber penyakit tak terdeteksi selama ini. Selalu ingin mengenangmu. Ada yang berbeda di setiap waktu ku mengenang. Untuk saat ini aku bisa melihat caraku mengenangmu sebagai sesuatu yang harus kusyukuri. Bersyukur telah dipertemukan dengan orang sepertimu. Bersyukur mengetahui bahwa orang sepertimu memang benar-benar ada. Bersyukur karena telah bisa melihatmu nyata, bukan sebagai seorang yang benar-benar asing, walaupun masih asing.

image

Terima kasih telah menyapa, berbicara, melihat dan menatap. Terima kasih telah perbolehkanku mendengar, izinkanku melihat dalam mata(mu). Sekarang mungkin aku akan lebih damai dengan cara pandang seperti ini. Sedikit demi sedikit kau rela ku lepas agar bisa membayangi siapapun dan kapanpun. Benar, aku masih tak ingin melupakan, tapi juga takkan memaksa untuk selalu mengenangmu.

Jika kau akan hilang, maka hilanglah dengan tidak menyakitkan. Jika kau akan terlupakan, maka lupalah tanpa aku harus melupakan. Tetaplah menjadi kenangan, sesuai porsinya.

Imaji Sebuah Anugerah

Salah satu dari tak terhingganya anugerah menurutku, adalah kebolehan berkhayal. Dengannya kita bisa mengadakan yang tak ada. Dengannya kita bisa memperkirakan berbagai kemungkinan sebab akibat. Dengannya kita bisa melakukan apa yang tak bisa, belum, dan akan kita lakukan. Dengannya kita bisa memanipulasi emosi. Serta ada satu hal dari berkhayal yang sangat menakjubkan, yaitu kerahasiaan dan keindependenannya.

image

Tidakkah menakjubkan jika kita bisa tersenyum di saat marah? Tidakkah menakjubkan jika kita bisa melihat mendengarkan suara seseorang saat tak seorangpun bisa mendengarnya? Tidakkah menakjubkan jika kita bisa berada di suatu tempat yang tidak pernah kita kunjungi sama sekali? Tidakkah menakjubkan saat kenyataannya tak seorangpun bisa diajak berbicara, lalu tiba-tiba hadir seseorang yang mau mendengar dan menemani dengan sabar. Tidakkah menakjubkan saat kita takut berada di kegelapan malam lalu entah dari mana ada cahaya disertai keramaian yang juga entah apa.

Anugerah yang satu ini sungguh akan bermanfaat jika dimanfaatkan, akan mudharat jika salah dimanfaatkan

Niaik: Di Nan Saketek Tu Lah Acok Wak Kanai

Di suatu siang, bertemulah 2 sekawan yg telah berpisah lama (9 bulan 😐).
1: “Woi Udin, kama si gau?”
2: “Eh, Assalamu’alaikum kawan lah lamo wak dak batamu nak. Lai sihaik si kawan Ji?”.
1: “Alaikumsalam. Yo baa nan nampak dek gau kini ko nyo ko, awak sihaik alhamdulillah. Hmm, hantah awak nan salah hantah apo pi agak babeda aura gau taraso a”.
2: “A wak nan babeda taraso dek kawan Ji?”.
1: “Ntik sacah. Hmm, agak segeh gau nampaknyo kini. Dari ma gau cako go?”
2: “Halah sagan mangecekan wak gagah si kawan nak? Tu segeh se bakecekan. Hahaha. Wak dari surau cako”
1: “Surau ma go? Kadai gau kecekan surau pulo”
2: “Ndak eh, wak sabana dari surau kawan. Baa, ka ikuik kawan Sabtu bisuak jo wak?”.
1: “Tasapo gau? Pi syukurlah kok takah itu. Ncak jo tu, Sabtu bisuak sabanalah a. Eh mintak nomor gau lah, baganti pi dak maagiah tau” [Tarago mangetik] “Takana di wak, dek a gau barubah go? Ndeh sagan lo wak ba gau2 lai”.
2: “Awalnyo dek mambaco quote dek kawan. “Pasangan tu cerminan diri wak”, tu jano. Tasintak wak, baransua2lah sajak tu”.
1: [Angguak2] “Tu?”
2: “Yo itu. Baransua2lah wak melokan sumbayang dulu tu pai2 ka surau li”.
1: [Manyimak]
2: “Anok me kawan Ji?”
1: ” Hmm, dak eh tapikia lo di wak eh”
2: “A du?”
1: “Pi jan malantiang lo kawan dak”
2: “Ndak eh”
1: “Ko manuruik pemahaman wak kawan a. Kok awak barubah karano nio dapek pasangan nan elok, salah niaik wak tu ndak? Bisa2 masuak siriak juo tu dek niaiknyo untuak selain Allah”
[Haniang]
2: “Tu?”
1: “Awak barubah ka nan elok tu rancak nyo kawan. Cuma amalan ko kan tagantuang niaik. Niaikanlah wak barubah ko sabagai bantuak taat wak ka Allah bukan nan lain2. Nyo saketeknyo kawan tapi di nan saketek tu lah acok wak kanai. Kok masalah pasangan tu nyo manuruik si beko tu nyo. Mantun a”.
2: “Masuak kawan. Tu baa wak kini lai go?”
1: “Jalan jolah di jalan nan samo cuma niaiknyo babeda. Parbarui niaik wak kawan”
[Haniang]
1: “Baa tu aniang me kawan?”
2: “Dalam kecek kawan Ji. Aturannyo awak nan kawan bawo dak awak nan mambawo kawan do”
1: “Halah, apo lo tu kawan a. Awak samo awak jo no eh”.

Kau Tampan dengan Demikian

Pagi ini (25082016) anginnya berhembus cukup kencang hingga menimbulkan suara yang agak menakutkan, dan cukup sering. Jikalau dia berubah wujud menjadi sesuatu yang bisa kulihat, entahlah seperti apa wujudnya. Menakutkankah? Lucukah? Tampan? Cantik? Entahlah ya. Yang pasti aku hanya merasa takut kala dia seakan mengamuk dan meninggalkan jejak pada padi-padi yang sekarang tampak miring. Aku tahu angin tak bermaksud jahat, setiap gerak dan keberadaannya adalah dalam rangka kepatuhan pada Penciptanya. Iya aku tahu, dia (sangat teramat) jauh lebih taat.

Menyoal wujud atau katakanlah rupa, beberapa waktu lalu aku kembali tersadar akan sesuatu tentangnya. Kembali tersadar maksudku adalah ya telah berkali-kali aku sadar dan paham tentangnya namun juga berkali-kali hal itu terlupakan atau hanya kadang tak kuacuhkan, terkesampingkan.

Sekali waktu aku bertemu dengan seorang pemuda seusiaku. Aku lupa namanya, entah Wahyu, Bayu, ya semacam itulah. Itu beberapa tahun yang lalu. Mengapa dia? Karena dia seorang pemuda yang istimewa. Entahlah, setidaknya menurutku. Dia tinggal berdua dengan adik perempuannya yang kala itu masih bersekolah di MTSN. Orang tuanya telah lama meninggal. Dia (Wahyu/Bayu/yang semacam itu) cukup tampan bahkan jika kamu hanya melihat sekilas. Akan lebih tampan jika kamu melihat matanya, hitam bersih. Wajahnya? Putih bersih. Rambutnya? Sepertinya agak ikal dan tebal. Dia lumpuh (layu), bermula dari obat yang dia konsumsi saat demam waktu kecil yang sebenarnya itu hanyalah ka sabab. Ibunya juga demikian. Katanya kulit beliau terasa seperti terbakar setelah minum obat kampung yang sebenarnya itu juga hanyalah ka sabab. Seingatku dia bercerita begitu. Semakin lama lumpuhnya semakin parah, hingga waktu itu dia hanya beraktifitas di rumah. Sungguh aku tak ingat detailnya, tapi seingatku ketampanannya bertambah setelah dia bercerita. Dia sama sekali tidak terlihat bersedih, menyesal, marah dengan apa yang menimpanya. Sama sekali. Dia kuat atau terlihat kuat. Kamu tahu hobinya apa? Hobinya membaca dan satu lagi yang membuatku nyaris berair mata, dia (berusaha) menghafal Al-Qur’an. Entah telah berapa juz, aku lupa. Dia, sungguh tampan. Tepat setahun setelah itu, sungguh terkejut mendapati kabar dia meninggal.

Orang seperti dia dan yang melekat padanya mengajarkanku definisi tampan yang (sebenarnya) lain.

Lagi, masih tampan. Pemuda (?) kali ini lebih tua dariku, mungkin awal 30an. Tinggi, tidak kurus tidak gemuk, rambutnya ikal dan tebal, kulitnya sawo matang, yang sedikit tacelak adalah bulu matanya lentik. Kenapa dia? Dia sakit. Terlihat kedinginan dan sangat kesakitan, mungkin perutnya. Dia bersandar pada ibunya sembari mengenggam tangan istrinya yang sedang hamil mungkin 4 atau 3 bulan. Istrinya, berlinang, cemas. Ya, semua orang di sana terlihat cemas. Saat itu aku terbayang banyak hal. Terbayang bagaimana dia di keseharian, bagaimana saat dia tertawa, saat ketakutan, bagaimana saat dia seusiaku, lebih kecil dan lebih kecil lagi. Lalu apa yang dia pikirkan saat ini? Aku juga terbayang dia berwujud adikku. Apa yang dia rasakan? Ketakutankah dia? Apa yang dia pikirkan? Kemungkinan terburukkah atau apa? Dia terlihat kacau dan sangat lemah.

Sekali lagi, tidak tampan tapi cantik. Dari kacamataku sebagai perempuanpun, dia terlihat cantik. Apa yang istimewa darinya? Selain kecantikan, dia juga pintar dan katakanlah berkecukupan. Tapi, satu lagi kelebihannya yaitu memiliki lidah yang tajam. Bermulut tajam. Uh, tajam sangat. Bahkan dari sudut pandangku sebagai anak kecil ataupun yang sudah tidak kecil lagi. Orang-orang di lingkungannya (sebagian kecil/besar) berusaha sedapat mungkin untuk tidak berurusan dengannya, dan ada jug yang menggunjingnya.

Kamu tahu? Ketampanan, kecantikan, kepintaran, kekayaan dan hal-hal semacam itu ada saatnya tidak akan berguna sama sekali. Kapan itu? Saat sakit, terdampar jauh dari peradaban, menginjakan kaki di tempat yang sama sekali asing, kemalingan, sakratul maut, misalnya.  Seperti pemuda pertama. Dia tidak sekolah tinggi, katakanlah hingga S3 namun ilmunya telah teruji. Ilmu yang katanya paling sulit, ikhlas dan ridha. Tidak hanya menerima ketentuan Allah terhadapnya, namun menerima segala ketetapan Allah padanya dengan senang hati. Lantas apa guna ketampanan wajahnya? Apakah menyebabkan ia dikecualikan dari ujian? Tidak. Namun ada ketampanan lain yang sangat perlu dipandang darinya. Ketampanan hati. Karena dengan tampan yang demikianlah sesungguhnya seseorang menjadi tampan. Sebaliknya juga dengan tidak baiknya perangai ataupun hati, seseorang yang sangat tampan sekalipun akan menjadi biasa-biasa saja bahkan buru(a)k. Kemudian pemuda kedua, ketampanan atau jika tampan itu memang relatif lalu katakanlah keelokan rupa. Dimana keelokan rupa tidak menjadi pengecualian untuk ia bisa terlihat lemah, mengiba. Tidak mengecualikan dia dari kebutuhan akan orang lain dan dari kebutuhan akan Penyembuhnya. Pada kondisi-kondisi tertentu, semisal saat seseorang berada pada titik terbawah hingga ia tersadar bahwa tak bisa berbuat apa-apa, bahwa ia tak memiliki daya apapun untuk merubah sesuatu, di saat seperti itulah keelokan rupa tak ada gunanya, tak akan di(ter)pandang sama sekali. Dalam kondisi yang demikian, seseorang hanya akan kembali pada Yang Satu. Terakhir, si perempuan yang dengan keelokan rupanya tak lantas menjadikannya disukai disenangi. Lalu apakah benar seseorang disukai karena fisiknya? Ya, mungkin hanya sepersekian persen benarnya.

21072013-to-lawang-21

Keelokan rupa bukanlah suatu hal yang mendefinisikan seseorang menjadi tampan, jelek, biasa, cantik, anggun, manis, apapun. Kalaupun itu dapat mendefinisikan, itu hanya definisi yang dangkal. Teringat celetukan seorang tua, “Mau parasnya cantik atau gagah, apa yang bisa dibanggakan? Toh itu semua Allah yang beri, Allah yang ciptakan”. Lalu apa yang bisa menjadi indikator seseorang itu elok? “Akhlak adalah faktor penyebab laki-laki tampak gagah dan perempuan tampak cantik. Akhlaklah yang menyebabkan manusia menjadi manusia (Abdurahman As Sa’di)”.

Bacakak

Dulu kami sangat sering bertengkar. Bukannya sekarang tidak. Hanya sering tidak atau pertengkaran dalam bentuk yang beda. “Irak Iran”, atau “Guguk meong”, gaek (kakek) sering berkomentar demikian. Waktu itu, kesal sekali rasanya dengan komentar yang seakan menyepelekan.. It’s a big deal for me. Ya, walaupun ujung-ujungnya lebih sering mengalah atau dipaksa mengalah. Okay, itu ujian khusus anak sulung.

But what?

Jika diingat dari aku yang sekarang, semua pertengkaran itu lucu, sweet, cute, memorable. Ada satu pertengkaran yang sangat berkesan, waktu itu aku masih kelas 4 SD dan Rehan kelas 2 SD. Loveable in the sametime hateable. Seperti pemanasan, pertengkaran pun demikian. Dan saat mulai panas…

“Halah anok lah a. Alah salah banyak kecek lo”.

“Indak urang. Awak yang anok”.

“Malawan wak?”.

“Iyo tu baa? Dak takuik ge han jo un do”.

“Caliak lah a, bantuak gau lai”.

“Agau iyo lo tu nyo”.

“Bacakak jo kalian dari tadi lai, dak juo salasai. Manga tu lai?”.

“Ko bu, si Rehan ko diambiak-ambiak nyo se barang ca”.

“Halah, urang minjam nyo eh”.

“Ado gau ngecek?”.

“Lai, agau nan pakak”.

“Ha, alah tu mah a. A tu barangnyo?”.

“Rol ca dek ibu. Patah lo dek nyo”.

“Halah, rol nyo”.

“Rol nyo pulo. Tau mah pi minjam lo. Sok. Ndeh alah, raso ka digarumeh”.

“Eh, kalian bacakak di lua ko dak malu? Awak kalau barunsanak ko bacakak dak ado urang (lain) nan ka malarai do. Galak urang nan lainyo. Salasaian di dalam nak”. [Kalau kita yang bersaudara bertengkar, tidak ada orang lain yang akan melerai. Yang ada, mereka tertawa].

Seingatku kalimat ibu saat itu terdengar sangat berat tapi bisa ku pahami, meresap. Ya, dibuatnya berpikir waktu itu. Dan yang penting, aku punya penggaris baru. 😀

Sekarang kalimat ibu itu senyap-senyap terdengar. Dan dibuatnya berpikir lagi untuk dipakaikan pada situasi kondisi sekarang. Melihat keluarga yang anggotanya bertengkar lalu mengumbar sana sini. It hurts. Mendengar seseorang mengunjing seseorang yang ia sebut teman pada orang lain. Like a knife. Menyaksikan anggota sebuah organisasi mengumbar konflik internalnya ke luar. Ndeh. Menyaksikan kita yang sekarang seperti ini. Padiah. I can’t control. Ingin memeluk tapi tak bisa dan kamu pun tak mau. You know, it cut me like a knife.

Niat Sebelum Belajar

Sebelum belajar, haruslah ada niat dari rumah benar hendak menambah pengetahuan dan pengetahuan yang akan membawa kepada iman. Jangan semata-mata karena hendak tahu atau hendak menguji kepandaian guru dalam dangkal ilmunya. Kalau ada dasar niat yang demikian dari rumah, maka walaupun ilmu tentang agama bertambah-tambah, belum tentu perasaan agama akan masuk meresap ke dalam jiwa.

[ Hamka ]