Aku Menyayangimu Itu Saja

Rasanya ingin sekali menampar kata-katamu
Apa daya
Hanya sengau angin sebab ia tak dalam wujud yang bisa kulihat
Ia masuk ke telinga dan menggerogoti seluruh tubuhku

image

Sungguh benci pada diri sendiri yang dengan lalainya mengizinkan kata-katamu mempengaruhi
Aku memaki dan bertanya-tanya
“Kenapa tak bisa kuabaikan kata-kata darimu sementara bisa kulakukan pada kata-kata dari banyak orang lain?”
Benci
Aku butuh waktu untuk merunut jawabnya
Ketika berujung pada kenyataan bahwa “Aku menyayangimu”
Itu saja
Namun tetap saja sakit rasanya
Melihat dan mendengar dengan mata dan telinga sendiri sisi lain dari orang yang disayangi yang selama ini tak kunjung nyata terbukti
Walau untuk waktu yang lama ku rasa aku telah mengetahuinya

Tetaplah Menjadi Kenangan Sesuai Porsinya

Bagaimana bisa aku melupakan sementara aku tahu, aku tak mau kau hilang. Barangkali itulah yang menjadi sumber penyakit tak terdeteksi selama ini. Selalu ingin mengenangmu. Ada yang berbeda di setiap waktu ku mengenang. Untuk saat ini aku bisa melihat caraku mengenangmu sebagai sesuatu yang harus kusyukuri. Bersyukur telah dipertemukan dengan orang sepertimu. Bersyukur mengetahui bahwa orang sepertimu memang benar-benar ada. Bersyukur karena telah bisa melihatmu nyata, bukan sebagai seorang yang benar-benar asing, walaupun masih asing.

image

Terima kasih telah menyapa, berbicara, melihat dan menatap. Terima kasih telah perbolehkanku mendengar, izinkanku melihat dalam mata(mu). Sekarang mungkin aku akan lebih damai dengan cara pandang seperti ini. Sedikit demi sedikit kau rela ku lepas agar bisa membayangi siapapun dan kapanpun. Benar, aku masih tak ingin melupakan, tapi juga takkan memaksa untuk selalu mengenangmu.

Jika kau akan hilang, maka hilanglah dengan tidak menyakitkan. Jika kau akan terlupakan, maka lupalah tanpa aku harus melupakan. Tetaplah menjadi kenangan, sesuai porsinya.

Jangan Bertanya Karena Kamu Tidak Sesederhana Itu

“Maafkanlah jika kamu pernah merasa tidak nyaman dengan kehadiranku. Maafkanlah juga jika tingkahku memperlakukanmu tidak seperti yang diharapkan. Setelah itu jika aku boleh berberita, kamu adalah salah satu orang yang tidak banyak alasan bagiku untuk tidak menyukai, ya itu tidak butuh waktu lama menyadarinya. Aku mendapatimu adalah orang yang bisa membaca apa yang ada, walau tidak seratus persen akurat mungkin. Ya, kamu orang yang demikian. Jadi saat kamu bisa mendengar bahkan saat aku tak berbunyi lalu untuk apa aku berbunyi? Sepertinya sebagian besar rahasiaku, terbaca olehmu. Tak mengapa. Menemukan seseorang yang bisa berkomunikasi dalam hening itu cukup menyenangan. Kamu seperti seorang teman lama yang belum aku kenal. Terima kasih banyak”.

Bersabab keinginan untuk selalu disukai, penilaian acapkali tidak objektif. Jikalau bisa menyingkirkan itu barangkali tidak akan ada yang merasa sakit di hati. Bukankah rasa tidak hanya perihal suka dan tidak suka? Banyak rasa yang lain, sangat banyak. Seumpama manis, asam, asin, pahit dan gurih yang bisa dikecap lidah. Jika bicara hati, bukankah ia lebih sensitif? Bukankah ia lebih perasa? Bukankah ia lebih kaya? Jadi jangan membatasi rasa hanya antara suka dan tidak. Hati manusia tidak sedangkal itu. Tidak semudah itu untuk mengartikan rasa dan menempatkannya hanya di antara suka dan tidak suka. Kamu tidak sesederhana itu. Ataupun jika kamu memang seorang yang sederhana, bagiku untuk mendeskripsikan, mengartikan dan mengkategorikanmu tidaklah sederhana, sangat tidak. Jadi jangan pernah minta untuk hanya sekedar disukai atau tidak disukai lagi.

Maafkanlah mereka yang pernah singgah hanya untuk melihat, untuk menilai, hanya untuk menertawakan, untuk menyakiti, meninggalkan luka yang selalu kamu coba darinya untuk sembuh, dan maafkanlah juga mereka yang meninggalkan kebencian di hatimu ataupun membuatmu rendah diri. Bukankah sesungguhnya mereka hadir untuk mengajarkanmu manisnya sabar, indahnya lapang dada dan nikmatnya memaafkan? Berterima kasih dan bersyukurlah kamu telah mengenal mereka. Itu pelajaran yang mahal, jadi balaslah dengan mendoakan kebaikan baginya.

Sebaliknya, mungkin ini tidak selalu tersadari olehmu. Sesering kamu merasa menemukan orang-orang yang meninggalkan bekas luka, pasti (Insya Allah) akan selalu ada orang yang tetap tinggal ataupun berpisah denganmu dan meninggalkan rasa yang lain. Orang-orang yang tulus menyukaimu, objektif menilaimu, jujur bersahabat denganmu,  dan ingin mengenalmu sebagai seorang manusia bukan sebagai ini itu yang berhubungan dengan status, pekerjaan, usia, tempat tinggal, suku, fisik, prestasi, siapa keluargamu, penilaian orang tentangmu, atau juga ia tidak bersikap padamu sebagai balasan atas sikapmu padanya. Bukan rasa sakit tapi rasa yang ingin kamu jaga dan rasakan lagi dan lagi. Bukan rasa pedih namun rasa yang membuatmu belajar menghargai kehadirannya dalam hidup. Bukan rasa yang kamu usahakan untuk sembuh. Bukan rasa yang akan menjatuhkan namun rasa yang membuatmu kuat. Bukan rasa yang membuat kamu hanya berkutat memikirkannya namun rasa yang membuatmu berpikir merefleksikan dan memperbaiki diri. Ya, akan ada orang yang akan meninggalkan rasa-rasa demikian. Sebagaimana tidak sesederhana mengkategorikan seseorang untuk disukai atau tidak disukai, mereka yang tetap tinggal atau berpisah darimu itu membuatmu merasakan rasa-rasa yang tidak sederhana.

Jikalau Tidak Semua Orang, Bisa Saja Kamu

Memalingkan wajah bisa jadi itu caramu menghindari ketidaknyamanan. Tapi bagaimana jika sesering kamu berpaling, sesering itu pula dia menghampiri. Masih bisakah berpaling? Semakin tidak nyaman? Ingin lari? Apalagi? Namun kamu tahu untuk menghampiri setelah kamu memalingkan wajah, itu butuh kelapangan dada dan keberanian. Dia membalas ketakutan dan kedangkalan sikapmu dengan kelapangan dada dan keberanian. Sesering kamu, sesering itu juga dia. Terlepas dari apa yang ada di dalam (hati), sikapnya yang demikian perlahan membuat pudar ketakutan dan sikap yang dangkal. Dia menjadi salah satu orang yang bisa membuatmu merenggangkan pintu. “Orang ini istimewa”, pikirmu. Ada orang yang bisa membuatmu perlahan terbuka dan santai setelah sebelumnya selalu menghindari, memalingkan wajah darinya, bagimu itu adalah sesuatu yang istimewa. Entahlah baginya. Akan ‘menjaga’nya dengan caramu, membuatnya merasa istimewa dengan caramu, menyamankannya dengan caramu.

Jikalau hati kuibaratkan sebagai pintu sebuah rumah, maka seseorang adalah pemilik rumah. Tiap-tiap pemilik rumah mungkin akan berbeda hal-hal yang bisa membuatnya membuka pintu. Akan berbeda pula waktu yang ia butuhkan untuk membuka pintu dan caranya membuka pintu.

Kamu tahu setiap orang berbeda, begitu juga denganmu (kan?). Tidak semua orang bisa dan ingin diklasifikasi ke sana dan sini, sebagaimana juga kamu. Tidak semua orang bisa melihatmu utuh saat pertama kali bertemu, demikian juga kamu. Tidak semua orang bisa mendekatimu, menemanimu, menjagamu, menghormatimu, sebagaimana kamu tidak bisa demikian pada semua orang. Tidak semua orang bisa menerjemahkan kebaikanmu sebagai kebaikan, sebagaimana juga kamu. Namun tentu di antara semua orang itu ada yang bisa menerjemahkan kebaikanmu sebagai kebaikan, ketakutanmu sebagai sesuatu yang perlu dikuatkan, kedangkalan sikap dan keenggananmu sebagai sesuatu yang perlu digali, keras kepalamu sebagai sesuatu yang dapat dilunakkan dengan sabar, demikian juga kamu (bukan?). Untukmu, di antara semua orang, tidak semua orang bisa namun ada orang yang bisa. Dan untuknya, di antara semua orang, tidak semua orang bisa namun ada orang yang bisa. Bisa saja kamu.

Aku Bisa, Jika Kamu Izinkan

Kamu kenal aku? Terserah

Aku bisa membuatmu ketakutan dengan ucapan/tingkahku. Membuatmu memikirkan itu untuk waktu yang lama hingga kamu ketakutan, lagi, lagi dan semakin ketakutan. Ketakutan untuk keluar dan bertemu denganku. Ketakutan dan menepi di sudut ruangmu. Ketakutan untuk bisa menebus kesalahanmu walaupun itu tak terhubung denganku. Ketakutan hingga kamu tak berani membuka mata, melangkahkan kaki untuk melakukan apapun yang kamu mau, hal baru apapun yang ingin kamu coba, apapun yang baik untukmu. Ketakutan untuk berhadapan dengan cermin. Takut jika nanti kamu akan dapati sosok serba berkekurangan seperti ucapanku dan kamu tak bisa terima.

Aku bisa membuatmu bersedih dengan ucapan/tingkahku. Membuatmu berpikir betapa sempurnanya kehidupanku, beruntungnya menjadi aku hingga kamu bersedih dengan sebab perbandingan kesempurnaan itu. Bersedih dengan ucapanku yang hanya kamu telan, termakan.

Aku bisa membuatmu bahagia dengan ucapan/tingkahku. Membuatmu memikirkan betapa bernilainya kritikan, cemoohanku untuk menguatkan langkahmu. Bahagia akan perhatianku hingga kamu tahu, tak sendiri di dunia ini hingga kamu tahu, selalu ada yang memperhatikanmu, menasihati dengan masing-masing caraku. Bahagia setelah kamu menemukan makna perbandingan kita hingga menerima dan bersyukur terasa nikmat.

Aku bisa membuatmu patah hati bahkan hingga tak tertata lagi. Membuatmu memikirkan betapa tak adilnya jika tangan yang kamu lihat bertepuk lantas menamparmu. Patah hati setelah kepercayaanmu ku khianati. Patah hati setelah segenap pencurahan, lantas aku meninggalkanmu. Hilang.

Aku bisa membuatmu jatuh hati dengan ucapan/tingkahku. Membuatmu bersyukur telah dipertemukan denganku hingga terasa ada yang bergetar olehmu. Jatuh hati hingga kamu menjabatiku sebagai sesuatu yang istimewa. Jatuh hati hingga salahku kamu koreksi dan maafkan. Jatuh hati hingga kamu tersenyum lagi dan lagi.

Aku bisa membuatmu tersingkir dengan ucapan/tingkahku. Membuatmu berpikir bahwa aku adalah tokoh utama dan kamu hanya debu yang terbawa angin. Tersingkir hingga kamu berpikir tak ada seorangpun di dunia ini yang menjadikanmu tokoh utama. Tersingkir hingga kamu khilaf lupa bahwa sebagai seorang tokoh yang dengan keutamaan tersendirilah kamu bermaksud diciptakan.

Ya entah itu kamu mengenalku atau tidak, aku bisa membuatmu takut, sedih, bahagia, patah hati, jatuh hati, tersingkir dan segudang lainnya.

Lalu bagaimana? Seberkuasa itukah aku terhadapmu? Itu yang aku pertanyakan padamu. Seberkuasa itukah aku terhadap hati dan pikiranmu?

Bukankah yang memiliki kendali atas hati dan pikiranmu adalah sesuatu yang kamu sebut aku?

Lalu kenapa kamu membiarkanku mengambil alih kendalinya? Bodoh!

Lakukan apa yang kamu mau. Dekatilah apa-apa yang baik untukmu, lihat, dengarkan, pahami dan peluklah. Tidakkah bodoh jika aku bisa berkuasa menghambat pandangan, pendengaran dan langkahmu?

Kendalikan dengan baik amanah Yang Menciptakanmu berikan. Karena tentu kendali atas hati dan pikiran yang Ia amanahi bukan hal yang main-main

Pada akhirnya, aku pasti bisa membuatmu takut, sedih, bahagia, patah hati, jatuh hati, tersingkir dan apapun itu namanya jika kamu izinkan.

Aku bisa, jika kamu izinkan.