Imaji yang (me) Nyata

Pernahkah kamu mempunyai sesosok tokoh imajiner? Me-imaji sesosok tokoh? ­čÖé

Kali ini biarkan aku bercerita tentang dia ya, sesosok tokoh imajinerku. Actually, 2 sosok.

Dulu, dulu sekali sewaktu SD sebagaimana beberapa teman lain, juga ingin rasanya menjadi adik dari seorang abang. Ya, walaupun memang tidak mungkin tapi tetap direalisasikan dengan tokoh imajiner yang tersimpan rapi. Saat bisa me imajikannya, sungguh sangat ku syukuri karuniaNya satu itu. Amat membantu untuk tidak dengki dengan yang orang lain punya. Setiap waktunya aku tumbuh, bertumbuh pula setiap detail ‘si abang’. Dan itu membuat dia mendekati nyata. (Ingin) Dia melindungi, maksudnya ada saat aku terancam, penampilan luarnya santai, dalaman perhatian, pintar, taat, sopan dan pandai bergaul, tak sungkan berbagi denganku tentang hal-hal yang beraroma maskulin, menegur saat aku salah dan lain sebagainya. Memang dalam perjalanan waktunya aku dapati satu atau dua setail melekat pada beberapa orang. Hanya tetap saja tak terasa ter-nyata-kan. Terkadang, aku berupaya agar sosok itu ada dengan cara melekatkan detail pada diri sendiri. Hingga sekarang, mungkin telah berbelas tahun sejak pertama mengimajinya hingga terlupa (kadang) pernah membuat sosok itu ada. Beberapa tahun lalu, aku bertemu seseorang yang nyaris serupa dengan detailku. Tak ada lain selain syukur dan bahagia menemukan sosok demikian yang tak hanya sekedar bisa diimajikan, namun juga nyata.

Sekali waktu aku bertemu sesosok ayah dengan detail ‘si abang’ miliki. Aku hanya sekali lagi bersyukur sebab ia yang nyata ini ternyata ‘lebih sempurna’ dari abang imajiner. Barangkali itulah sebabnya saat pertama kali bertemu ‘mereka’ yang di dunia nyata ini, aku serasa telah mengenal lama. Biati dengan segala sesuatu tentang mereka.

image

Aku yang sebelumnya tak pernah berharap akan bertemu sosok nyata dari imajiku, Dia pertemukan. Membuatku tersentak malu sekaligus syukur. Malu sebab meragukan benarkah ada seseorang yang ideal di kehidupan nyata? Syukur sebab ternyata banyak orang-orang ideal (baik, keren) yang sangkaku hanya imajiner, tersuruk di luasnya kenyataan.

Aku Bisa, Jika Kamu Izinkan

Kamu kenal aku? Terserah

Aku bisa membuatmu ketakutan dengan ucapan/tingkahku. Membuatmu memikirkan itu untuk waktu yang lama hingga kamu ketakutan, lagi, lagi dan semakin ketakutan. Ketakutan untuk keluar dan bertemu denganku. Ketakutan dan menepi di sudut ruangmu. Ketakutan untuk bisa menebus kesalahanmu walaupun itu tak terhubung denganku. Ketakutan hingga kamu tak berani membuka mata, melangkahkan kaki untuk melakukan apapun yang kamu mau, hal baru apapun yang ingin kamu coba, apapun yang baik untukmu. Ketakutan untuk berhadapan dengan cermin. Takut jika nanti kamu akan dapati sosok serba berkekurangan seperti ucapanku dan kamu tak bisa terima.

Aku bisa membuatmu bersedih dengan ucapan/tingkahku. Membuatmu berpikir betapa sempurnanya kehidupanku, beruntungnya menjadi aku hingga kamu bersedih dengan sebab perbandingan kesempurnaan itu. Bersedih dengan ucapanku yang hanya kamu telan, termakan.

Aku bisa membuatmu bahagia dengan ucapan/tingkahku. Membuatmu memikirkan betapa bernilainya kritikan, cemoohanku untuk menguatkan langkahmu. Bahagia akan perhatianku hingga kamu tahu, tak sendiri di dunia ini hingga kamu tahu, selalu ada yang memperhatikanmu, menasihati dengan masing-masing caraku. Bahagia setelah kamu menemukan makna perbandingan kita hingga menerima dan bersyukur terasa nikmat.

Aku bisa membuatmu patah hati bahkan hingga tak tertata lagi. Membuatmu memikirkan betapa tak adilnya jika tangan yang kamu lihat bertepuk lantas menamparmu. Patah hati setelah kepercayaanmu ku khianati. Patah hati setelah segenap pencurahan, lantas aku meninggalkanmu. Hilang.

Aku bisa membuatmu jatuh hati dengan ucapan/tingkahku. Membuatmu bersyukur telah dipertemukan denganku hingga terasa ada yang bergetar olehmu. Jatuh hati hingga kamu menjabatiku sebagai sesuatu yang istimewa. Jatuh hati hingga salahku kamu koreksi dan maafkan. Jatuh hati hingga kamu tersenyum lagi dan lagi.

Aku bisa membuatmu tersingkir dengan ucapan/tingkahku. Membuatmu berpikir bahwa aku adalah tokoh utama dan kamu hanya debu yang terbawa angin. Tersingkir hingga kamu berpikir tak ada seorangpun di dunia ini yang menjadikanmu tokoh utama. Tersingkir hingga kamu khilaf lupa bahwa sebagai seorang tokoh yang dengan keutamaan tersendirilah kamu bermaksud diciptakan.

Ya entah itu kamu mengenalku atau tidak, aku bisa membuatmu takut, sedih, bahagia, patah hati, jatuh hati, tersingkir dan segudang lainnya.

Lalu bagaimana? Seberkuasa itukah aku terhadapmu? Itu yang aku pertanyakan padamu. Seberkuasa itukah aku terhadap hati dan pikiranmu?

Bukankah yang memiliki kendali atas hati dan pikiranmu adalah sesuatu yang kamu sebut aku?

Lalu kenapa kamu membiarkanku mengambil alih kendalinya? Bodoh!

Lakukan apa yang kamu mau. Dekatilah apa-apa yang baik untukmu, lihat, dengarkan, pahami dan peluklah. Tidakkah bodoh jika aku bisa berkuasa menghambat pandangan, pendengaran dan langkahmu?

Kendalikan dengan baik amanah Yang Menciptakanmu berikan. Karena tentu kendali atas hati dan pikiran yang Ia amanahi bukan hal yang main-main

Pada akhirnya, aku pasti bisa membuatmu takut, sedih, bahagia, patah hati, jatuh hati, tersingkir dan apapun itu namanya jika kamu izinkan.

Aku bisa, jika kamu izinkan.