Aku Menyayangimu Itu Saja

Rasanya ingin sekali menampar kata-katamu
Apa daya
Hanya sengau angin sebab ia tak dalam wujud yang bisa kulihat
Ia masuk ke telinga dan menggerogoti seluruh tubuhku

image

Sungguh benci pada diri sendiri yang dengan lalainya mengizinkan kata-katamu mempengaruhi
Aku memaki dan bertanya-tanya
“Kenapa tak bisa kuabaikan kata-kata darimu sementara bisa kulakukan pada kata-kata dari banyak orang lain?”
Benci
Aku butuh waktu untuk merunut jawabnya
Ketika berujung pada kenyataan bahwa “Aku menyayangimu”
Itu saja
Namun tetap saja sakit rasanya
Melihat dan mendengar dengan mata dan telinga sendiri sisi lain dari orang yang disayangi yang selama ini tak kunjung nyata terbukti
Walau untuk waktu yang lama ku rasa aku telah mengetahuinya

Mencintai lewat kata-kata

Tepat sekali jika ada yang berkata atau hanya sekedar berpikir, “tidak semua hal bisa diungkapkan”. Acapkali tersentuh saat melihat dan mendengarkan lebih sekitar. Terlihat seorang ibu yang sangat tegas mendidik anaknya, seorang ayah yang terkesan dingin, seorang guru yang galak, adik yang bandel, dan terkadang teman yang menggombal. Hanya ini? Tentu tidak. Tidak semua hal bisa diungkapkan bukan? 🙂

 

Manusia sebagai manusia teramat sering (sebagian besarnya) kurang mampu menilai, bahkan berpikir objektif. Demikian juga orang ini. Saat melihat si ibu yang sangat tegas mendidik anaknya, sempat terpikir bahwa ibu ini agak kejam dan berlebihan. Sampai saya tidak sengaja mendengar si ibu, “Jadikanlah dia seorang laki-laki yang shaleh dan mandiri ya Allah. Aku memang bukan seorang ibu yang baik, namun aku sangat mencintainya dan selalu mencoba yang terbaik yang ku bisa untuknya”. Ayah yang terkesan dingin, di lain kesempatan saya mendengarnya berkata-kata dengan suara nyaris tak terdengar. “Alhamdulillah. Berikanlah aku rezeki untuk bisa membesarkan anak ini ya Allah. Hari ini ia telah membuat aku, ayahnya bangga, semoga aku juga bisa membuatnya sebagai anak bangga”. Sebelum ini saya hanya beberapa kali melihat si ayah mengantarkan anaknya sekolah dan dipanggil guru BK, memang salah satu teman itu cukup jahil. Namun hari itu, saat penerimaan rapor saya (duduk di sebelahnya) hampir menangis melihat wajah dan suara beliau yang sangat haru. Lalu seorang guru yang galak, ditambah lagi mata pelajaran yang beliau ajar berhubungan dengan angka-angka. Jarang senyum, nada dan standar nilai yang tinggi, tinta pena beliau yang sering terlukis abstrak di buku latihan, dan semua itu mengerikan. Hingga saya melihat dan mendengar beliau memperjuangkan kami sekelas, di saat hampir seluruh guru yang mengajar kami lelah, nyaris menyerah, dan acap kali mengatakan kami bandel, malas dan bodoh. Saya terharu. Ternyata, guru yang selama ini mengerikan, mencintai kami saat semuanya nyaris menyerah. Adik yang bandel, susah di atur, sering melawan dan sebagainya itu bisa menampar saat tidak sengaja terdengar ia berdoa, “lindungi kakak saya ya Allah”.

Dan yang terakhir, saat melihat teman yang menggombal. Menggombal, mencintai lewat kata-kata? Menurutku bukan. Sangat bukan! Itu hanya permainan saja. Tetapi sayangnya, kebanyakan dari kami (perempuan), senang dengan gombalan, verbal. Bukan hanya di sekolah saja, di luaran sana juga banyak, hanya saja perkenalan awalnya di sekolah. Teringat dengan seorang teman di sekolah yang bisa dibilang sering menggombal, walau bukan ke sembarang orang. Dia orang yang terlihat sama sekali berbeda saat ia sendiri, dibandingkan saat dia berkumpul dengan teman-temannya. Dia terlihat lebih ramah, berwibawa, dan pintar saat ia sendiri. Namun saat ia bersama teman-temannya, acapkali walau bukan selalu ia terlihat angkuh dan lagi, menggombal. Menurut mata ini, seorang laki-laki yang sering menggombal, hanya akan terlihat kurang berwibawa dan kurang pintar.

Sering mendengar atau melihat cinta terpendam? Ya, menurut saya ini lebih baik dibandingkan cinta yang diungkapkan pada tempat dan waktu yang kurang tepat. Kurang tepat, jika harapannya adalah pacaran. Lebih sejuk mana mendengar, “Aku suka kamu”, dari pada, “Aku menyukainya. Dan Engkau sumber segala cinta, berikanlah aku rasa cinta pada-Mu melebihi apa yang aku cintai di langit dan di bumi. Jadikanlah dia perempuan shalehah, dan jika kami berjodoh, mudahkanlah jalan itu, jika tidak, persulitlah ya Allah”. Agak panjang memang, tapi ini adalah salah satu versi doa orang jatuh cinta yang pernah didengar.

berdoa

Semua itu doa.

BERDOADoa yang acapkali diucapkan kala sendiri, kala orang yang didoakan tidak berada di samping orang yang mendoakan. Menurut saya, doa adalah ungkapan cinta. Walau yang didoakan tidak mengetahuinya, namun itu lebih menyentuh sebab ia lebih dengan hati, pengharapan, keikhlasan menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan pada Pemilik Segalanya (seperti: hati, cinta dan dirinya) terkait orang yang didoakannya. Mendoakan seseorang, tidak perlu biaya, tidak bersyarat yang aneh-aneh, hanya perlu kemauan dan itu akan ada saat kita merasa mendoakan seseorang itu adalah hal yang penting, sebab kita ingin yang terbaik untuknya, sebab kita mencintainya. Doa seorang ibu untuk anaknya, ayah utuk anaknya, kakak untuk adiknya, guru untuk muridnya, presiden untuk rakyatnya, teman untuk temannya, saudara untuk saudaranya. Di rantau kala sangat rindu dengan orang tua, doakanlah beliau. Jika orang tua telah meninggal, jika cinta pasti selalu mendoakannya, minimal setelah shalat fardhu. Ungkapan terima kasih pada seseorang yang telah berjasa, doakanlah kebaikan untuknya. Mencintai seseorang (seseorang), berdoalah, doakanlah ia, itu sepertinya lebih bernilai dan menenangkan dari pada cerita sana sini. Walau dia tak melihat dan mendengar itu, ya, itulah cinta yang tidak pamrih. 🙂 Dialah tempat terbaik untuk berkeluh kesah, tempat terbaik untuk menyampaikan hal yang tidak tersampaikan, tempat berahasia.