Semoga Tak Sia-Sia

Beberapa waktu lalu adik saya demam. Napasnya sesak, badannya panas dan batuk-batuk. Tubuhnya sangatlah sensitif es, es batu atau es krim. Serumah selalu wanti-wanti dia jika ia mau es, sedang memegang es, melihat es. Bukan apa-apa, kasihan melihatnya sesak napas, ya selain dia nyenyeh saat sakit.

Siang itu dia membuka kulkas mengambil air es, “Tambah sasak angok beko” (Nanti napasnya tambah sesak lo). Diam beberapa lama. “Dicampua jo aia biasonyo Un, ndak baa gai do” (Gak apa kok Un, dicampur sama air biasa). “Gak usahlah, plis”. “Ingin sehat atau nggak sih?” Dia tetap kekeh. Ya udah, dibiarkan. Sebagaimana biasa, malamnya napasnya tambah sesak dan badannya tambah panas. Ingin rasanya bilang, “Tu lah, lah dikecekan mada jo” (Kan, udah dibilang), namun tidak tega rasanya. Jadilah malam itu agak kesal-kesal kasihan.

Teringat pesan seorang guru saat beliau menjelaskan sebuah doa. Salah satu potongannya, “Ya Allah aku berlindung padaMu dari fitnah dan azab neraka”. “Tak benar jika kita memohon perlindunganNya dari azab neraka namun kita sendiri tak menjauh darinya (neraka)”. Tidaklah sejalan jika kita memohon perlindungan Allah dari neraka namun kita tidak menjauh dari apa-apa yang bisa menyebabkan masuk atau mendapat azab neraka. Beliau menyebutnya sebagai, “Bagarah-garah. Karajo nan ka sio-sio men”. Jadi, sudahkah kamu wahai diri memohon lindunganNya dari neraka dengan sebenar-benar memohon perlindungan?

Advertisements

Si Muncung yang Berkomentar Menilai dan Menghakimi

Hatiku bergidik ngeri saat mendengar ujung sebuah percakapan beberapa orang tua yang seangkot denganku. “Ka bakarik jo sianyo?”. “Jo keluarga si Ano tu a, si @##%**# paja pamaneh pamain tangan tu a”. “Onde garik lo wak nyo mandanga tu. Kok samo men anak jo apak beko baa ka aka du. Nan padusi ko lunak nampak di wak”. Hadeuh, harusnya memang tak di dengar, tapi baalah bukannya di- tapi ter-.

Ada yang menggelegak di dalamku. Ketidaksukaan? Ya, ketidaksukaan. Aku merasakan ada pergerakan di wajah. Ah, ini memang kelemahan! Tak bisa mengontrol ekspresi wajah di detik-detik awal. Coba ya, apa yang salah dengan anak bujang si paja? Dia dihakimi atas sesuatu yang bukan kesalahannya? Op sudah, kesal sangat. Terlepas dari kemungkinan si bujang berperangai sama dengan si paja ada, tapi kan juga ada kemungkinan untuk tidak sama. Ah, ibu-ibu ini memang asal melantong saja.

Asal melantong jugakah jika ada yang bilang, “Apaknyo lai Aji, pi anaknyo. . .”, atau “Adiak Aji, akak bulubaji”. Ataupun asal melantong-melantong lain. Memang ya, semua orang yang punya muncung bisa berkomentar, bisa menilai. Tapi mereka kadang lupa, orang lain juga punya muncung.

Apakah adil menisbahkan keburukan seseorang pada seorang lain? Sekalipun itu keluarga? Kita tak tahu seberapa bakuhampeh, basitojeh, kerasnya usaha seseorang agar keluarga atau orang terdekatnya menjadi baik. Sebab terkadang, betapapun seseorang ingin dan berusaha agar salah satu anggota keluarganya menjadi baik, saulah, hasil akhirnya ada pada Sang Pemilik Hati. Ia yang tahu siapa yang berhak menerima hidayah dan Ia pulalah yang berhak memberiNya. Itu sesuatu yang mutlak.

Bagi yang dengan ringannya berkomentar menilai, belum tentu pula jika ia diamanahi anggota keluarga yang tangka, mada, katimbalang atau apalah istilahnya, bisa memperbaiki bisa mengontrolnya. Sebagaimana kata orang tua-tua, “Sadonyo lah sudah lo dek Tuhan”.

Jangankan kita manusia biasa, apa yang terjadi pada manusia pilihanpun semisal Nabi Lut~istrinya, Nabi Nuh~anaknya, Nabi Ibrahim~ayahnya, Nabi Muhammad~pamannya, bisa dijadikan pelajaran bahwa seseorang tak punya kemampuan untuk memastikan orang lain menjadi baik. Itu hak mutlak Allah. Sebagaimana manusia-manusia pilihan tadi, apakah ia buruk sebab tak bisa mengajak menjadikan anggota keluarganya baik? Tidak tentunya. Jadi jangan mudah menghakimi.

image

Sungguh, bisakah terlihat hikmah dari ini? Jikalau baik saja seluruh anggota keluarga dari suatu garis keturunan, atau jikalau tangka saja seluruh anggota keluarga dari suatu garis keturunan, maka baik dan buruk akan mengeksklusif dengan sendirinya. Bisa jadi ada orang yang seumur hidup tak tahu mana yang buruk, juga bisa jadi ada orang yang seumur hidup tak tahu mana yang baik. Jikalau demikian, tak adalah sarana menyebarluaskan yang baik, sarana berdakwah, ujian dalam wujud keluarga. Bukankah dari disajikannya yang buruk, tahulah yang baik itu bagaimana? Sementara belum tentu jika disajikan yang baik diketahui itu bagaimana yang buruk.

Selain itu, selalu terbukalah kemungkinan berubah seorang yang tangka menjadi saulah, bulubaji menjadi baik, keras hati menjadi lembut hatinya, yang hatinya belum tersentuh petunjuk menjadi ditunjuki hatinya, ataupun sebaliknya.

Allah itu Maha Adil, hanya dalam pandangan manusia saja segala sesuatu terlihat timpang-timpang. Sekali lagi, jangan terlalu ringan untuk berkomentar, menilai atau menghakimi wahai muncung(ku).