Hanya (boleh) dengan Jujur

Jika kau datang hanya saat kau bisa, tak sama sekali bermasalah untukku. Jika kau bicara hanya saat kau ingin, itu juga tak masalah. Walaupun ini dan walaupun itu. Jika kau menatapku hanya saat kau mau, tak apa-apa. Bagiku, tidak akan masalah selama engkau melakukan apa yang ingin kau lakukan. Bagiku tak akan masalah sejauh kau tak apa-apa. Aku tak ingin menuntut, tak ingin memaksa, tak ingin membebanimu, maka jadilah dirimu sendiri. Hanya saja aku ingin kita melangkah ke yang lebih baik setiap waktunya, sambil tetap saling menggenggam. Kau takkan tahu betapa berharganya kamu bagiku. Aku sendiripun tak menemukan kata untuk membahasakan. Jangan menderita karenaku, jangan terluka karenaku, jangan. Kau boleh mencintaiku dan hanya boleh mencintaiku dengan jujur.  

Aku Mencintaimu, Un

Saat ini aku menyadari bahwa waktu benar-benar cepat berlalu. Waktu itu kamu dengan gagahnya menjadi tamengku di sekolah, dan aku selalu dengan senang hati menerima. Berdiri di depan kelasmu dengan wajah memelas, sebuah isyarat yang agaknya selalu membuatmu terganggu dan sedikit malu pada teman sekelas. Isyarat dan paksaan agar kamu memberiku beberapa lembar kertas berharga bergambar Pattimura. Ah! Senangnya, walau kamu pasti menggerutu karena jajan yang telah disisihkan memang benar-benar tersisihkan. Memanggilmu sebagai pertolongan pertama jika aku membuat masalah di sekolah. Aku tahu kamu deg-degan setengah mati berhadapan IMG_3807dengan guru, dilema antara harus membela adik atau membela kebenaran. Menggenggam erat tanganku saat kita menyeberang jalan raya. Mengantarku hingga kelas. Hampir setiap pagi menggerutu menyiapkan bekal untukku, jika belajar sore. Menggerutu saat harus membelanjaiku jika kamu minta tolong dibelikan sesuatu, aku kan ingin juga. Wajah kesalmu saat aku tidak membereskan tempat tidur.

Sekali lagi, saat ini aku menyadari bahwa waktu benar-benar cepat berlalu. Sekarang kita telah tumbuh, dimana kamu telah menjadi seorang dewasa. Apa yang telah kita lalui. Waktu. Ternyata karena waktu hubungan kita bisa berubah. Dalam waktu, yang biasa menjadi aneh. Dalam waktu, yang dekat perlahan menjauh. Cara kamu menamengiku pun sudah jauh berubah. Caramu membelaku pun juga jauh berubah. Kita telah tumbuh kan? Aku mulai malu jika kita jalan berdua, sebab barangkali orang bisa salah menyangka kita pacaran. Akupun mulai malu jika perlindunganmu itu nyata terlihat, karena sekarang aku adalah seorang adik laki-laki yang seharusnya bisa menjaga kakak perempuannya. Kita mulai malu untuk saling berpegangan, malu untuk bagaluik, bacakak. Marahmu bukan dengan gerutu dan wajah yang dilipat lagi, namun dengan diam. Sekarang, kita jarang berbincang, jarang berdua hingga terkadang kikuk saat berdua lagi. Akupun tidak mudah lagi menggucap, “Sayang Uun”, “Makasih yo Un”, “Un, masa’ tadi kawan Han bla bla bla”, “Un, jan kecekan lo ka ibu ndak?”. Sekarang acapkali aku begitu juga aku melihatmu, binggung untuk mengungkapkan dan memperlihatkan satu sama lain bahwa ,”Aku mencintaimu”. Semua itu kian abstrak. Sekarang aku hampir 19 tahun, kamu mendekati 21 tahun. Kita satu sama lain berusaha untuk dekat kembali tentu dengan caranya masing-masing, aku merasakannya dan yakin kamu pun juga. Aku berharap, walau kita terus akan bertumbuh, kita akan selalu dekat dengan cara bagaimanapun juga. Akan saling melindungi, menyayangi dengan cara yang bagaimanapun juga. “Un, aku mencintaimu”.