Rimah #4

Dia datang dengan berbagai tuntutan. “Kamu seharusnya begini, seharusnya begitu”. Sejujurnya aku muak, merasa tak berdaya dan ingin sekali agar dia tidak kembali datang. Bukannya tidak diusahakan untuk memenuhi, hanya saja tetap tidak terpenuhi. Dia datang lagi. Kuusahakan semampuku, tetap tidak terpenuhi. Dia datang lagi. Dia dan tuntutan itu adalah bagian lain dari diriku yang selalu inginkan kesempurnaan, kemulusan, kelancaran dan hal-hal berbau serupa. Bohong jika dikatakan aku tak ingin menjadi orang baik, orang disiplin dan teman-temannya. Namun bohong juga rasanya jika ku katakan telah berusaha semampuku, sekuat tenaga untuk memenuhinya. Mungkin lebih tepatnya ‘hanya seinginku’, ‘sebisaku ketika itu’. Terlalu santai, itulah mungkin dia, bagian lain dari diriku sekarang.

Mulai dari hal-hal yang sederhana, “Harusnya bangun lebih pagi lagi”. “Harusnya lebih rajin lagi”. “Harusnya lebih berani lagi”. “Harusnya lebih ambisius lagi”. “Harusnya dan harusnya”. Bisakah dia diminta diam? Salah satu ketakutan terbesarku adalah tidak bisa menerima diri sendiri. Sejujurnya aku lelah dengan berbagai tuntutan dari dalam ini. Katakanlah tuntutan dan pandangan orang terhadapku telah mampu kusiasati dengan selektif mempertimbangkan mana yang menurutku layak dipertimbangkan dan kadang masa bodoh. Tidak terlalu peduli lagi dengan perbandingan yang kadang otomatis mereka lakukan. Butuh waktu memang hingga aku tak lagi mempermasalahkannya. Ejekan yang paling menyakitkan adalah ejekan diri atas diri sendiri. Keraguan paling menyebalkan adalah saat diri sendiri ragu terhadap yang dilakukannya. Itu.

Jadi, memang harus jugalah kiranya seseorang mengenal dirinya sendiri lantas memperbaiki mana yang pantas diperbaiki. Itulah yang kuupayakan. Agar tak lagi kecewa dan takut dari dalam ini terus menerus meneror. Sebagaimana contoh yang sederhana di atas, dapat dimulai juga dengan suatu yang sederhana. Pun memang benar kata orang tua-tua, juga pernah ku singgung pada tulisan sebelumnya bahwa, “Yang susah itu membiasakan yang tidak biasa dan menidakbiasakan yang biasa”. Dia menuntut “harusnya bangun lebih pagi lagi”, diupayakan saja untuk dapat memenuhinya, gagal hari ini dicoba lagi besok. Setidaknya ada kemajuan setiap paginya. Semisal juga dengan menulis ini, entah bagi banyak orang mungkin menulis bagai air mengalir. Kapanpun bisa, dimanapun dan tentang apapun. Belumlah aku sampai ke sana. Tuntutan dari dalam untuk dapat menulis rutin tentang apapun itu juga terkadang membuatku sesak napas. Tak ada yang bisa dilakukan selain memulai. Memulai membiasakan yang tidak biasa dan menidakbiasakan yang biasa. Membiasakan yang baik dan menidakbiasakan yang kurang baik. Namun memang, sebelum terbiasa haruslah dipaksa.

Ketakutan tidak menerimanya diri terhadap diri sendiri itu memang menakutkan. Untuk itulah memang harus mengenal diri sendiri sebelum membandingkan dengan orang lain. Sebab terlalu lancang membandingkan juga pasti hanya akan membuat lelah. Kenali diri dan perbaiki sambal jalan.

Tentang Menulis

Menggoreskan tinta di kertas adalah satu dari sekian banyak wujud seni. Seni apapun yang terlintas bagimu, namakan saja. Seni menyampaikan pikiran, seni berbicara tak berbunyi, seni menata pikiran, seni mengenal diri, dan lain sebagainya. Mendengar kata menulis, aku masih otomatis teringat tegak bersambung. Dulu, di Sekolah Dasar diajarkan bagaimana menulis tegak bersambung, di buku yang guruku sebut buku tegak bersambung dan sekarang juga disebut buku garis tiga. Aku tidak begitu suka dengan pelajaran menulis tegak bersambung dan diktenya, dulu. Terlebih memang karena merasa tulisanku tak pernah terlihat indah dalam konteks ini. Aku iri dengan ibu dan ayah yang tulisan tegak bersambungnya indah. “Halus, kasar. Halus kasar”, itu yang selalu diucapkan ayah jika mencontohkanku tulisan tegak bersambung. Tulisannya indah, hanya jika ia menulis tegak bersambung. Sekarang, setelah mencobai banyak jenis tulisan, aku merasa mempunyai dua gaya tulisan. Tegak bersambung dan tidak. Hanya tergantung pada mood saja. Sekarang, menulis tidak hanya terbatas saat memegang pena dan menggoresnya di kertas namun juga bisa dengan menarikan jemari di keyboard. Ya, ada keistimewaan masing-masingnya sebagaimana kita yang ada kekurangan dan kelebihannya.

Aku pertama kali menulis saat kelas enam SD. Memiliki buku harian pertama, buku bersampul kulit hitam. Amat elegan, aku suka. Buku itu buku agenda kadarluarsa yang tak kunjung di pakai Ibu, hingga aku masih ingat girangnya hati saat Ibu ijinkan itu untukku. Itu buku pertamaku yang setiap minggu pagi rutin ku tuliskan peristiwa apa yang berkesan diseminggu itu. Aku masih ingat, hampir tiap minggu menulis di atas bantal tidur. Kutulis tanggal dengan tinta merah dan narasinya dengan tinta hitam, kadang biru. Hanya sayang, buku itu tak kutemukan, setelah sadar ia tak kunjung kutemukan. Setelah beberapa waktu, aku tidak menulis karena ada sesuatu. Itu jugalah yang mengajarkanku untuk baik-baik menjaga barang, penyimpanan barang terkhusus buku. Seolah harta rahasia. Aku mulai menulis buku harian lagi saat kelas tiga SMP dan hingga sekarang, meski rutin dan terkadang tidak. Entah mengapa, sejak memiliki buku harian, aku terkadang merasa mulai mengetahui bahwa aku memiliki banyak sisi. Ada sisi diriku yang kubenci, ada sisi diriku yang kukagumi dan ada sisi diriku yang baru aku tahu ada. Awalnya cukup mengejutkan dan membuat tidak nyaman. Namun lama-kelamaan aku merasa mulai mengenal dan menerima diriku sebagaimana aku.

Menulis bagiku adalah seni mengenal diri, seni refleksi diri. Aku bukanlah tipe orang yang terbuka. Mungkin iya pada orang-orang tertentu, namun butuh waktu. Menulis membuatku merasa bahwa tak apa tak bisa mengungkapkan apa yang dirasa dan apa yang dipikirkan selantang orang-orang, selantang teman-temanku. Menulis, dengan itulah mungkin aku bisa. Tak apa juga jika taka da yang membaca, namun yang terpenting telah mengurainya Bersama diri sendiri. Jika ada masalah, saat menulis bahkan aku bisa menangis. Saat menulis, kadang tersadar jalan apa yang bisa kutempuh. Saat menulis, aku sadar bagaimana sisi baik dan buruk dalam diriku beradu. Dengan menulis, aku bisa mengabadikan sesuatu yang kadang mata dan kamera tak bisa. Kini saat aku ‘kurang kerjaan’ membaca buku harianku satu persatu, aku tersenyum bangga terkadang juga miris dengan bagaimana aku dahulu. Aku ingin, jika aku membaca buku harianku kelak, akan banyak hal yang disyukuri. Entah apapun itu. Setidaknya di semakin aku tumbuh, semakin banyak sudut pandangku melihat.

Menulis jugalah yang aku sarankan pada beberapa teman untuk mereka lakukan jika merasa sedih, tak berdaya. Sesungguhnya, entah apapun yang dirasakan entah apapun yang terjadi, menulislah. Namun tetap yang pertama adukan pada Yang Satu. Dalam proses menulis itu sendiri, InsyaaAllah akan ditemukan sendiri kenapa begini, apa yang kita inginkan sebenarnya, siapa yang disayangi, mana kita yang sesungguhnya. Aku menyarankan itu, karena aku telah mencobanya.