Jangan Bertanya Karena Kamu Tidak Sesederhana Itu

“Maafkanlah jika kamu pernah merasa tidak nyaman dengan kehadiranku. Maafkanlah juga jika tingkahku memperlakukanmu tidak seperti yang diharapkan. Setelah itu jika aku boleh berberita, kamu adalah salah satu orang yang tidak banyak alasan bagiku untuk tidak menyukai, ya itu tidak butuh waktu lama menyadarinya. Aku mendapatimu adalah orang yang bisa membaca apa yang ada, walau tidak seratus persen akurat mungkin. Ya, kamu orang yang demikian. Jadi saat kamu bisa mendengar bahkan saat aku tak berbunyi lalu untuk apa aku berbunyi? Sepertinya sebagian besar rahasiaku, terbaca olehmu. Tak mengapa. Menemukan seseorang yang bisa berkomunikasi dalam hening itu cukup menyenangan. Kamu seperti seorang teman lama yang belum aku kenal. Terima kasih banyak”.

Bersabab keinginan untuk selalu disukai, penilaian acapkali tidak objektif. Jikalau bisa menyingkirkan itu barangkali tidak akan ada yang merasa sakit di hati. Bukankah rasa tidak hanya perihal suka dan tidak suka? Banyak rasa yang lain, sangat banyak. Seumpama manis, asam, asin, pahit dan gurih yang bisa dikecap lidah. Jika bicara hati, bukankah ia lebih sensitif? Bukankah ia lebih perasa? Bukankah ia lebih kaya? Jadi jangan membatasi rasa hanya antara suka dan tidak. Hati manusia tidak sedangkal itu. Tidak semudah itu untuk mengartikan rasa dan menempatkannya hanya di antara suka dan tidak suka. Kamu tidak sesederhana itu. Ataupun jika kamu memang seorang yang sederhana, bagiku untuk mendeskripsikan, mengartikan dan mengkategorikanmu tidaklah sederhana, sangat tidak. Jadi jangan pernah minta untuk hanya sekedar disukai atau tidak disukai lagi.

Maafkanlah mereka yang pernah singgah hanya untuk melihat, untuk menilai, hanya untuk menertawakan, untuk menyakiti, meninggalkan luka yang selalu kamu coba darinya untuk sembuh, dan maafkanlah juga mereka yang meninggalkan kebencian di hatimu ataupun membuatmu rendah diri. Bukankah sesungguhnya mereka hadir untuk mengajarkanmu manisnya sabar, indahnya lapang dada dan nikmatnya memaafkan? Berterima kasih dan bersyukurlah kamu telah mengenal mereka. Itu pelajaran yang mahal, jadi balaslah dengan mendoakan kebaikan baginya.

Sebaliknya, mungkin ini tidak selalu tersadari olehmu. Sesering kamu merasa menemukan orang-orang yang meninggalkan bekas luka, pasti (Insya Allah) akan selalu ada orang yang tetap tinggal ataupun berpisah denganmu dan meninggalkan rasa yang lain. Orang-orang yang tulus menyukaimu, objektif menilaimu, jujur bersahabat denganmu,  dan ingin mengenalmu sebagai seorang manusia bukan sebagai ini itu yang berhubungan dengan status, pekerjaan, usia, tempat tinggal, suku, fisik, prestasi, siapa keluargamu, penilaian orang tentangmu, atau juga ia tidak bersikap padamu sebagai balasan atas sikapmu padanya. Bukan rasa sakit tapi rasa yang ingin kamu jaga dan rasakan lagi dan lagi. Bukan rasa pedih namun rasa yang membuatmu belajar menghargai kehadirannya dalam hidup. Bukan rasa yang kamu usahakan untuk sembuh. Bukan rasa yang akan menjatuhkan namun rasa yang membuatmu kuat. Bukan rasa yang membuat kamu hanya berkutat memikirkannya namun rasa yang membuatmu berpikir merefleksikan dan memperbaiki diri. Ya, akan ada orang yang akan meninggalkan rasa-rasa demikian. Sebagaimana tidak sesederhana mengkategorikan seseorang untuk disukai atau tidak disukai, mereka yang tetap tinggal atau berpisah darimu itu membuatmu merasakan rasa-rasa yang tidak sederhana.

Advertisements

Wahai Hati, Simpan Namanya

Dia itu pasti. Sesuatu yang tak terlihat namun memadati pikiran. Tidak bisa terucap jabaran rasa saat dia datang, namun bisa diperkirakan saat melihat dia datang pada yang lain. Dia suatu keniscayaan. Pasti akan menyapa siapapun tepat pada waktunya. Takut. Adalah sebagian besar kita terhadapnya. Menanti, ya barangkali sebagian kecil. Bagaimana tidak akan takut jika hanya dengan memikirkannya membuat ngeri? Bagaimana tidak akan takut jika hanya dengan memikirkannya terkadang kita turut mempertanyakan tujuan, jalan, akhir? Lalu muncul pertanyaan, “Bagaimana denganku nanti?”.

Dia suatu yang pasti. Pantas untuk ditakuti namun juga pantas untuk dinanti. Terlepas dari bagaimana penyikapan terhadapnya, ia pasti datang pada waktunya. Hanya masalah waktu. Selagi waktu itu belum datang, bertanyalah pada hati wahai diri, “Apa yang sudah ku lakukan untuk menghadapimu?”. Mungkin itulah salah satunya mengapa seorang yang mulia itu berpesan agar seringlah mengingat suatu yang pasti itu. Dia bisa menjadi pengingat yang sangat baik akan persiapan. Dia bisa menjadi pengingat tak terlihat akan hakikat penciptaan. Saat memikirkannya, akan terbedalah dalam diam yang sangat rahasia mana yang baik dan buruk, mana yang pantas dan tidak, mana yang menguntungkan dan sia-sia dari apa-apa yang dilakukan.

Wahai hati, engkau mungkin tahu siapa dia. Simpanlah namanya. Ingat dia, jikalau mulai lupa dengan hakikat hidup. Dia bukan untuk ditakuti sedemikian seramnya hingga membuat tak bisa bernapas. Dia sebuah kepastian yang sekarang tampak tanpa kepastian. Itulah mengapa sebelum dia menjadi kepastian, jangan lupakan dia dan berbenahlah.