Hujan

Hujan. Terlalu anggun untuk dibenci. Walaupun harus pontang panting mengangkat jemuran. Walaupun harus menunggu lama berteduh hingga reda, walaupun genangan air sana sini. 

Menyenangi hujan bukan karena saat ia turun turut serta membawa kenangan. Oh tentu bukan. Menyenangi hujan karena dia turun turut serta dengan alunan nada yang syahdu. Tenang menenangkan. Ia mengudarakan aroma tanah, rumput, jalanan dan kawan-kawannya. Aroma yang menenangkan. Aku menyukainya bukan karena kenangan, tapi karena dia menjadi salah satu waktu sabab diijabahnya do’a. Mataku senang melihatnya karena ia begitu memukau. Aku menyenanginya karena ia adalah hujan.

Tapi hujan acapkali membuatku galau. Mempertengkarkan antara ingin menikmatinya dan harus dewasa. Aku tahu berjalan di bawah hujan tanpa payung itu sangat menyenangkan, tapi ku juga tahu akan basah. Aku tahu menjentikkan kaki di genangan hujan itu seru, tapi ku juga tahu akan kotor. Aku paham saat berjalan di bawah hujan itu terasa seakan dunia milikmu, tapi ku juga tahu orang lain akan melihat. Tahu saat menikmati hujan itu aku akan merasa jadi yang paling bahagia tapi juga tahu aku bukan anak-anak lagi. Pada akhirnya pun acapkali ssesuatu dalam kepalaku berteriak, “Behave Sa!”. “Ok, fine!”, menggerutu.