Sumpitan Pertama

Sore itu, di luar hujan berangin. Ada parak batuang (bambu) di belakang rumah, jadi hembusan angin juga membuat mereka bersuara yang semakin membuat mata mengantuk. Tepat di hari Minggu. Hanya ada ibu, aku dan adik di rumah. Ibu, lalu memasak mi goreng dari dua bungkus mi favorit kami, mi Atom Bulan. Entah benar itu merk nya atau tidak, kami menyebutnya begitu. Dibandingkan dengan mi instan seperti Indomie, Gaga, atau Supermie benar mi Atom Bulan ini tidak lebih praktis. Hanya ibu saja, sekali lagi, hanya ibu saja yang bisa memasak mi jenis ini di rumah. Mi tak berbumbu, dari pabriknya memang hanya tok mi kering saja. Manalah tahu dan manalah mau repot aku dan adik yang merebus air dan menjarang nasi saja adalah prestasi terhebat dan hanya itu yang bisa kala itu. Jadi, akhirnya sore hujan berangin itu ibu masak mi. Aroma dan rasanya selalu sama, entah bagaimana. Hanya satu yang tak ku suka dari ibu jika masak mi. Perbandingan mi dan sayurnya, satu banding setengah. Untuk seorang yang tak terlalu suka, dan kalau bisa tidak makan sayur, memilahnya sebuah perjuangan sendiri. Terlebih, siapa cepat dia nambah. Agak sedikit menyakitkan. Hahahay.

sumpit_persegi

“Coba kali ini makan pakai sumpit”. “Gak bisa Bu”, kami serentak jawab. “Diajari”. Hmm, padahal nyaris mendarat di mulut. Ibu mencontohkan cara memegang sumpit. Di rumah ada dua pasang sumpit. Aku masih ingat, sumpit kayu hitam panjang yang tidak lagi mengkilat. Baru pertama kali, di usia segitu (8 tahun) aku melihat ibu lihainya memakai sumpit. Perempuan satu ini, memang tak pernah bisa kehilangan cara membuat ku kagum, walau dia tak menyadari. Tengah kami berdua berkali mencoba, kadang hanya dua untai yang masuk, ibu memindahkan mi beliau ke piring dan makan dengan garpu. Sesekali memberi arahan.

Hari itu, hari pertamaku dan adik makan dengan sumpit. Walau lama, tapi akhirnya bisa dan bahagia sekali rasanya. Tetap saja, kami makan lebih banyak dari ibu. Masih beliau sisakan banyak di kuali. “Latihan sampai bisa”, begitu kata beliau. Sekarang, saat aku makan mi ayam, mi rebus, atau apapun jika menggunakan sumpit, kenangan itu selalu terlintas. Aku masih ingat betul penampakan mi Atom Bulan saat ibu bilang, “lah masak”. Adukan terakhirnya ibu angkat dengan sanduak, dari mi goreng warna orange kemerahan itu mengepul asapnya ke langit-langit dapur. Aromanyapun aku masih ingat jelas. Sumpit hitam panjang itu, walau sudah dibuang dan sekarang entah dimana menjadi apa, masih ada di kenangan.

Sekarang, saat aku belajar tentang anak usia dini, memakai sumpit adalah salah satu cara untuk melatih keterampilan motorik halus. Sekali lagi, aku hanya kagum saja dengan ibu yang natural sekali caranya. Ibu. Bukankah menakjubkan saat masih diberi kesempatan memanggil seseorang, Ibu?

 

 

 

 

 

Gambar diambil dari rumahkerajinan.com