Hujan

Hujan. Terlalu anggun untuk dibenci. Walaupun harus pontang panting mengangkat jemuran. Walaupun harus menunggu lama berteduh hingga reda, walaupun genangan air sana sini. 

Menyenangi hujan bukan karena saat ia turun turut serta membawa kenangan. Oh tentu bukan. Menyenangi hujan karena dia turun turut serta dengan alunan nada yang syahdu. Tenang menenangkan. Ia mengudarakan aroma tanah, rumput, jalanan dan kawan-kawannya. Aroma yang menenangkan. Aku menyukainya bukan karena kenangan, tapi karena dia menjadi salah satu waktu sabab diijabahnya do’a. Mataku senang melihatnya karena ia begitu memukau. Aku menyenanginya karena ia adalah hujan.

Tapi hujan acapkali membuatku galau. Mempertengkarkan antara ingin menikmatinya dan harus dewasa. Aku tahu berjalan di bawah hujan tanpa payung itu sangat menyenangkan, tapi ku juga tahu akan basah. Aku tahu menjentikkan kaki di genangan hujan itu seru, tapi ku juga tahu akan kotor. Aku paham saat berjalan di bawah hujan itu terasa seakan dunia milikmu, tapi ku juga tahu orang lain akan melihat. Tahu saat menikmati hujan itu aku akan merasa jadi yang paling bahagia tapi juga tahu aku bukan anak-anak lagi. Pada akhirnya pun acapkali ssesuatu dalam kepalaku berteriak, “Behave Sa!”. “Ok, fine!”, menggerutu.

Advertisements

Jangan Bertanya Karena Kamu Tidak Sesederhana Itu

“Maafkanlah jika kamu pernah merasa tidak nyaman dengan kehadiranku. Maafkanlah juga jika tingkahku memperlakukanmu tidak seperti yang diharapkan. Setelah itu jika aku boleh berberita, kamu adalah salah satu orang yang tidak banyak alasan bagiku untuk tidak menyukai, ya itu tidak butuh waktu lama menyadarinya. Aku mendapatimu adalah orang yang bisa membaca apa yang ada, walau tidak seratus persen akurat mungkin. Ya, kamu orang yang demikian. Jadi saat kamu bisa mendengar bahkan saat aku tak berbunyi lalu untuk apa aku berbunyi? Sepertinya sebagian besar rahasiaku, terbaca olehmu. Tak mengapa. Menemukan seseorang yang bisa berkomunikasi dalam hening itu cukup menyenangan. Kamu seperti seorang teman lama yang belum aku kenal. Terima kasih banyak”.

Bersabab keinginan untuk selalu disukai, penilaian acapkali tidak objektif. Jikalau bisa menyingkirkan itu barangkali tidak akan ada yang merasa sakit di hati. Bukankah rasa tidak hanya perihal suka dan tidak suka? Banyak rasa yang lain, sangat banyak. Seumpama manis, asam, asin, pahit dan gurih yang bisa dikecap lidah. Jika bicara hati, bukankah ia lebih sensitif? Bukankah ia lebih perasa? Bukankah ia lebih kaya? Jadi jangan membatasi rasa hanya antara suka dan tidak. Hati manusia tidak sedangkal itu. Tidak semudah itu untuk mengartikan rasa dan menempatkannya hanya di antara suka dan tidak suka. Kamu tidak sesederhana itu. Ataupun jika kamu memang seorang yang sederhana, bagiku untuk mendeskripsikan, mengartikan dan mengkategorikanmu tidaklah sederhana, sangat tidak. Jadi jangan pernah minta untuk hanya sekedar disukai atau tidak disukai lagi.

Maafkanlah mereka yang pernah singgah hanya untuk melihat, untuk menilai, hanya untuk menertawakan, untuk menyakiti, meninggalkan luka yang selalu kamu coba darinya untuk sembuh, dan maafkanlah juga mereka yang meninggalkan kebencian di hatimu ataupun membuatmu rendah diri. Bukankah sesungguhnya mereka hadir untuk mengajarkanmu manisnya sabar, indahnya lapang dada dan nikmatnya memaafkan? Berterima kasih dan bersyukurlah kamu telah mengenal mereka. Itu pelajaran yang mahal, jadi balaslah dengan mendoakan kebaikan baginya.

Sebaliknya, mungkin ini tidak selalu tersadari olehmu. Sesering kamu merasa menemukan orang-orang yang meninggalkan bekas luka, pasti (Insya Allah) akan selalu ada orang yang tetap tinggal ataupun berpisah denganmu dan meninggalkan rasa yang lain. Orang-orang yang tulus menyukaimu, objektif menilaimu, jujur bersahabat denganmu,  dan ingin mengenalmu sebagai seorang manusia bukan sebagai ini itu yang berhubungan dengan status, pekerjaan, usia, tempat tinggal, suku, fisik, prestasi, siapa keluargamu, penilaian orang tentangmu, atau juga ia tidak bersikap padamu sebagai balasan atas sikapmu padanya. Bukan rasa sakit tapi rasa yang ingin kamu jaga dan rasakan lagi dan lagi. Bukan rasa pedih namun rasa yang membuatmu belajar menghargai kehadirannya dalam hidup. Bukan rasa yang kamu usahakan untuk sembuh. Bukan rasa yang akan menjatuhkan namun rasa yang membuatmu kuat. Bukan rasa yang membuat kamu hanya berkutat memikirkannya namun rasa yang membuatmu berpikir merefleksikan dan memperbaiki diri. Ya, akan ada orang yang akan meninggalkan rasa-rasa demikian. Sebagaimana tidak sesederhana mengkategorikan seseorang untuk disukai atau tidak disukai, mereka yang tetap tinggal atau berpisah darimu itu membuatmu merasakan rasa-rasa yang tidak sederhana.