Hanya (boleh) dengan Jujur

Jika kau datang hanya saat kau bisa, tak sama sekali bermasalah untukku. Jika kau bicara hanya saat kau ingin, itu juga tak masalah. Walaupun ini dan walaupun itu. Jika kau menatapku hanya saat kau mau, tak apa-apa. Bagiku, tidak akan masalah selama engkau melakukan apa yang ingin kau lakukan. Bagiku tak akan masalah sejauh kau tak apa-apa. Aku tak ingin menuntut, tak ingin memaksa, tak ingin membebanimu, maka jadilah dirimu sendiri. Hanya saja aku ingin kita melangkah ke yang lebih baik setiap waktunya, sambil tetap saling menggenggam. Kau takkan tahu betapa berharganya kamu bagiku. Aku sendiripun tak menemukan kata untuk membahasakan. Jangan menderita karenaku, jangan terluka karenaku, jangan. Kau boleh mencintaiku dan hanya boleh mencintaiku dengan jujur.  

Kawan, Seleksi Alam

Teman dan kawan. “Jan piliah-piliah kawan”. Nasihat ini kadang menjadi kalimat yang menarik saat muncul pertanyaan kenapa. Kenapa tidak boleh pilih-pilih teman? Bukankah pernah dikatakan bahwa teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi (Muhammad ﷺ, HR. Bukhari Muslim)?

Jawabannya untuk masing-masing kepala barangkali berbeda. Seberapa lama hidup adalah salah satu hal yang boleh dipertimbangkan menjadi pembedanya. Coba disandingkan antara seorang yang berusia 18 dengan yang berusia 51 tahun. Perjalanan waktu itu membedakan seluas apa lingkup pertemanan dan ujiannya. Jika boleh disimpulkan dari cerita-cerita yang terdengar, dari hal-hal yang terlihat dan terasa, teman dan kawan itu terbeda karena seleksi alam. Koreksi jika aku salah. Teman adalah teman, benar jika dikatakan tidak boleh pilih-pilih karena memang kita bisa berteman dengan siapa saja. Dan kawan adalah berawal dari teman yang telah terseleksi oleh alam tadi kemudian kita dapati mereka masih ada. Aku pribadi merasa ada jarak jika mendengar teman. Pemaknaan kata ini entah terpengaruh oleh bahasa ibu atau tidak, entahlah. Kawan ini pada masing-masing barangkali juga berbeda sebutannya, sahabat? Saudara? Semoga kamu tidak mempermasalahkan penamaannya, jika paham apa yang dimaksud.

Untukmu yang telah ditempatkan dan menempatkan seseorang sebagai kawan tentu ‘aib’ adalah sesuatu yang tidak asing. Baik aibmu baginya dan sebaliknya. Begitu juga dengan nasihat. Haru rasanya jika mendapati seseorang yang demikian, bukankah itu sebuah rahmat? Saat kamu salah dan ia tahu, ia berani menyampaikannya padamu dengan cara dan maksud yang baik. Dan kamupun tahu itu semua adalah untukmu. Benar, tidak semua orang mau dan tidak semua orang juga berani melakukan itu jika mendapati ada yang salah dengan kelakuanmu. Dan satu lagi, setelah memberimu nasihat, kawanmu itu tidak lantas mampu membisikan apa yang didapatinya darimu tadi pada sebuah telingga. Maksudku sebuah adalah satu telingga, hanya sebelah. Jangankan sepasang, sebelah saja dia tidak akan mampu. Sekalipun ia mampu, ia tidak akan mau. Jangankan dia umumkan, sepasang telingga saja tak ia bisikan. Yang demikian itulah yang sepantasnya kamu hargai, kamu syukuri dan kamu jaga. Bukankah ia telah menjadikan dirinya ibarat cermin untukmu? “Seorang mukmin itu adalah cermin bagi saudaranya. Apabila kamu melihat padanya, maka dia akan menyampaikannya padamu” (Muhammad ﷺ).

Layaknya saat aku bercermin dan melihat di sana ada yang kurang suai atau cela dengan penampilaku, segera ku perbaiki lalu  meninggalkannya. Apa yang tadi kulihat adalah sebagaimana adanya diriku, si cermin tidak menambah atau menguranginya. Setelah pergi, tidak ada tertinggal penampilanku yang kurang suai tadi hingga orang lain tidak bisa melihatnya. Penampilan yang kurang suai tadi hanya antara si cermin dan aku. Aku dengan penampilan yang kurang suai tadi tidak lantas membuatnya menjauh, namun ia sampaikan padaku apa adanya agar aku bisa memperbaiki diri. Kawan yang demikian, sungguh-sungguh pantas untuk disyukuri, sungguh-sungguh pantas lulus seleksi alam.